Cara Perajin Logam Kampung Ngingas Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Besi

Cara Perajin Logam Kampung Ngingas Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Besi

Anastasia Trifena - detikJatim
Sabtu, 09 Mei 2026 16:15 WIB
Perajin Kampung Logam Ngingas bertahan di tengah kenaikan harga bahan baku
Perajin Kampung Logam Ngingas bertahan di tengah kenaikan harga bahan baku (Foto: Anastasia Trifena/ detikjatim)
Sidoarjo -

Kenaikan harga besi dan bahan baku industri dalam beberapa tahun terakhir ikut menekan para perajin di Kampung Logam Ngingas, Waru, Sidoarjo. Meski begitu, para pelaku usaha logam di kawasan tersebut memilih bertahan dengan berbagai cara, salah satunya menyesuaikan harga produksi.

Sekretaris Desa Ngingas, Samsul Huda mengatakan gejolak harga bahan baku memang sempat membuat produksi para pengrajin menurun, terutama saat pandemi COVID-19 dan kenaikan harga material industri imbas perang akhir-akhir ini.

"Produksi memang sempat turun sekitar 60 sampai 70 persen (saat COVID-19). Tapi alhamdulillah tidak sampai gulung tikar," kata Huda kepada detikJatim, Jumat (8/5/2026)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, industri logam di Ngingas masih mampu bertahan karena ekosistem produksinya sudah terbentuk sejak lama. Mulai bahan baku, jasa bubut, las, hingga produksi sparepart tersedia di kawasan tersebut.

"Mereka (masih bisa) bertahan karena bahan baku di sini mudah dicari. Makanya banyak juga pengusaha luar yang produksi di sini," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Hal serupa dirasakan Ali Khodir (56), pemilik UD Karya Logam dan UD Ridlo. Pengrajin senior itu mengatakan kenaikan harga besi otomatis membuat harga produksi ikut berubah.

"Iya jelas memengaruhi. Cara bertahannya ya menyesuaikan harga dengan bahan," kata Ali.

Perajin Kampung Logam Ngingas bertahan di tengah kenaikan harga bahan bakuAktivitas Perajin di Kampung Logam Ngingas Sidoarjo Foto: Anastasia Trifena/ detikjatim)

Menurut Ali, sebagian pengusaha harus menyesuaikan kualitas material sesuai kemampuan pasar agar usaha tetap berjalan.

"Kalau minta bahan yang baik sesuai standar ya harganya ikut naik," ujarnya.

Sementara itu, generasi kedua pelaku usaha logam juga menghadapi tantangan serupa. Aidi Faiz, pemilik UD Fajar Tiana, mengatakan kenaikan harga pelat besi cukup terasa karena usaha keluarganya bergerak di distribusi bahan logam untuk home industry.

"Kan harga minyak naik tuh, harga plastik naik, harga pelat pun ikut naik," kata Faiz.

Perajin Kampung Logam Ngingas bertahan di tengah kenaikan harga bahan bakuPerajin Kampung Logam Ngingas Sidoarjo menunjukkan pelat besi Foto: Anastasia Trifena/ detikjatim)

Ia menyebut harga pelat besi sempat naik sekitar Rp 1.000 hingga Rp 2.000. Pelat besi yang biasa dijual Rp 13.000 kini menjadi Rp 14.000 per kilogramnya. Kenaikan itu membuat penjual bahan harus ikut menaikkan harga ke pelanggan.

Meski demikian, menurut Faiz, sebagian pelanggan memahami kondisi tersebut karena mereka juga sama-sama bergerak di sektor produksi logam.

"Pasti udah tahu. Khususnya apalagi kalau dia berkecimpung juga di bahan plastik. Soalnya ada satu pelangganku itu dia produksi sangkar burung. Kan ada plastiknya kan itu kan? Terus ada kawatnya juga, ada besinya juga. Di saat dia udah tahu harga plastik naik, saya naikkan harga, dia bilang nggak papa karena semua memang lagi naik," urainya.

Di tengah kenaikan harga bahan baku, para pelaku usaha di Kampung Logam Ngingas memilih tetap bertahan. Sebagian menaikkan harga, sementara lainnya menyesuaikan harga dengan kualitas yang diinginkan pelanggan.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads