Tahukah Kamu? Ada Tiga Pertempuran di Surabaya Tahun 1945

Tim detikJatim - detikJatim
Jumat, 04 Mar 2022 14:09 WIB
taman tugu pahlawan surabaya
Tugu Pahlawan/Foto: Tedi Permana/dTraveler
Surabaya -

Kota Surabaya pada tahun 1945 pernah mengalami sejumlah pertempuran. Puncak pertempuran Surabaya ini terjadi pada 10 November 1945. Namun sebelum pecah, beberapa pertempuran-pertempuran kecil meletus antara arek-arek Suroboyo dengan tentara Inggris.

Ada 3 pertempuran penting yang tercatat dalam sejarah dan terjadi di Surabaya pada tahun 1945. Pertempuran ini kemudian memantik perang yang lebih besar pada 10 November 1945.

Berikut 3 pertempuran yang pernah antara arek-arek Suroboyo melawan sekutu/Inggris:

1. Pertempuran 3 Hari

Pertempuran ini terjadi setelah tentara sekutu di bawah pimpinan Inggris mendarat di Tanjung Perak pada tanggal 25 Oktober 1945. Kedatangan sekutu ini mempunyai misi utama melucuti tentara Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II.

Namun kedatangannya sekutu untuk melucuti tentara Jepang hanya isapan jempol belaka. Sebab beberapa hari setelah mendarat, sekutu ternyata memasuki penjara Kalisosok dan memaksa membebaskan tahanan interniran Belanda.

Pada tanggal 27 Oktober 1945, sebuah pesawat militer dari Jakarta terbang di langit Surabaya menyebarkan ribuan pamflet. Isinya yakni sekutu akan menguasai Surabaya, lalu rakyat yang membawa senjata harus diserahkan dalam waktu 48 jam atau akan ditembak mati.

Hal ini membuat marah rakyat Surabaya dan membuat kontak senjata antara arek-arek Suroboyo dan sekutu. Kontak senjata ini semakin meluas hingga terjadi selama 2 hari hingga membuat sekutu terjepit serta hampir terbunuh seluruhnya.

M.C Ricklefs dalam "Sejarah Indonesia Modern 1200-2008" menjelaskan posisi pemuda Surabaya saat itu kuat karena unggul jumlah. Tak hanya itu mereka juga didukung dan disuplai senjata Jepang yang telah menyatakan kalah perang.

Ricklefs memaparkan saat mendarat di Surabaya, sekutu berjumlah sekitar 6000 tentara dari Divisi ke-5, Brigade 49 di bawah pimpinan Brigjen AWS Mallaby. Sedangkan pemuda Surabaya yakni antara 10-20 ribu anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) serta 70-140 ribu milisi dari rakyat kampung.

"Surabaya menjadi ajang pertempuran yang paling hebat selama revolusi, sehingga menjadi lambang perlawanan nasional. panglima senior Jepang di sana, Laksamana Madya Shibata Yaichiro memihak republik dan membuka pintu gudang persenjataan Jepang kepada orang-orang Indonesia

Sadar kian terjepit dan terpojok, Sekutu kemudian meminta Soekarno-Hatta di Jakarta untuk meminta penghentian pertempuran ini. Tanggal 30 Oktober 1945, Dwitunggal itu kemudian datang ke Surabaya untuk menetapkan gencatan senjata.

2. Pertempuran Jembatan Merah

Gencatan senjata antara arek-arek Suroboyo dan sekutu tak berlangsung lama. Sebab pertempuran kembali pecah di sekitar Jembatan Merah atau di depan halaman Gedung Internatio pada tanggal 30 Oktober 1945 sore.

Saat itu, tembak menembak terjadi antara sekutu dan arek-arek Suroboyo. Ini terjadi saat proses perundingan gencatan senjata tengah dilakukan di Gedung Internatio. Tak jelas siapa yang memulai tembakan pada saat itu. Namun akibat pertempuran singkat ini, Brigjen AWS Mallaby tewas.

Tewasnya perwira Inggris ini lantas membuat sekutu murka dan memberi ultimatum agar pemuda Surabaya menyerahkan diri serta senjata yang dikuasainya. Jika tidak, maka sekutu akan menggempur Surabaya melalui laut udara dan darat.

Ultimatum ini sempat membuat Surabaya dilanda kecemasan luar biasa. Sebab sekutu akan mengerahkan sebanyak 24 tentara dan merupakan pemenang Perang Dunia II. Namun hingga detik-detik terakhir, pimpinan di Jawa Timur dan Surabaya akhirnya memutuskan untuk menghadapi tentara sekutu.

3. Pertempuran 10 November

Puncak pertempuran yang terjadi akhirnya pecah pada 10 November 1945 usai dipicu oleh tewasnya Brigjen Mallaby. 24 ribu tentara Inggris dikerahkan untuk menggempur Surabaya di bawah komando Mayjen Robert Eric Carden Mansergh.

Pihak sekutu memprediksi Kota Surabaya akan dapat dikuasai selama tiga hari. Namun sengitnya pertempuran membuat pertempuran molor menjadi tiga pekan. Akhir November, Inggris akhirnya bisa menguasai Kota Surabaya dengan harga yang mahal.

Jumlah korban pada pertempuran ini dalam sejumlah catatan disebutkan ada 6 ribu bahkan hingga 160 ribu orang di pihak Indonesia yang gugur. Sedangkan korban Inggris menelan sekitar 600 tentaranya. Dahsyatnya pertempuran ini oleh pihak Inggris disebut sebagai inferno atau neraka.

Pertempuran Surabaya ini kemudian ditetapkan oleh Presiden Soekarno sebagai Hari Pahlawan. Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Presiden NO. 316 tahun 1959. Ini dilakukan untuk mengenang jasa-jasa para pejuang yang telah bertempur mempertahankan kemerdekaan Indonesia.



Simak Video "Konser Westlife di Surabaya Obati Rindu Fan"
[Gambas:Video 20detik]
(abq/sun)