Bulan suci an membawa berkah bagi para perajin sarung tenun goyor di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Menjelang Idul Fitri, permintaan sarung tradisional khas tersebut meningkat tajam.
Satu-satunya perajin, Siti Mutmainah (45), warga Desa Sepande RT 2 RW 1 Kecamatan Candi, tampak lebih sibuk dari biasanya di rumahnya yang sekaligus menjadi tempat produksi. Bersama anaknya, ia menenun benang demi benang menjadi sarung yang banyak dipesan untuk kebutuhan ibadah hingga bingkisan Lebaran.
"Saya ini perajin, dari berkah Bulan Ramadhan tahun ini luar biasa. Pesanan sarung meningkat dibanding sebelum puasa. Banyak yang harus kami selesaikan tepat waktu sebelum Lebaran," kata Siti saat ditemui detikJatim di rumah produksinya, Kamis (26/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, sarung tenun goyor buatannya telah dikenal memiliki kualitas halus, adem, dan motif khas. Hasil kerajinan tenun ini di kirim ke salah satu perusahaan.
Pelanggan umumnya memesan dalam jumlah banyak untuk dijadikan parcel Lebaran bagi santri maupun karyawan.
Harga sarung tenun goyor dipatok mulai Rp 150.000, hingga Rp 250 ribu per potong. Ini sebanding dengan proses pembuatannya yang membutuhkan ketelitian tinggi. Dalam kondisi normal, Siti mampu menyelesaikan sekitar lima sarung per pekan.
"Dua sarung bisa dikerjakan dua sampai tiga hari, tergantung motif dan cuaca. Paling lama itu saat memasang benang ke alat tenun, bisa habis satu hari sendiri," ujarnya.
Perempuan yang telah 15 tahun menekuni kerajinan tenun ini mengaku belajar sejak muda dari pabrik tempat orang tuanya bekerja. Keahlian tersebut kemudian ia lanjutkan di rumah setelah berkeluarga.
"Dulu ikut orang tua kerja di pabrik tenun. Sempat berhenti karena mengurus anak kecil, lalu mulai lagi di rumah. Sekarang kalau menjelang Lebaran seperti ini pesanan banyak," katanya.
Meski permintaan meningkat, proses produksi tetap menghadapi tantangan, terutama benang yang kerap putus saat ditenun sehingga harus disambung kembali dengan teliti.
"Kalau benang putus harus disambung satu per satu. Itu yang bikin lama. Tapi hasilnya memang lebih lembut dan adem dibanding sarung biasa," ucap Siti.
Dengan lonjakan pesanan menjelang Idul Fitri, Siti dan para pekerjanya pun harus menambah jam kerja agar seluruh pesanan sarung tenun goyor dapat selesai tepat waktu sebelum Lebaran.
(auh/hil)
