Menjelang Hari Raya Idul Adha, harga sejumlah kebutuhan pokok di Kota Malang mulai merangkak naik. Harga cabai rawit merah di pasaran kini 'pedasnya' makin menjadi-jadi hingga menyentuh angka Rp 80 ribu per kilogram.
Pantauan di pasar tradisional, kenaikan harga ini dipicu oleh menipisnya stok barang di tingkat pedagang.
Nasir, salah seorang pedagang sayur di Pasar Bunulrejo, mengungkapkan bahwa kelangkaan pasokan menjadi biang kerok utama melonjaknya harga komoditas pedas tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sayur-sayuran lain sebenarnya turun, tapi harga cabai malah naik. Sekarang cabai kecil (rawit) Rp 80 ribu per kilo, kalau cabai besar Rp 60 ribu. Penyebabnya sepertinya karena pasokannya lagi enggak ada," kata Nasir saat ditemui di lapaknya, Selasa (26/5/2026).
Meski menyentuh Rp 80 ribu per kilogram hari ini, Nasir membeberkan bahwa harga cabai rawit sebenarnya sudah mulai melandai dibanding akhir pekan lalu.
Pada Minggu (24/5/2026), harga cabai bahkan sempat meroket hingga menembus angka Rp 100 ribu per kilogram.
"Harga cabai sekarang ini hitungannya sudah turun, kemarin sempat naik tinggi selama dua hari terakhir," imbuh Nasir.
Kondisi serupa juga terpantau di beberapa pasar tradisional lain di Kota Malang. Di Pasar Oro-oro Dowo, harga cabai rawit bahkan terpantau lebih tinggi, yakni bertengger di angka Rp 85 ribu per kilogram.
"Ada kenaikan menjelang Lebaran Kurban (Idul Adha). Ini sudah naik sejak dua hari yang lalu, harga jualnya Rp 85.000," ujar Agus Salam, salah satu pedagang di Pasar Oro-oro Dowo.
Sementara merespons kenaikan harga komoditas, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat angkat bicara. Wahyu mengakui bahwa harga cabai rawit di pasaran saat ini sudah melambung jauh di atas Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah.
"HAP-nya itu Rp 57 ribu per kilogram. Sementara kondisi di lapangan, di Pasar Oro-oro Dowo harganya Rp 85 ribu. Kemudian di Pasar Tawangmangu dan Bunulrejo berkisar Rp 70 ribu," jelas Wahyu.
Wahyu memaparkan, lonjakan harga ini sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrem yang membuat sejumlah daerah sentra produksi belum memasuki masa panen. Akibatnya, pasokan ke Kota Malang tersendat.
"Pada saat ini memang kondisi kita kekurangan stok karena belum banyak daerah yang panen," tuturnya.
Untuk meredam gejolak harga yang berpotensi membebani masyarakat jelang hari raya, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang langsung menyiapkan langkah taktis. Pemkot berencana membuka Warung Tekan Inflasi (WTI) di dua pasar besar.
Melalui WTI tersebut, Pemkot Malang akan menggelontorkan pasokan cabai yang didatangkan langsung dari daerah penghasil sekitar, seperti Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan harga yang lebih miring.
"Nanti kami akan buka WTI di Pasar Blimbing dan Pasar Dinoyo. Ini sudah kami proses (skemanya) agar bisa segera menekan harga cabai di pasar," pungkas Wahyu.
(auh/abq)
