Eks Karyawan di Sidoarjo Sukses Sulap Lahan Kritis Jadi Kebun Kelengkeng

Eks Karyawan di Sidoarjo Sukses Sulap Lahan Kritis Jadi Kebun Kelengkeng

Suparno - detikJatim
Jumat, 03 Apr 2026 14:45 WIB
Yulianto pembudi daya kelengkeng di Sidoarjo
Yulianto pembudi daya kelengkeng di Sidoarjo/Foto: Suparno/detikJatim
Sidoarjo -

Kisah inspiratif datang dari Yulianto, warga Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Mantan karyawan salah satu pabrik besar ini sukses banting setir menjadi petani kelengkeng dan kini meraup omzet menjanjikan dari hasil kebunnya.

Keputusan meninggalkan pekerjaan tetap bukan hal mudah. Namun, Yulianto memilih jalur berbeda demi hidup yang lebih tenang dan sesuai passion di bidang pertanian.

"Dulu saya kerja di perusahaan bagian marketing. Setelah menikah, saya lebih condong ke pertanian, perkebunan, dan peternakan. Hidup itu pilihan," ujar Yulianto saat ditemui detikJatim di kebunnya, Selasa (31/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbekal belajar secara otodidak melalui media sosial, termasuk mengamati teknik budidaya dari petani Thailand dan Vietnam, Yulianto mulai mengembangkan tanaman kelengkeng sejak 2017. Lahan kritis seluas sekitar 1,5 hektare di Desa Tulangan pun disulap menjadi kebun produktif.

ADVERTISEMENT

Saat ini, ia menanam sekitar 300 pohon kelengkeng varietas unggulan New Kristal. Dalam sekali panen, setiap pohon mampu menghasilkan 200 hingga 300 kilogram buah.

"Kalau kondisi normal, satu pohon usia 7 tahun bisa sampai 200 kilogram. Setelah panen kita istirahatkan sekitar tiga bulan, lalu bisa dibuahkan lagi," jelasnya.

Menariknya, Yulianto mampu membuat kelengkeng berbuah sepanjang tahun dengan teknik khusus atau booster. Hal ini membuat produksi tidak bergantung musim.

Harga jual kelengkeng di tingkat petani berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Namun, Yulianto memilih tidak menjual ke toko buah atau distributor besar.

"Saya sengaja tidak jual ke toko buah. Misi saya lebih ke edukasi masyarakat, supaya tahu kalau kelengkeng itu banyak varietasnya dan tidak semua sama," tegasnya.

Selain menjual buah, Yulianto juga mengembangkan usaha pembibitan kelengkeng yang kini dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Tak berhenti di situ, kebunnya juga mulai dikembangkan menjadi lokasi agrowisata dan edukasi pertanian. Pengunjung dari berbagai daerah bahkan luar pulau datang untuk belajar sekaligus menikmati sensasi petik buah.

"Kita arahkan ke wisata edukasi. Anak TK sampai mahasiswa, bahkan wakil Bupati Sidoarjo, sering berkunjung ke sini untuk memetik buah belajar langsung," ujarnya.

Untuk menjaga kualitas tanaman, pengunjung tidak diperbolehkan memetik buah secara bebas tanpa pendamping. "Kalau petik sendiri banyak yang rusak, jadi harus didampingi," tambahnya.

Ke depan, Yulianto berencana memperluas konsep agrowisata dengan menambah komoditas lain seperti melon dan kolam ikan.

Perjalanan Yulianto pun tak selalu mulus. Ia sempat diremehkan warga sekitar karena menanam kelengkeng di lahan yang dianggap tidak produktif.

"Dulu dibilang gila, karena ada yang tanam 25 tahun tidak berbuah. Tapi saya yakin dengan teknik yang benar," kenangnya.

Kini, kerja kerasnya terbayar lunas. Kebun kelengkengnya tidak hanya menghasilkan secara ekonomi, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat luas.




(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads