Antrean Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi masih terjadi di wilayah Malang Raya hingga hari ini. Pertamina menyebutkan bahwa antrean panjang BBM subsidi itu akibat masyarakat enggan membeli BBM non subsidi.
Tingginya permintaan BBM subsidi yaitu Pertalite dan Bio Solar mengakibatkan permintaan meningkat dan berdampak terhadap antrean di anjungan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Adanya selisih harga antara BBM non subsidi dengan BBM subsidi memicu masyarakat beralih untuk membeli. Contohnya, harga Pertalite dengan Pertamax hanya selisih Rp 5 ribu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sales Area Manager Retail Pertamina Malang Angga Y Putra menyampaikan bahwa ada fenomena pergeseran masyarakat dalam membeli BBM. Ia menyebutkan bahwa jalur SPBU yang melayani penjualan BBM non subsidi, terutama Pertamax, cenderung lebih sepi dibandingkan antrean di jalur pengisian Pertalite.
Hal itu disampaikan Angga usai melakukan sidak di SPBU Jalan Raya Langsep, Kota Malang, bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) hari ini.
"Kalau kita lihat SPBU yang non subsidi sepi, terus yang Pertalite naik. Jadi ini ada shifting antara yang dari Pertamax yang harganya sekarang Rp15 ribu ke Pertalite yang harganya Rp10 ribu," kata Angga kepada wartawan, Jumat (16/10/2026).
Menurut Angga, dengan adanya selisih harga itu, Pertalite untuk saat ini lebih diminati masyarakat. Dampaknya, antrean kendaraan menumpuk di jalur pengisian Pertalite. Sementara jalur BBM non subsidi relatif lengang.
Kondisi ini, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang menjelaskan kepadatan antrean di sejumlah SPBU wilayah Malang Raya. Untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan, Pertamina mengaku telah menyiapkan sejumlah skema pengaturan di SPBU.
Langkah itu meliputi marshalling atau pengaturan arus kendaraan, penataan antrean, serta peningkatan pengawasan di lapangan. Angga menegaskan Pertamina tidak memaksa masyarakat beralih membeli Pertamax atau produk BBM lain. Pemilihan jenis bahan bakar, menurutnya, tetap menjadi keputusan masing-masing konsumen.
"Kita juga nggak pernah memaksa orang untuk beli Pertamax atau memilih produk lain. Itu semua tergantung dari pilihan masyarakat," tegasnya.
Di sisi lain, munculnya keluhan pengendara yang mengaku berkeliling ke beberapa SPBU dan mendapati Pertalite kosong turut menjadi perhatian. Angga menyatakan Pertamina terus berupaya memenuhi kebutuhan stok di setiap SPBU agar pengisian ulang dapat dilakukan secepatnya ketika persediaan habis.
Pihaknya menjelaskan, SPBU yang kehabisan stok belum tentu mengalami gangguan distribusi. Dalam sejumlah kondisi, pasokan BBM yang dibutuhkan masih dalam perjalanan menuju SPBU. Pertamina menargetkan stok yang kosong dapat kembali terisi pada hari yang sama.
"Harapannya, walaupun nanti kosong, hari itu juga terisi. Biasanya stoknya masih dalam perjalanan," jelasnya.
Angga juga menepis kekhawatiran terkait kemungkinan gangguan distribusi yang menyebabkan antrean panjang. Menurutnya, kondisi stok BBM di Malang Raya secara umum masih aman sehingga masyarakat tidak perlu melakukan pembelian secara berlebihan.
"Kita harapannya nggak ada panic buying, karena jangan sampai masyarakat panik. Masyarakat juga kita imbau biar bijak menggunakan BBM. Jangan sampai beli berlebih karena stoknya ada dan tiap hari pasti terkirim," katanya.
Sementara Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menambahkan bahwa antrean panjang di SPBU dikarenakan pengendara banyak membeli BBM bersubsidi jenis Pertalite serta Bio Solar. Bahkan Wahyu menyebut konsumsi Pertamax menurun hingga 50 persen.
"Ada peningkatan dari Pertalite 11 persen, ada penurunan di Pertamax sekitar 50 persen. Dan inilah mereka banyak membeli Pertalite. Akhirnya, Pertalite ada sedikit panjang antrean untuk membeli Pertalite," ucap Wahyu terpisah.
