Kondisi usaha tempe di Surabaya semakin berat. Tak hanya dihimpit kenaikan harga bahan baku imbas dolar AS yang meroket, para perajin juga terpaksa mengurangi produksi hingga mengurangi pegawai karena daya beli masyarakat menurun.
Perajin tempe di Kampung Tempe Tenggilis, Surabaya, Muhammad Fauzi (44), mengaku kini mengandalkan tenaga keluarga untuk menjalankan usahanya. Padahal sebelumnya ia masih mempekerjakan beberapa orang untuk membantu proses produksi.
"Dulu ada (karyawan). Sekarang ya keluarga sendiri. Soalnya bikinnya sedikit, produksinya sedikit jadi pakai tenaga keluarga sendiri," kata Fauzi kepada detikJatim, Selasa (9/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Fauzi, keputusan itu diambil setelah penjualan terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Berkurangnya permintaan membuat kapasitas produksi ikut dipangkas. Meski kondisi usaha semakin sulit, Fauzi mengaku tetap mempertahankan usahanya yang telah dijalani turun-temurun.
"Kerja adanya kerja yang kayak gini terus. Ya dipertahankan saja," tuturnya.
Tak hanya dirasakan Fauzi, penurunan produksi juga disebut terjadi pada perajin lain di Kampung Tempe Tenggilis. Menurutnya, hampir seluruh pelaku usaha tempe mengalami kondisi serupa.
"Di sini semuanya agak menurun juga. Ada yang hanya 40 kilogram, ada yang 65 kilogram kedelai per hari. Dulunya bisa lebih," ungkapnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, Fauzi menilai konsumen kini semakin sensitif terhadap harga. Akibatnya, banyak pembeli yang lebih mengutamakan produk murah dibanding kualitas.
Ia menjelaskan, sebagian produk tempe murah di pasaran dibuat dengan campuran kulit kedelai agar biaya produksi lebih rendah.
"Kalau tempe murah ya cuma satu, ada campurannya pakai kulit. Kulitnya enggak dibuang, buat campuran," jelasnya.
Selain tempe, usaha keripik tempe yang dijalankan Fauzi juga mengalami penurunan omzet cukup signifikan. Produksi yang sebelumnya mencapai sekitar 20 kilogram per hari kini hanya tersisa setengahnya.
"Keripik juga omzetnya menurun banyak. Dulu sekitar 20 kilogram per hari, sekarang sekitar 10 kilogram," tuturnya.
Di Kampung Tempe Tenggilis, aktivitas produksi biasanya sudah dimulai sejak dini hari. Para perajin mulai mengiris, mengemas hingga menyiapkan tempe untuk didistribusikan ke pasar dan pengecer sejak pukul 02.00 WIB hingga sore hari.
Kampung Tempe sendiri diresmikan sejak tahun 2010. Namun aktivitas produksi disebut sudah dilakukan turun-temurun sejak sekitar tahun 1972. Untuk menghasilkan tempe siap jual, proses produksi membutuhkan waktu sekitar empat hari, mulai dari kedelai mentah hingga menjadi tempe yang dipasarkan.
Sebelumnya, Fauzi mengaku pendapatannya turun hingga sekitar 50% dibanding sebelumnya. Hal itu imbas kenaikan bahan baku kedelai yang berasal dari impor. Jika sebelumnya harga kedelai berada di rentang Rp10.000, kini menjadi Rp11.500 per kilogram.
"Kalau saya sendiri mungkin ada sekitar 50% turun. Permintaan berkurang, pengecer juga berkurang," katanya.
Para perajin tempe kesulitan menaikkan harga jual. Kondisi pasar yang lesu membuat mereka khawatir kehilangan pelanggan.
"Kita harga jual enggak bisa naik juga. Jadi cuma irisannya (ukurannya) yang dikecilin," ungkapnya.
(auh/dpe)
