Peternak Ayam Petelur Blitar Tolak Operasi Pasar di Jatim

Erliana Riady - detikJatim
Kamis, 22 Sep 2022 19:35 WIB
Harga Telur di Blitar Bisa Tutup Kerugian Peternak Blitar 15 Persen
Peternak telur di Blitar (Foto: Erliana Riady/FIle)
Blitar -

Peternak ayam petelur (layer) di Blitar Raya kompak menolak pelaksanaan operasi pasar telur di Jatim. Penolakan ini dinyatakan dalam surat resmi yang dikirimkan kepada Pemprov Jatim.

Surat bernomor 242/KPB/IX/2022 tertanggal Rabu (21/9/2022) ini ditandatangani lima koperasi peternak layer dan dua asosiasi peternak rakyat Blitar. Seperti Koperasi Putera Blitar, Srikandi Blitar Sejahtera, Koppi dan P2MB, PPRN, dan Pinsar Blitar.

Mereka menolak mengirimkan stok telur ayam dari Blitar karena dijual di bawah harga yang telah ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Senin (19/9). Yakni di kisaran Rp 24.000-26.000/kg.

Menurut Ketua Koperasi Putera Blitar, Sukarman, dirinya dihubungi Disnag Pemprov Jatim pekan lalu agar mengirimkan stok telur dari Blitar ke Surabaya dalam rangka operasi pasar. Disnag Pemprov Jatim akan menanggung biaya pengiriman dan pengepakkan telur. Stok telur dari Blitar itu akan disiapkan untuk operasi pasar di 3 lokasi di Surabaya dan dua lokasi di Malang.

Sukarman mengaku, awalnya mereka sanggup saja karena dipikir harga dari peternak Rp 22.000/kg kalau ongkir dan entree ditanggung Pemprov Jatim. Nanti di operasi pasar dijual Rp 24.000/kg, karena di pasar masih di kisaran Rp 26.000/kg. Artinya harga operasi pasar masih dibawah harga pasar.

"Ternyata di brosur yang beredar, di operasi pasar itu telur hanya dijual Rp 20.000/kg. Wah...ini merusak harga namanya. Tidak sesuai dengan keputusan Bapanas di harga Rp 22.000-24.000/kg. Tentu saja kami menolaknya," jelas Sukarman dihubungi detikjatim, Kamis (22/9/2022).

Sesuai Permendag no 6 th 2020 yang sudah direvisi oleh Bapanas, harga acuan telur di peternak Rp 22.000 - 24.000/kg. Sampai di konsumen Rp 27.000/kg. Sukarman menilai pasar murah tersebut melanggar harga acuan yang ditetapkan pemerintah pusat.

"Ya begitu ada operasi pasar di Surabaya Senin lalu itu, harga telur hari ini langsung anjlok di Rp 23.000/kg di pasar. Dari kandang hanya Rp 18.000-19.000/kg. Jauh sekali dari harga yang ditetapkan," imbuhnya.

Sementara informasi yang diterima Sukarman, operasi pasar ini akan digelar di seluruh wilayah Jatim setiap hari Senin. Dan berlangsung sampai bulan Desember 2022 mendatang. Operasi pasar ini informasinya, merupakan upaya pemerintah untuk menekan inflasi sebagai dampak domino kenaikan harga BBM.

"Sementara Menkeu menjanjikan hadiah Rp 10 miliar bagi daerah yang mampu menekan inflansi. Makanya banyak daerah berlomba-lomba bikin operasi pasar. Bagi saya, gak papa membuat kebijakan untuk menolong rakyatnya. Tapi ya jangan menekan kelompok rakyat yang lain dong...," tukas Yesi Yuni Astuti, Ketua Koperasi Srikandi Blitar Sejahtera.

Yesi berpendapat pemerintah sangat kelihatan tidak kompak dalam menangani masalah di masyarakat. Dari sisi Bapanas, kata Yesi, lembaga ini bertujuan menyelamatkan usaha kecil rakyat dengan menetapkan harga yang tidak merugikan. Tapi di sisi lain, pemda justru memporak-porandakan aturan yang ditetapkan pemerintah pusat dengan membuat harga acuan sendiri di operasi pasar.

"Kami pelaku ini bingung. Kami diundang rapat dengan Bapanas di Jakarta. Nilai-nilai ini real gak. Pusat menentukan begini, daerah menetapkan begini. Wajah pemerintah jadi kelihatan bopeng. Gak kompak banget kan," pungkasnya.



Simak Video "Produksi Telur Surplus, Kementan Jamin Stok Cukup Sampai Akhir Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(iwd/iwd)