Mata uang rupiah terus melemah terhadap sejumlah mata uang asing seperti dolar. Pengamat Ekonomi Unair, Gigih Prihantono menyebut pelemahan rupiah akan berdampak besar terhadap perekonomian Jawa Timur.
"Jadi problemnya kan kita banyak mengimpor. Misalnya para peternak di Blitar soal pakan, nah itu kan berdampak sekali terharap pelemahan nilai tukar," kata Gigih saat dikonfirmasi detikJatim, Selasa (2/6/2026).
Gigih menilai pakan ternak menjadi masalah krusial saat rupiah terus melemah. Sebab, pakan ternak mayoritas bahannya berasal dari impor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena mereka kan membayar harus lebih mahal, dan ini sangat mengancam terkait ketahanan pangan. Nah pemerintah secara nasional maupun Jawa Timur harus punya langkah yang bisa untuk membantu meredam efek dari impor bahan pakan, atau makanan yang ada di di provinsi Jawa Timur," jelasnya.
"Pakan ini cukup krusial, karena masuk ke pakan peternakan untuk sapi, pakan untuk peternakan ayam itu kan semuanya bahan impor mayoritas. Nah ini harus diperhatikan. Karena daging ayam dan sapi ini kan kebutuhannya tinggi," tambahnya.
"Ketika pakan naik, maka otomatis harga telur, harga ayam, harga daging sapi ini bisa naik dan menyebabkan inflasi," tambahnya
Selain itu, Gigih menyebut barang end user otomatis akan naik. Barang end user meliputi barang elektronik, baju, hingga kendaraan bermotor.
"Terus kemudian dari sisi konsumen terutama barang-barang produk end user itu juga harus diperhatikan oleh pemerintah provinsi supaya tidak terjadi peningkatan harga di sisi konsumen," jelasnya.
"Konsumsi barang end user sangat tinggi di masyarakat kita seperti baju, elektronik, sparet part kendaraan, kendaraan bermotor dan banyak lagi," tambahnya.
Gigih menyarankan pemerintah daerah baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota menyiapkan gudang logistik yang besar untuk menjaga harga bahan pokok tetap stabil.
"Saya pikir harus melakukan perbaiki di sisi efisiensi logostik ya. Nah itu yang harus diperbaiki, dan saya kira Pemprov Jatim bisa membangun yang namanya Jatim Hub itu supaya ketika ada goncangan gini Jatim masih punya suplai, punya stok yang itu bisa meredam dampak melemahnya rupiah," jelasnya.
"Jatim hub seperti warehouse terpusat semacam itu. Jadi itu sebagai buffer krtika ada goncangan kenaikan dolar hingga ketidakpastian global," tambahnya.
Gigih sendiri berharap pemerintah pusat bisa melakukan perbaikan terutama memangkas beban APBN untuk program yang sia-sia. Selain itu, iklim ekonomi harus bisa dijaga dan diberi kepastian.
"Pemerintah pusat harus memangkas beban anggaran negara, memangkas persoalan izin yang berbelit, dan memberi kepastian ekonomi terhadap investor. Karena ini alarm yang bahaya ketika rupiah sudah mendekati Rp 20 Ribu per dolar, bisa saja akan chaos," tandasnya.
