Mitos Sendang Made Jombang, Tradisi Berendam yang Dipercaya Menyehatkan

Mitos Sendang Made Jombang, Tradisi Berendam yang Dipercaya Menyehatkan

Muhammad Faishal Haq - detikJatim
Senin, 26 Jan 2026 01:00 WIB
Mitos Sendang Made Jombang, Tradisi Berendam yang Dipercaya Menyehatkan
Sendang Made Jombang. Foto: Enggran Eko Budianto
Jombang -

Kabupaten Jombang tidak hanya dikenal sebagai Kota Santri. Wilayah ini ternyata menyimpan jejak sejarah penting terkait salah satu raja besar di Nusantara, yaitu Prabu Airlangga. Salah satu peninggalan yang masih lestari hingga kini adalah Sendang Made.

Situs ini terletak di lereng Pegunungan Kendeng, tepatnya Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. Berjarak sekitar 20 km dari pusat kota, Sendang Made menawarkan perpaduan wisata sejarah dan legenda yang kuat.

Legenda Awal Mula Sendang Made

Konon, Sendang Made bukan sekadar mata air biasa. Legenda setempat menyebutkan bahwa sendang ini terbentuk saat masa pelarian Prabu Airlangga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari jurnal berjudul "Legenda Sendang Made Desa Made Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang" yang ditulis Mahfud Fendy, kisah bermula ketika kerajaan Dharmawangsa Teguh (paman sekaligus mertua Airlangga) diserang Kerajaan Wora-Wari yang bersekutu dengan Sriwijaya.

Sendang Made Cerita Pelarian Raja Airlangga jadi destinasi wisata di Kabupaten JombangPintu Masuk Sendang Made Foto: Enggran Eko Budianto

Serangan besar itu membuat kerajaan runtuh dan menewaskan Raja Dharmawangsa. Airlangga bersama istri, dayang, dan patih setianya, Narottama, terpaksa melarikan diri ke hutan demi menyelamatkan diri.

ADVERTISEMENT

Rute pelarian mereka cukup panjang, mulai dari Wonogiri, melewati Gunung Klotok, Gunung Wilis, hingga akhirnya menetap di Gunung Pucangan. Di kawasan Gunung Pucangan inilah Airlangga disebut menetap selama tiga tahun.

Sambil menyamar dan bertapa untuk menyusun kekuatan merebut kembali kerajaannya, Airlangga membuat sendang untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari rombongannya.

Sendang Made Cerita Pelarian Raja Airlangga jadi destinasi wisata di Kabupaten JombangSendang Made Cerita Pelarian Raja Airlangga jadi destinasi wisata di Kabupaten Jombang Foto: Enggran Eko Budianto

Setelah berhasil mendirikan Kerajaan Kahuripan, Airlangga tidak melupakan tempat persembunyiannya itu. Ia kembali ke Gunung Pucangan dan mengeluarkan prasasti sebagai tanda pembebasan pajak daerah tersebut. Salah satunya tercatat dalam Prasasti Munggut bertarikh 944 Saka.

Kompleks dan Mitos Sendang Made

Saat ini, Sendang Made menjadi destinasi wisata budaya andalan di Kecamatan Kudu. Di kompleks petilasan ini, pengunjung bisa melihat beberapa kolam atau sendang.

Sendang Made Cerita Pelarian Raja Airlangga jadi destinasi wisata di Kabupaten JombangSalah satu bagian Sendang Made Foto: Enggran Eko Budianto

Sendang utamanya bernama Sendang Gede dengan ukuran sekitar 8 x 11 meter. Selain itu, terdapat beberapa sendang lain yang ukurannya lebih kecil dan memiliki nama unik sesuai peruntukannya, antara lain sebagai berikut.

  • Sendang Payung
  • Sendang Padusan
  • Sendang Sinden
  • Sendang Omben
  • Sendang Drajat

Daya tarik Sendang Made tak lepas dari kepercayaan masyarakat setempat yang masih dijaga turun-temurun. Menurut Juru Kunci Sendang Made, Mbah Supono, warga percaya bahwa situs ini memiliki nilai sakral.

Salah satu kepercayaan yang populer adalah khasiat air Sendang Made. Banyak yang meyakini air dari sendang ini bisa digunakan sebagai sarana pengobatan hingga membuat masakan menjadi lebih lezat.

Namun, ada pantangan keras yang wajib dipatuhi pengunjung. Siapapun dilarang mengambil ikan yang hidup di dalam sendang.

Mitos yang beredar menyebutkan bahwa mengambil ikan di sana bisa mendatangkan musibah atau bencana. Demi menjaga kelestarian situs ini, warga Desa Made rutin menggelar tradisi bersih desa atau "kuras sendang" setiap tahunnya.

Bagi wisatawan yang tertarik menelusuri jejak sejarah Airlangga ini, Sendang Made buka setiap hari selama 24 jam. Lokasinya pun berdampingan dengan Makam Desa Made. Menariknya, pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk alias gratis untuk menikmati suasana asri dan nilai sejarah di tempat ini.

Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads