Harga Cabai Rawit di Gresik Masih Tinggi Meski Usai Lebaran

Harga Cabai Rawit di Gresik Masih Tinggi Meski Usai Lebaran

Jemmi Purwodianto - detikJatim
Rabu, 01 Apr 2026 07:56 WIB
Tim gabungan sidak harga bahan pokok penting (bapokting) usai Lebaran di Pasar Baru Gresik
Tim gabungan sidak harga bahan pokok penting (bapokting) usai Lebaran di Pasar Baru Gresik (Foto: Jemmi Purwodianto/detikJatim)
Gresik -

Tim gabungan Polres Gresik, Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan Pemkab Gresik melakukan inspeksi mendadak (sidak) harga bahan pokok penting (bapokting) pasca Lebaran di Pasar Baru Gresik, Selasa (31/3/2026).

Hasil sidak menunjukkan harga bapokting di pasar tradisional relatif stabil. Namun, harga cabai rawit masih tergolong tinggi karena petani belum memasuki masa panen.

"Cukup stabil, meskipun ada sedikit kenaikan untuk harga cabai rawit yang masih belum bisa dikendalikan karena belum memasuki masa panen," kata Analis Ketahanan Pangan Bapanas, Sri Utami, Rabu (1/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, tingginya harga cabai dipengaruhi keterbatasan pasokan di tengah permintaan yang tetap tinggi. Meski begitu, harga cabai rawit mulai berangsur turun dibandingkan saat puncak Lebaran.

ADVERTISEMENT

"Sudah turun perlahan di kisaran Rp 70 ribu per kilogram, dibandingkan saat Lebaran yang sempat mencapai Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu," ujarnya.

Sementara itu, harga daging dan ayam yang sebelumnya sempat naik kini mulai stabil. Harga daging tercatat di kisaran Rp 110 ribu hingga Rp 130 ribu per kilogram, sedangkan ayam berada di angka Rp 42 ribu per kilogram.

Kanit Tipidek Satreskrim Polres Gresik, Iptu Luthfi Hadi Nugroho menegaskan pihaknya akan terus mengawasi pergerakan harga bapokting di pasar.

"Kami akan terus melakukan pengawasan di pasar-pasar wilayah Gresik dengan memantau harga bapokting. Jika ditemukan pelanggaran, akan kami tindak," tegasnya.

Di sisi lain, Ketua Paguyuban Pasar Baru Gresik, Chumaidi, memastikan stok bapokting pasca Lebaran masih aman. Namun, pedagang berharap ada penambahan kuota Minyakita dari pemerintah karena tingginya permintaan.

"Rata-rata per toko butuh 5 sampai 10 dus per hari. Sementara kuota dari Bulog untuk setiap pasar sekitar 200-250 dus, sehingga tiap toko hanya mendapat sekitar 2 dus," ungkapnya.

Ia menambahkan, harga Minyakita di Pasar Baru disepakati Rp 16.000 per liter, sedikit di atas HET Rp 15.700, karena kendala kembalian uang receh di lapangan.

"Untuk harga Minyakita kami sepakati Rp 16.000 per liter karena pedagang sering kesulitan menyediakan kembalian Rp 300," tandasnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads