Pabrik gula milik pemerintah yang tergabung dalam PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menargetkan produksi gula pada musim giling 2026 mencapai 1,1 juta ton. Jumlah itu menyumbang 34 persen dari target produksi nasional 3 juta ton.
Senior Executive Vice President (SEVP) Pengembangan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Putu Sukarmen, mengatakan produksi gula tahun ini diproyeksikan akan mengalami peningkatan 217.000 ton (23 persen) jika dibandingkan tahun 2025 sebesar 883 juta ton.
"Untuk tahun ini PT SGN sendiri, targetnya 1,1 juta ton dari target nasional 3 juta ton. Jadi kita hampir 34 persen tahun ini adalah peran dari kontribusi dari pabrik PT SGN," kata Putu, Sabtu (9/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, sesuai Asta Cita Presiden Prabowo, target swasembada pangan, khususnya konsumsi gula nasional dipercepat dari semula 2028 menjadi 2027. Untuk itu PT SGN melakukan beberapa upaya untuk mengakselerasi peningkatan produksi gula.
Guna mendongkrak jumlah produksi gula, pihaknya telah menyiapkan strategi, di antaranya dengan peningkatan kualitas tanaman tebu rakyat melalui program bongkar ratoon (tanaman tebu sisa tebang yang tumbuh kembali) serta perluasan area tanam.
Bongkar ratoon dinilai akan efektif untuk meningkatkan kuantitas hingga kualitas tebu, terlebih jika usia ratoon telah tua.
"Program bongkar ratoon dan perluasan area untuk menambah pasokan bahan baku," ujarnya .
Pihaknya optimistis target produksi dapat tercapai karena saat ini cuaca di beberapa daerah cukup baik. Faktor cuaca menjadi salah satu penentu kualitas tebu petani.
Pada tahun lalu, cuaca hujan sepanjang tahun mengakibatkan rendeman tebu anjlok. Namun, volume atau kuantitas tebu mengalami peningkatan.
"Meskipun tahun ini ada ancaman kemarau yang lebih panjang, tapi bagi tanaman tebu Insyaallah aman karena bulan 5 sampai sekarang ini masih ada musim hujan, ini pertanda akan lebih baik," imbuhnya.
Pihaknya menjelaskan jika target produksi 3 juta ton gula dalam negeri tercapai, maka swasembada pangan bisa terealisasi karena tingkat kebutuhan gula nasional sekitar 2,9 juta ton.
Putu menambahkan akselerasi peningkatan produksi gula juga dihadapkan dengan persaingan antarpabrik gula dalam penyerapan bahan baku dari petani. Kondisi itu membuat petani mengejar kuantitas tanpa memperhatikan kualitas.
"Kapasitas pabrik kami jauh lebih besar dari pada kapasitas pasok bahan baku. Jadi di situ ada persaingan, kompetisi yang boleh dibilang berdampak kepada kualitas tebu yang dipanen pun tidak optimal," imbuhnya.
(ihc/dpe)
