Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Jawa Timur tak sekadar diisi doa dan selawat, tetapi juga diramaikan dengan beragam tradisi khas yang diwariskan turun-temurun. Setiap daerah memiliki cara unik mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah, dari arak-arakan telur hias, rebutan koin, hingga ritual siraman pusaka.
Tradisi-tradisi ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan warga, melestarikan kearifan lokal, serta mengingatkan generasi muda untuk meneladani akhlak Nabi.
Dari Surabaya hingga Madura, dari Banyuwangi hingga Kediri, gema peringatan Maulid hadir dengan warna budaya yang berbeda namun bermakna sama, yaitu cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi Maulid Nabi di Jawa Timur
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di berbagai daerah di Jawa Timur berlangsung meriah sekaligus sarat makna. Setiap wilayah memiliki tradisi khas yang diwariskan turun-temurun, mulai dari pawai, rebutan hasil bumi, hingga pembacaan barzanji dan sedekah bersama.
Selain menjadi wujud kecintaan kepada Nabi, ragam tradisi ini juga memperkuat kebersamaan, menjaga kearifan lokal, dan mengingatkan generasi muda akan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW. Berikut berbagai tradisi Maulid Nabi di Jawa Timur.
1. Pawai Maulid Nabi di Surabaya
Di Surabaya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diramaikan dengan pawai religi yang digelar warga, salah satunya di Kelurahan Karah, Kecamatan Jambangan. Iring-iringan warga dimulai dari halaman Balai Kelurahan, menyusuri gang dan jalan kampung, lalu berakhir di Sentra PKL Karah.
Di lokasi finis, masyarakat disuguhi pagelaran kesenian bernuansa Islami, seperti musik hadrah dan lantunan selawat, sebagai bentuk ekspresi cinta sekaligus penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
2. Tradisi Keresen di Mojokerto
Di Mojokerto, peringatan Maulid Nabi dimeriahkan tradisi Keresen, menghias pohon kersen dengan menggantung beragam hasil bumi, buah-buahan, hingga kerajinan tangann. Pohon kersen dipilih karena memiliki banyak akar dan cabang, melambangkan muslim yang senantiasa berpegang teguh pada ajaran Rasulullah SAW.
Selain sebagai simbol kebersamaan, tradisi ini juga menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas kehadiran Nabi SAW sebagai penerang dan pembawa petunjuk bagi umat manusia. Usai prosesi, warga berebut hasil bumi dan barang yang digantung, dengan harapan mendapatkan berkah pada peringatan kelahiran Rasulullah.
3. Endog-endogan di Banyuwangi
Di Banyuwangi, "Endog-endogan" menjadi ciri khas Maulid Nabi. Dalam tradisi ini, telur yang dihias warna-warni ditancapkan pada batang pisang atau jodhang yang juga dipercantik berbagai ornamen. Telur melambangkan kelahiran dan kehidupan baru, sedangkan jodhang perjalanan manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam.
Arak-arakan Endog-endogan biasanya diiringi lantunan selawat, pembacaan barzanji, dan doa bersama. Setelah prosesi selesai, telur-telur hias dibagikan kepada warga sebagai simbol berkah dan kebersamaan dalam merayakan kelahiran Rasulullah SAW.
4. Rebu'en di Probolinggo
Warga Desa Sologodek, Probolinggo, mengadakan tradisi Rebu'en di mana berbagai bahan makanan dan perlengkapan salat digantung di langit-langit musala atau masjid. Setelah pembacaan selawat, warga berebut barang-barang tersebut dalam semangat kekompakan dan gotong royong.
5. Muludhen di Madura
Di Madura, tradisi Muludhen menjadi bagian utama dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Perayaan ini diawali dengan pembacaan barzanji yang mengisahkan riwayat hidup Nabi, diselingi ceramah keagamaan yang menekankan keteladanan akhlak Rasulullah sebagai pegangan hidup umat Islam.
Remaja hingga ibu-ibu datang ke masjid atau musala membawa nasi tumpeng lengkap dengan aneka buah. Setelah dibacakan doa, seluruh sajian dinikmati bersama sebagai wujud syukur, kebersamaan, dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
6. Sebar Udikan di Madiun
Tradisi Sebar Udikan di Desa Kedondong (Madiun) melibatkan perayaan dengan cara melempar koin kepada warga-anak-anak dan dewasa memperebutkan uang koin yang disebar. Hal ini dianggap sebagai bentuk sedekah yang ceria sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan dan keceriaan dalam menyambut Maulid SAW.
7. Rebutan Koin di Kediri
Di Kediri, tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang masih lestari adalah rebutan koin di Masjid Wakaf Jamsaren. Usai salat Isya berjamaah, takmir bersama jamaah melemparkan uang koin dengan berbagai pecahan, mulai dari Rp100 hingga Rp20 ribu, yang diperebutkan anak-anak maupun orang dewasa.
Tradisi yang sudah berlangsung sejak 1908 ini bukan sekadar memeriahkan peringatan Maulid, tetapi juga menjadi sarana mengajak anak-anak untuk rajin beribadah ke masjid serta menumbuhkan kebiasaan berbagi melalui sedekah.
8. Siraman Pusaka Gong Kyai Pradah di Blitar
Di Blitar, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga diramaikan dengan tradisi unik bernama Siraman Pusaka Gong Kyai Pradah. Setiap tahun, gong pusaka ini dimandikan dengan air bunga sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya pelestarian peninggalan sejarah.
Air bekas siraman gong dipercaya membawa ketentraman batin dan diyakini mampu menyembuhkan penyakit. Tradisi ini berakar dari legenda Pangeran Prabu yang mengajarkan pentingnya ritual penyucian sebagai simbol hidup bersih, tenteram, dan penuh berkah.
Semua tradisi ini menampilkan perayaan kelahiran Nabi SAW dengan penuh kegembiraan, sambil sekaligus mengingatkan nilai-nilai luhur seperti keimanan, keikhlasan, kepedulian, dan kebersamaan. Dari telur hingga koin, semua simbol tersebut mengandung makna spiritual dan sosial yang tetap relevan lintas generasi.
(auh/irb)