Di Kabupaten Pasuruan, musim kemarau merupakan musim yang ditunggu-tunggu oleh petani mangga klonal 21 atau mangga alpukat. Panen yang melimpah ini disebabkan oleh cuaca cerah yang dapat menjaga kualitas buah.
Dalam sehari, petani bisa meraup omzet hingga Rp 5 juta dari budidaya mangga alpukat ini. Salah satunya, Sugiono, petani mangga alpukat asal Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.
Ia mampu memanen dan menyiapkan sekitar 5-6 kuintal mangga alpukat yang telah disortir berdasarkan ukuran dan kualitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penjualannya sendiri tidak hanya berada di Jawa Timur, tetapi juga sampai ke wilayah DKI Jakarta hingga berbagai daerah di Pulau Sumatera.
Kondisi musim kemarau ini turut menaikkan kualitas dari mangga alpukat, seperti kulit yang lebih mulus. "Karena ini belum musim hujan, masih kemarau, jadi kualitas mangga itu sangat luar biasa," kata Sugiono, Selasa (13/10/2026).
Keunikan dari mangga alpukat ini adalah rasa yang khas dan praktis untuk bisa dinikmati. Dengan cara memutar mangga, daging buahnya sudah dapat disantap, seperti membuka alpukat.
Untuk harganya, mangga alpukat dibagi menjadi dua kategori. Kualitas grade A dibanderol dengan harga Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per kilogram. Sedangkan untuk grade B dihargai Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per kilogram. Pada musim panen raya seperti ini, dalam sehari bisa mendapatkan omzet hingga Rp 5 juta.
