Wayang Beber Pacitan Diyakini Pusaka Bertuah Kerajaan Majapahit

Purwo Sumodiharjo - detikJatim
Senin, 17 Jan 2022 09:30 WIB
Wayang Beber Pacitan yang Diyakini Merupakan Pusaka Majapahit
Wayang Beber peninggalan Majapahit (Foto: Purwo Sumodiharjo/detikcom)
Pacitan -

Kabupaten Pacitan menyimpan cukup banyak warisan budaya. Satu di antaranya Wayang Beber. Ini merupakan perpaduan seni rupa, tradisi tutur dan seni musik. Wayang beber juga diyakini warisan Majapahit yang tersisa.

Meski disebut wayang, namun jenis kebudayaan ini tak berbentuk obyek dua atau tiga dimensi. Rangkaian kisah di dalamnya ditorehkan dalam bentuk lukisan. Medianya berupa kertas kuno bernama dluwang (Kertas) yang digulung.

Bunyi gamelan mendayu sepanjang pentas. Memang tak serancak musik tradisional Jawa pada umumnya. Juga tak ada suara pesinden (Penyanyi wanita). Satu-satunya vokalis adalah sang dalang. Kidung pun mengalun di antara rangkaian cerita sarat makna.

"Semuanya ada 6 gulungan. Dan setiap gulungan menampilkan 4 adegan yang disebut jagong," kata dalang Wayang Beber, Rudi Prasetyo (38) berbincang dengan detikJatim, Senin (17/1/2022).

"Adapun gamelannya hanya terdiri dari rebab, kenong, kethuk, dan gong kempul," imbuhnya.

Menurut Rudi, kisah dalam Wayang Beber sarat romantika. Seperti cerminan kehidupan nyata, cerita yang disuguhkan dibalut nilai heroisme, suka, duka dan berakhir bahagia. Rudi meyakini seni pertunjukan kuno itu merupakan buah olah rasa dan estetika para leluhur.

Latar belakang cerita dalam Wayang Beber Pacitan adalah kehidupan era Kerajaan Kediri. Adapun dua tokoh utama di dalamnya adalah Panji Joko Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji. Rangkaian adegan ditampilkan berkesinambungan selama 1,5 jam.

"Dari 6 gulungan itu setiap gulungan ada 4 jagong. Jadi jumlah total 24 jagong. Namun (Jagong) yang terakhir tidak boleh dibuka," papar Rudi.

Wayang Beber Pacitan yang Diyakini Merupakan Pusaka MajapahitWayang Beber Pacitan/ Foto: Purwo Sumodiharjo

Ihwal larangan membuka bagian terakhir dari gulungan Wayang Beber ini, lanjut Rudi, masih menjadi misteri. Tak satu pun pelaku pementasan berani membukanya. Konon, nekat membuka jagong terakhir dapat berdampak buruk pada kehidupan yang bersangkutan.

Rudi sendiri hanya memainkan Wayang Beber duplikat yang dilukisnya sendiri mengacu pada karya autentik. Namun sosok pendidik yang juga mengelola sanggar seni itu tetap memperlakukannya seperti Wayang beber asli. Termasuk ritual yang harus dilakukan sebelum pentas.

"Dalang punya ritual sendiri, penabuh gamelan juga melakukan ritualnya sendiri," katanya tanpa merinci laku spiritual dimaksud.

Sejauh ini memang belum ada versi baku terkait sejarah asal-usul Wayang Beber Pacitan. Namun berdasar cerita rakyat, benda tersebut merupakan pusaka Kerajaan Majapahit. Riwayatnya tak terpisahkan dari seseorang bernama Nolodermo.

Konon, pada saat itu putra Raja Majapahit tengah menderita sakit. Beragam pengobatan pun sudah dilakukan oleh para tabib kerajaan. Hanya saja, keluhan yang dialami sang putra raja tak kunjung sembuh.

Di tengah kepanikan itu, pihak kerajaan mengadakan sayembara. Bagi siapapun yang dapat mengobati, akan mendapat ganjaran. Mendengar pengumuman itu, Nolodermo yang tinggal di Pacitan berangkat ke Kota Raja Majapahit untuk mengikuti sayembara.

"Dengan metode pengobatannya itu Mbah Nolodermo bisa menyembuhkan penyakit putra raja itu. Sehingga diberi beliau diberi hadiah berupa Wayang Beber itu," terang Rudi yang belajar langsung dari almarhum Mbah Mardi Gunocarito, keturunan ke 13 Nolodermo.

Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, Wayang Beber telah melekat sebagai ikon budaya Kabupaten Pacitan. Bahkan pemerintah menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional untuk kategori Tradisi dan Ekspresi Lisan.



Simak Video "Kerajinan Wajah Raja-raja Majapahit Berbahan Dasar Styrofoam, Mojokerto"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)