Beras Premium 5 Kg di Malang Tembus Rp 80 Ribu, Pedagang Mengeluh Langka

Beras Premium 5 Kg di Malang Tembus Rp 80 Ribu, Pedagang Mengeluh Langka

Muhammad Aminudin - detikJatim
Rabu, 19 Agu 2026 14:45 WIB
Lapak salah satu pedagang beras di Pasar Bunulrejo, Kota Malang.
Lapak salah satu pedagang beras di Pasar Bunulrejo, Kota Malang. (Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim)
Malang -

Harga beras jenis premium di sejumlah pasar tradisional Kota Malang, Jawa Timur melambung tinggi. Saat ini, harga beras kualitas super tersebut telah menyentuh angka Rp 80 ribu per kemasan 5 kilogram.

Kenaikan harga ini dikeluhkan para pedagang karena terjadi secara bertahap dalam kurun waktu satu bulan terakhir, diiringi dengan pasokan distributor yang kian menipis.

Salah seorang pedagang beras di Pasar Bunulrejo, Kota Malang, Supriyono mengungkapkan bahwa harga kulakan beras premium terus merangkak naik dari harga sebelumnya yang berkisar antara Rp 76.500 hingga Rp 77 ribu per 5 kilogram.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan ini berdampak merata pada hampir seluruh merek beras premium yang banyak diminati konsumen.

"Naiknya bertahap, sekarang harga kulakan Rp 80 ribu rata semua beras premium. Mereknya Lahap, Mentari, Bintang, dan Lombok. Harga kulak awalnya Rp 76.500 sampai Rp 77 ribu," ujar Supriyono kepada wartawan, Rabu (19/8/2026).

ADVERTISEMENT

Supriyono menjelaskan, pemicu utama melonjaknya harga di tingkat pedagang adalah minimnya pasokan dari pihak distributor.

Ia mengaku harus merogoh kocek lebih dalam sekaligus kesulitan untuk mendapatkan persediaan barang.

"Harga naik karena barang di distributor enggak ada, kita carinya susah," tutur Supriyono.

Kondisi kelangkaan dan tingginya harga beras di lapangan ini membuat pedagang kebingungan. Pasalnya, klaim pemerintah mengenai panen raya yang menghasilkan surplus produksi beras dinilai tidak sejalan dengan realitas yang dialami para pedagang di pasar.

"Katanya Pak Presiden panen raya surplus. Tapi berasnya enggak ada, beras ke mana? Wong panen raya kok berasnya naik malahan," celetuk Supriyono heran.

Di tengah melambungnya beras premium, kondisi berbeda terlihat pada beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari pemerintah.

Supriyono mengaku pasokan beras SPHP sejauh ini terbilang lancar dan rutin dikirim oleh pengembang. Kendati demikian, tingkat permintaan masyarakat terhadap beras SPHP belum mampu menandingi tingginya minat warga terhadap beras jenis premium.

"Kalau beras SPHP aman stoknya. Tapi permintaan tak sebanyak beras premium," pungkasnya.



(auh/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads