Sinyal Resesi di Balik Lonjakan Harga Emas yang Tak Wajar

Sinyal Resesi di Balik Lonjakan Harga Emas yang Tak Wajar

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Kamis, 05 Feb 2026 13:15 WIB
Sinyal Resesi di Balik Lonjakan Harga Emas yang Tak Wajar
Ilustrasi emas/Foto: Shutterstock
Surabaya -

Lonjakan tajam harga emas sepanjang 2025 hingga awal 2026 menjadi sorotan pakar ekonomi Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya. Kenaikan yang dinilai tak wajar itu disebut sebagai sinyal kuat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi perekonomian global.

Harga emas Antam (Logam Mulia) tercatat mengalami tren kenaikan signifikan sepanjang 2025. Hingga akhir Januari 2026, tepatnya pada 29 Januari, harga jual emas sempat menyentuh di atas Rp 3.100.000 per gram. Dalam kurun waktu setahun, kenaikannya mencapai sekitar 50 hingga 60 persen.

Lonjakan tersebut dinilai bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan cerminan kecemasan investor terhadap ketidakpastian ekonomi global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakar ekonomi Universitas Kristen Petra Surabaya, Dr. Dra. Nanik Linawati, MM., menyebut pergerakan harga emas terbagi menjadi dua jenis, yakni jangka pendek dan jangka panjang.

ADVERTISEMENT

Penyebab fenomena tersebut dinilai sangat kompleks, mulai dari eskalasi konflik di berbagai kawasan, kebijakan tarif tinggi dari pemimpin dunia, hingga retorika politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump, yang turut menciptakan iklim investasi tidak stabil.

Di tengah reli panjang harga emas, Dr. Nanik memberikan catatan terkait pergerakan jangka pendek.

"Ini wajar, karena sebagian investor mulai menjual emas mereka untuk mengambil keuntungan (profit taking), seiring dengan inflasi yang mulai terkendali dan sentimen pasar yang berangsur membaik," kata dosen Program Studi Manajemen, Program Finance and Investment - School of Business and Management (SBM) UK Petra itu.

Sementara untuk tren jangka panjang, Dr. Nanik menilai harga emas masih berpotensi mengalami kenaikan. Hal tersebut dipengaruhi oleh ketegangan politik, kondisi ekonomi global yang melemah, hingga persoalan demografi dunia.

Ia juga menyoroti adanya anomali pasar yang terjadi saat ini. Menurutnya, dunia sedang berada dalam fase ekonomi yang tidak normal, sehingga pola pergerakan harga emas tidak lagi berlaku seperti biasanya.

"Investasi emas ini sifatnya langka, tidak dapat dimanipulasi oleh kebijakan otoritas manapun. Berbeda dengan investasi lainnya, seperti saham atau kripto, yang suplainya dapat 'diciptakan' atau diatur," urai Dr. Nanik.

Ia menyebut emas tidak bisa muncul secara tiba-tiba atau instan.

Emas terikat pada hukum alam dan proses eksplorasi bumi yang panjang serta rumit. Selain itu, penambahan fisik emas baru memerlukan waktu bertahun-tahun melalui proses penambangan.

"Kelangkaan alami inilah yang menjadikan emas sebagai tempat berlindung yang relatif aman saat instrumen investasi lainnya mulai kehilangan arah," tegasnya.

Lebih lanjut, Dr. Nanik memperingatkan bahwa lonjakan harga emas saat ini merupakan sinyal merah bagi perekonomian global. Menurutnya, kenaikan tersebut tidak lagi didorong oleh permintaan normal perhiasan, melainkan krisis kepercayaan investor terhadap aset produktif.

"Lonjakan tidak wajar ini jadi indikator kuat bahwa dunia tengah bergerak ke ambang resesi. Selama ego kekuasaan dan ketegangan geopolitik tetap bergejolak, serta aliansi antarnegara terus bergeser, maka harga emas akan terus mencari level tertinggi baru sebagai tempat bersandar para pemilik modal," imbuhnya.

Dr. Nanik menyimpulkan kondisi ekonomi dunia saat ini dengan istilah "benang kusut".

"Di dunia yang semakin tidak menentu, emas memang menjadi sandaran nyata. Namun, stabilitas sejati terletak pada manusia sebagai pengelola mandat yang Tuhan percayakan di bumi. Investor harus tetap tenang agar bisa bertindak bijak tanpa tergesa-gesa. Sebab dengan ketenangan, kita mampu menjaga kewajaran harga dan melindungi nilai kekayaan di tengah badai ketidakpastian," tutupnya.




(irb/hil)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads