Sejarah Panjang Seni Janger Banyuwangi yang Terus Bertransformasi

Sejarah Panjang Seni Janger Banyuwangi yang Terus Bertransformasi

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Sabtu, 29 Nov 2025 17:20 WIB
Seniman dari Sekaa Janger Kedaton, Desa Sumerta Kelod, Denpasar menampilkan Tari Janger berjudul
Ilustrasi Tari Janger. Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Banyuwangi -

Banyuwangi dikenal sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan seni pertunjukan. Salah satu kesenian yang tetap hidup hingga kini adalah seni Janger, pertunjukan dramatari yang memadukan unsur musik, tari, dan lakon dalam satu panggung.

Sejak lama, Janger menjadi bagian penting dari budaya Banyuwangi, bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai cerminan identitas masyarakat Using. Diiringi gamelan khas Banyuwangi, kesenian ini tumbuh sebagai ruang ekspresi yang dinamis dan memikat.

Janger mampu mengikuti perubahan zaman. Kini, Janger tidak lagi sebatas hiburan rakyat, tetapi telah berkembang menjadi sajian budaya yang kerap tampil dalam berbagai acara resmi di Banyuwangi. Meski terus bertransformasi, karakter dan kekhasannya tetap terjaga sebagai warisan seni yang membanggakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asal-usul Seni Janger Banyuwangi

Mengutip dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, kesenian Janger dikenal unik karena menggabungkan gaya seni pertunjukan Jawa dan Bali. Istilah "Janger" juga disebut sebagai Damarwulan, merujuk pada lakon yang sering ditampilkan dalam kronik kehidupan tokoh Damarwulan.

Awalnya, perkembangan Janger selalu dihubungkan dengan kisah-kisah tersebut sehingga nama Damarwulan dan Janger kerap digunakan bergantian. Sejarah perkembangan Janger terbagi menjadi tiga fase utama sebagai berikut.

ADVERTISEMENT
  • Fase pertama muncul pada dekade kedua abad ke-20 hingga masa perang kemerdekaan. Pada periode ini, kesenian Ande-ande Lumut mulai mengalami perubahan bentuk menuju seni Janger.
  • Fase kedua, antara tahun 1945-1965, ditandai dengan masuknya nuansa politik dalam pertunjukan Janger.
  • Sementara fase ketiga, dimulai sejak tahun 1970-an hingga sekarang, menunjukkan penguatan fungsi Janger sebagai sarana hiburan masyarakat.

Melansir dari jurnal Kesenian Tradisional Janger Banyuwangi: Akulturasi Budaya Using, Jawa, dan Bali (1920-2014) karya Sugiyanto dkk, seni Janger berasal dari sebuah paguyuban bernama KARS (Karep Adadeake Rukun Santoso).

Paguyuban ini anggotanya merupakan para pelaku seni yang aktif sejak tahun 1920. Sang pencipta kesenian ini adalah Mbah Dardji, seorang seniman sekaligus pedagang sapi yang sering melakukan perjalanan Banyuwangi-Bali.

Perjalanan KARS dan Lahirnya Seni Janger

Perkembangan kesenian KARS dimulai ketika Mbah Dardji diajak temannya menyaksikan Arja, salah satu teater tradisional Bali. Dari pengalaman itu, lahirlah ide untuk mengembangkan kesenian Ande-ande Lumut menjadi bentuk dramatari yang mengadopsi unsur kesenian langendriya, yaitu seni teater musik dari Yogyakarta.

Utsawa (Parade) Janger Tari Tradisi Duta Kota Denpasar dari Sekaa Teruna Dharma Laksana, Banjar Kaja, Desa Adat Panjer, Denpasar yang mengisi Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022Ilustrasi Tari Janger Foto: ist

Awalnya, KARS hanyalah paguyuban yang bertujuan membentuk kerukunan warga. Namun seiring waktu, nama KARS justru lebih dikenal sebagai sebuah grup kesenian. Latihan dilakukan di rumah Mbah Dardji di Desa Singonegaran bersama puluhan warga sekitar.

Bentuk awal Janger tergolong sederhana, tetapi sudah memadukan unsur seni tari, drama, dan musik. Hubungan antara Janger dan langendriya juga muncul dari keterlibatan masyarakat Mataram yang tinggal di Banyuwangi pada masa VOC.

Dari perpindahan budaya inilah kisah Damarwulan menyebar ke wilayah pesisir dan populer dalam bentuk wayang krucil. Hal ini kemudian memperkuat karakter Janger yang mengadopsi cerita-cerita tradisi Jawa, sekaligus memadukannya dengan gaya Using dan Bali.

Masa Keemasan Janger

Pada tahun 1930, KARS diundang tampil di Pendopo Kawedanan Banyuwangi, membawakan kisah Bhre Wirabhumi menggugat Majapahit. Pementasan tersebut disaksikan oleh pejabat Belanda dan masyarakat pribumi.

Sebelum kemerdekaan, Janger tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sarana kritik sosial terhadap pemerintah kolonial. Masih pada tahun yang sama, tepatnya 30 Agustus 1930, pemerintah Belanda kembali mengundang KARS untuk tampil dalam perayaan hari lahir Ratu Wilhelmina.

Pada kesempatan itu, KARS membawakan kisah Damarwulan. Sejak saat itu, Janger semakin populer dan digemari masyarakat Banyuwangi. Lambat laun, kesenian ini dikenal dengan nama Jinggoan atau Damarwulan, sebelum akhirnya semakin mantap dengan sebutan Janger.

Pengaruh budaya Bali semakin terlihat dalam perkembangan berikutnya, seperti penggunaan busana Bali, instrumen Gong Gebyar, hingga unsur sesaji. Kesenian Janger berkembang pesat di berbagai kecamatan seperti Rogojampi, Srono, Genteng, Gambiran, dan wilayah lainnya.

Karakter Penting dalam Seni Janger

Dalam pertunjukan Janger, setiap tokoh memiliki peran yang saling melengkapi untuk membangun alur cerita dan suasana panggung. Tokoh-tokoh ini menjadi ikon dalam berbagai lakon yang dipentaskan hingga kini.

  • Cinde Laras
  • Minakjinggo Mati
  • Damarwulan Ngenger
  • Damarwulan Ngarit
  • Sri Tanjung

Ciri Khas Seni Janger Banyuwangi

Seni Janger Banyuwangi memiliki kekhasan yang membedakannya dari Janger daerah lain. Keunikan inilah yang menjadikan Janger Banyuwangi tetap bertahan sebagai identitas budaya masyarakat setempat.

  • Menggunakan campuran bahasa Jawa dan Using
  • Mengusung musik pengiring tradisional Bali dan Using yang dipadukan dengan gamelan Jawa
  • Memakai busana pertunjukan perpaduan Bali dan Jawa
  • Koreografi tari memadukan unsur budaya Bali dan Jawa

Manfaat Seni Janger bagi Masyarakat

Seni Janger memiliki sejumlah manfaat penting bagi masyarakat yang menontonnya maupun yang terlibat di dalamnya. Dalam setiap pertunjukan, Janger kerap menyampaikan pesan-pesan keteladanan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Cerita yang diangkat biasanya merefleksikan realitas sosial, mulai dari hubungan antarmanusia, persoalan moral, hingga dinamika kemasyarakatan. Selain menjadi sarana hiburan yang meriah, Janger juga berfungsi sebagai wadah pelestarian budaya, menjaga tradisi agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.

Di dalam Janger terkandung berbagai nilai luhur yang menjadi pedoman hidup. Nilai budi pekerti diajarkan melalui karakter-karakter yang menjunjung kejujuran, kesabaran, dan kebaikan. Sikap kepahlawanan tercermin lewat tokoh-tokoh yang berani membela kebenaran dan menolong sesama.

Sementara itu, etika bermasyarakat diperlihatkan melalui adegan-adegan yang menekankan pentingnya saling menghormati, gotong royong, dan menjaga keharmonisan. Semua unsur ini menjadikan Seni Janger bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan bagi masyarakat.

Seni Janger bukan hanya pertunjukan estetis, tetapi juga warisan budaya yang merekam perjalanan sejarah Banyuwangi. Dari masa kolonial hingga era modern, Janger terus hidup, berkembang, dan menjadi identitas kultural masyarakat yang menawan.

Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(ihc/irb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads