Perahu Ijon-ijon Lamongan Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Perahu Ijon-ijon Lamongan Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Eko Sudjarwo - detikJatim
Jumat, 30 Sep 2022 22:29 WIB
Perahu Ijon-ijon Desa Kandang Semangkon, Paciran, Lamongan
Penetapan prahu Ijon-ijon asal Desa Kandang Semangkon, Paciran, Lamongan sebagai warisan budaya tak benda secara daring (Foto: Eko Sudjarwo/detikJatim)
Lamongan -

Perahu Ijon-ijon asal Lamongan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Perahu tersebut ditetapkan dalam kategori kemahiran dan kerajinan tradisional.

Penetapan perahu tradisional Ijon-ijon sebagai warisan budaya tak benda itu dilakukan secara daring oleh Kemendikbudristek melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan, Jumat (30/9/2022).

"Hari ini Perahu Ijon-ijon telah ditetapkan menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi untuk domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional," kata Kepala Disparbud Lamongan Siti Rubikah kepada detikJatim, Jumat (30/9/2022).

Perahu tradisional Ijon-Ijon, lanjut Rubikah, merupakan karya kemahiran tradisional masyarakat Desa Kandangsemangkon, Kecamatan Paciran. Perahu yang dibuat dinilai memiliki keunikan dan kearifan tersendiri dibandingkan perahu-perahu karya nelayan tradisional lain di Indonesia.

Keunikan tersebut, antara lain pembuatan kapal yang menggunakan pola pembuatan papan lambung terlebih dahulu daripada rangka dalamnya. Ini berbeda dengan teknologi pembuatan kapal lainnya.

Perahu Ijon-ijon Desa Kandang Semangkon, Paciran, LamonganMiniatur perahu Ijon-ijon Desa Kandang Semangkon, Paciran, Lamongan (Foto: Eko Sudjarwo/detikJatim)

"Model atau bentuk kapal Ijon-ijon ini juga berbeda dengan kapal lain. Beberapa bentuk yang berbeda tersebut diantaranya adalah bagian linggi tumpul atau papak, sementara bagian lambung lebih gemuk, yang oleh masyarakat sekitar diistilahkan sebagai perahu wedok yang diwujudkan dalam simbol topeng, mata, alis, sanggul, mahkota dan bunga pada lukisan badan kapal," ungkapnya.

Lebih jauh, Rubikah menjelaskan penyebutan ijon-ijon sendiri didasarkan pada fungsi dari perahu ini pada masa lalu, yaitu sebagai perahu penampung ikan dari hasil tangkapan nelayan di tengah laut atau semacam sistem jual/beli ijon dalam pola perdagangan.

Saat ini, lanjut Rubikah, fungsi perahu telah mengalami perubahan, yaitu juga digunakan sebagai perahu penangkap ikan secara langsung. "Untuk saat ini, perahu Ijon-ijon bukan hanya sebagai penampung tangkapan di tengah laut saja tapi juga berfungsi sebagai perahu penangkap ikan," ujarnya.

Sementara, Kepala Desa Kandangsemangkon, Agus Mulyono menyambut gembira penetapan perahu tradisional Ijon-ijon sebagai warisan budaya tak benda. Agus menyatakan selama ini telah mengambil langkah untuk melestarikan perahu tradisional ini.

"Dalam usaha melestarikan perahu ijon-ijon ini telah dilakukan beberapa hal, di antaranya adalah lomba pembuatan miniatur perahu ijon-ijon, serta lomba desain motif perahu ijon-ijon untuk pelajar," jelas Agus.

Ditetapkannya perahu tradisional Ijon-ijon sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbud Ristek ini melengkapi penetapan warisan budaya tak benda lainnya dari Lamongan sebelumnya. Tahun 2021 lalu, Lamongan juga telah berhasil menetapkan Adat Istiadat, Ritus dan Perayaan Upacara Mendhak Sangring dari Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang.

Lamongan sendiri saat ini masih mengajukan sejumlah warisan budaya lainnya. Beberapa warisan budaya Lamongan yang sudah diajukan tersebut di antaranya kesenian Jaran Jenggo, makanan khas Sego Boran, Cerita Rakyat Panji Laras Liris, dan Upacara Adat Pengantin Bekasri.



Simak Video "Yogyakarta Kini Punya 26 Warisan Budaya Tak Benda Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(abq/iwd)