Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani di Kabupaten Lamongan melonjak pada musim tanam (MT) II 2026. Harga gabah bahkan menembus Rp 8.200 per kilogram, tertinggi dibandingkan musim panen sebelumnya.
Salah seorang petani di Desa Tambakrigadung, Kecamatan Tikung, Nasri mengatakan, gabah hasil panennya langsung dibeli tengkulak dari sawah dengan harga tersebut. Menurutnya, kenaikan harga ini menjadi kabar baik bagi petani karena mampu meningkatkan keuntungan.
"Alhamdulillah, panen kedua tahun ini benar-benar membawa berkah. Sekarang gabah dari sawah langsung ditebas oleh tengkulak dengan harga mencapai Rp 8.200 per kilogram," ujar Nasri kepada wartawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasri menuturkan, tingginya harga gabah didukung kualitas hasil panen yang baik. Cuaca yang stabil selama masa tanam serta pasokan air yang mencukupi membuat bulir padi lebih berisi sehingga diminati pembeli.
"Cuacanya sangat mendukung. Pengairan juga lancar, jadi padinya berisi padat, tidak kopong. Makanya tengkulak berani membeli dengan harga tinggi," katanya.
Menurut Nasri, kenaikan harga gabah membuat biaya produksi hingga panen dapat tertutupi. Bahkan, setelah dikurangi biaya operasional seperti sewa mesin panen (combine harvester), petani masih memperoleh keuntungan yang cukup besar.
"Dengan harga Rp 8.200 per kilogram, biaya operasional bisa tertutup dan kami masih bisa mendapat untung bersih yang lumayan," ungkapnya.
Meski harga gabah sedang tinggi, Nasri berharap kondisi tersebut dapat bertahan hingga musim tanam berikutnya. Ia juga meminta pemerintah terus menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi agar produktivitas petani tetap terjaga.
"Harapan kami harga seperti ini bisa bertahan. Jangan sampai nanti saat musim tanam berikutnya harga gabah justru turun. Ketersediaan pupuk bersubsidi juga semoga tetap aman," pungkasnya.
