Wisata Gunung Bromo Ditutup Sepekan, Ini Tujuannya

Wisata Gunung Bromo Ditutup Sepekan, Ini Tujuannya

M Rofiq - detikJatim
Senin, 06 Apr 2026 18:45 WIB
Wisata Bromo ditutup sepekan untuk pemulihan
Wisata Bromo ditutup sepekan untuk pemulihan (Foto: M Rofiq/detikJatim)
Probolinggo -

Kawasan wisata Gunung Bromo di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) resmi ditutup selama sepekan mulai Senin (6/4/2026) pukul 09.00 WIB hingga Minggu (12/4/2026) pukul 10.00 WIB.

Penutupan ini dilakukan khusus untuk aktivitas wisata sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem kawasan konservasi tersebut.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengatakan penutupan sementara merupakan langkah penting untuk memberikan waktu bagi alam memulihkan diri dari aktivitas wisata yang berlangsung hampir setiap hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau yang ini memang untuk pemulihan ekosistem. Sebagai kawasan konservasi, kita tahu alam juga butuh waktu untuk beristirahat dan memulihkan dirinya. Seperti manusia atau alat, tidak mungkin digunakan terus-menerus 24 jam, pasti harus ada jeda," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, pemulihan tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pembersihan kawasan, tetapi juga dengan memberikan waktu jeda bagi proses alami lingkungan.

"Pemulihan itu tidak selalu pembersihan. Memberikan waktu kepada alam juga bagian dari pemulihan. Misalnya tanaman bisa kembali melakukan proses alaminya, pasir juga butuh waktu untuk mengembalikan porositasnya. Kalau setiap hari dilalui dan dieksploitasi, tentu tidak ada waktu untuk pulih," jelasnya.

Rudijanta menambahkan, kebijakan penutupan kawasan sebenarnya pernah dilakukan dengan durasi yang lebih lama pada masa lalu, bahkan hingga satu bulan.

Namun tradisi tersebut sempat terhenti sejak pandemi COVID-19 karena aktivitas wisata menurun drastis.

"Dulu pernah sampai satu bulan. Tradisi itu berhenti saat COVID-19 karena tidak ada aktivitas wisata. Setelah pandemi selesai, jumlah wisatawan kembali meningkat, sehingga penutupan berkala ini perlu kita terapkan kembali," katanya.

Ia juga menyebut jumlah wisatawan yang datang ke Bromo sangat fluktuatif. Selama bulan Ramadan misalnya, rata-rata kunjungan sekitar 200 wisatawan per hari, namun jumlah tersebut bisa meningkat tajam pada momen libur panjang seperti Lebaran.

Sementara itu, seorang wisatawan asal Belanda, Emmy Verstegen, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan penutupan sementara tersebut. Ia menilai langkah tersebut sangat penting untuk menjaga kelestarian ekosistem Gunung Bromo.

"Saya sangat setuju. Ini sangat penting, bahkan super penting untuk menjaga ekosistem. Ditutup pun tidak masalah, asal jangan terlalu sering. Mungkin satu atau dua kali dalam setahun itu penting untuk masa depan, tidak hanya untuk kita tapi juga untuk generasi berikutnya," ujarnya.

Emmy juga mengapresiasi budaya masyarakat di sekitar kawasan Bromo yang dinilainya masih menjunjung tinggi nilai kebersamaan, terutama di wilayah pedesaan.

Namun demikian, ia juga menyoroti masih adanya wisatawan yang kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan.

"Gunung Bromo sangat indah, tapi masih ada wisatawan yang membuang sampah sembarangan. Perlu kerja sama semua pihak, baik pengunjung maupun masyarakat sekitar, karena masih banyak sampah plastik. Sangat disayangkan," katanya.

Selama masa penutupan, aktivitas yang dihentikan hanya kegiatan wisata, sementara kegiatan konservasi, pemeliharaan, dan pembersihan kawasan tetap berlangsung.

Balai Besar TNBTS berharap kebijakan ini dapat meningkatkan kesadaran semua pihak akan pentingnya menjaga kelestarian alam demi keberlanjutan kawasan wisata Gunung Bromo di masa depan.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads