Kenaikan BBM Picu Inflasi di Jatim

Kenaikan BBM Picu Inflasi di Jatim

Aprilia Devi - detikJatim
Rabu, 06 Mei 2026 14:00 WIB
white car at gas station being filled with fuel
Ilustrasi kenaikan BBM/Foto: Getty Images/iStockphoto/senkaya
Surabaya -

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat Provinsi Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,02% (month-to-month) periode April 2026. Angka ini lebih rendah dibanding inflasi nasional (month-to-month) yang sebesar 0,13%.

Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur, Debora Sulistya Rini menjelaskan, inflasi yang terjadi pada April dipengaruhi berbagai dinamika, mulai dari lonjakan harga energi hingga pergerakan harga komoditas global.

"Pada April, terdapat beragam catatan peristiwa seperti lonjakan harga energi dan dinamika komoditas global sehingga memicu terjadinya inflasi di Provinsi Jawa Timur," ungkap Debora, Rabu (6/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, inflasi ini terjadi dengan latar belakang beberapa catatan peristiwa, antara lain kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, serta avtur yang terdorong naiknya harga minyak dunia.

ADVERTISEMENT

"Kenaikan avtur mencapai lebih dari 70%, yang memperbesar biaya operasional maskapai dan berpotensi mendorong kenaikan tarif tiket pesawat serta biaya logistik," jelasnya.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut mendorong kenaikan harga bahan baku impor. Komoditas kedelai, misalnya, mengalami kenaikan yang berdampak pada harga tahu dan tempe.

Gangguan pasokan global juga ikut berperan. Terjadi hambatan distribusi bahan baku plastik (nafta) dari Timur Tengah serta kelangkaan chipset akibat tingginya permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini membuat harga makanan olahan kemasan plastik hingga barang elektronik seperti ponsel dan laptop ikut naik.

Faktor lain datang dari kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) yang dipicu meningkatnya permintaan biodiesel serta antisipasi potensi El Nino, sehingga berdampak pada harga minyak goreng.

"Harga Crude Palm Oil (CPO) mengalami kenaikan di kisaran 4.500-4.600 RM per ton karena meningkatnya permintaan untuk Biodiesel dan potensi El Nino," imbuhnya.

Adapun komoditas penyumbang inflasi terbesar pada April 2026 di Jawa Timur antara lain angkutan udara dengan andil 0,23%, minyak goreng 0,05%, nasi dengan lauk 0,03%, laptop/notebook 0,03%, tomat 0,02%, tahu mentah 0,02%, telepon seluler 0,01%, tempe 0,01%, beras 0,01%, dan bensin 0,01%.

Sementara itu, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi dengan memberikan andil deflasi. Di antaranya daging ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, telur ayam ras, ikan mujair, bawang putih, hingga cumi-cumi.

"Penurunan harga dipicu oleh kembalinya harga secara normal pasca-Lebaran pada komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, ikan mujair, bawang putih, dan cumi-cumi. Namun, beberapa komoditas pangan tetap mengalami inflasi, yaitu minyak goreng, tomat, tahu mentah, tempe, dan beras," tuturnya.

Dengan demikian, secara tahunan, inflasi Jawa Timur pada April 2026 tercatat sebesar 2,85% (year-on-year/yoy). Sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 1,15%.

Dari 11 kabupaten/kota yang diamati di Jawa Timur, hanya dua daerah yang mengalami inflasi bulanan, yakni Kota Surabaya sebesar 0,37% dan Kota Malang 0,05%. Sisanya mengalami deflasi, dengan penurunan terdalam terjadi di Kota Probolinggo sebesar 0,65%.

Adapun daerah lain yang juga mencatat deflasi antara lain Jember 0,44%, Gresik 0,4%, Sumenep 0,4%, Bojonegoro 0,35%, Banyuwangi 0,28%, Tulungagung 0,18%, Kediri 0,12%, dan Madiun 0,02%.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads