Dorong Pengakuan Unesco, Kampus Banyuwangi Tetapkan Selasa Hari Berkebaya

Ardian Fanani - detikJatim
Rabu, 10 Agu 2022 04:03 WIB
Selasa berkebaya di Kampus Untag Banyuwangi
Selasa berkebaya di Kampus Untag Banyuwangi. (Foto: Ardian Fanani/detikJatim)
Banyuwangi -

Kampanye sebagai bentuk dukungan Kebaya Goes to UNESCO terus berdatangan dari banyak pihak. Di Banyuwangi, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi turut mendorong agar kebaya terdaftar sebagai warisan budaya tak benda asal Indonesia.

Dukungan agar Kebaya Goes to UNESCO itu diwujudkan Untag Banyuwangi melalui berbagai program menarik dengan mengusung tema "Untag Banyuwangi Bangga Berkebaya" di halaman kampus Merah Putih, Selasa (9/8/2022). Ada juga beragam program kegiatan bernuansa kebaya yang akan dimeriahkan hingga Desember nanti.

Rektor Untag Banyuwangi Andang Subaharianto mengatakan gerakan bangga berkebaya terus digaungkan sebagai bentuk dukungan agar kebaya diakui UNESCO jadi warisan budaya Indonesia yang sudah ada sejak dulu.

Ia pun menilai melestarikan kebaya bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari. Karena itu, sebagai bentuk kecintaan, Untag Banyuwangi telah menetapkan setiap hari Selasa perempuan civitas akademika Untag Banyuwangi akan memakai kebaya.

Sementara untuk pria, setiap hari Selasa itu disarankan menggunakan batik dan memakai udeng. Sebab, kata Andang, udeng merupakan identitas khas Banyuwangi.

"Kebaya ini masih kami wajibkan untuk dosen dan karyawan, sedangkan bagi mahasiswa hanya sebatas imbauan. Ini adalah upaya kami mendukung Kebaya Goes to UNESCO. Karena sudah saatnya dunia mengakui kebaya sebagai warisan budaya Indonesia," ucap Andang.

Hari pertama peluncuran Untag Banyuwangi Bangga Berkebaya itu diisi kegiatan Podcast Perempuan Berkebaya, Kebaya Fashion on the Street, hingga Kebaya Selfi. Mahasiswa pilihan Untag Banyuwangi pun secara antusias memamerkan warna-warni kebaya, baik yang dikenakan secara pakem klasik maupun modern.

Kegiatan berikutnya akan digelar secara bertahap setiap bulan sekali bertepatan pada tanggal 9. Mulai pada 9 September hingga 9 Desember 2022. Setiap rangkaian kegiatan mulai dari Kebaya Fashion Competition hingga ditutup dengan acara Podcast Kebaya Banyuwangi.

Andang yakin melalui dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia, salah satunya seperti yang telah dilakukan Untag Banyuwangi, kebaya bisa diakui sebagai warisan budaya tak benda UNESCO.

"Selain itu, semangat ini saya rasa juga menjadi momen tepat karena mendekati perayaan Hari Kemerdekaan ke-77 Republik Indonesia. Kami senantiasa memberikan support penuh kepada pemerintah dalam rangka membawa kebaya agar diakui warisan budaya tak benda khas bangsa Indonesia, terutama untuk kaum perempuan," kata Andang.

Selain itu, lanjutnya, kebaya juga membuka tantangan kreativitas masyarakat Indonesia di masa yang akan datang. Ia beranggapan melalui kebaya akan bisa lebih menghidupkan industri kreatif masyarakat Indonesia.

"Kemudian ujung dari sana adalah kesejahteraan rakyat Indonesia yang menjadi nilai utama dalam kemerdekaan Republik Indonesia," tandas Andang.

Wakil Rektor 1 Untag Banyuwangi Yovita Vivianti Atmadjaja menambahkan bahwa kebaya merupakan kostum yang fashionable. Kebaya tak hanya baju kondangan resepsi pernikahan ataupun kegiatan adat, namun juga bisa digunakan untuk kegiatan sehari-hari.

"Sejak lama saya kampanye jika kebaya tak hanya digunakan untuk kondangan. Saya setiap Selasa selalu menggunakan kebaya saat mengajar," ujarnya.

Kebaya tak hanya harus menggunakan sewek atau jarit. Bisa dikombinasikan dengan jeans ataupun yang lain.

"Tentu ini menjadi penggerak kampanye baru dalam upaya mendukung penetapan Unesco kebaya dari Indonesia," pungkasnya.



Simak Video "Arti Kebaya di Mata Dian Sastrowardoyo"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/iwd)