Market Terbesar di GIIAS Surabaya 2022 Masih LCGC, Tembus hingga 70%

Market Terbesar di GIIAS Surabaya 2022 Masih LCGC, Tembus hingga 70%

Praditya Fauzi Rahman - detikJatim
Rabu, 14 Sep 2022 22:52 WIB
GIIAS Surabaya 2022
GIIAS Surabaya 2022. (Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim)
Surabaya -

Project Director Astra Financial Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2022 Tan Chian Hok mengatakan bahwa pasca-Pandemi COVID-19 terjadi peningkatan penjualan mobil. Market terbesar masih didominasi peminat kategori LCGC.

"Market terbesar memang LCGC dan populer, kalau kita lihat mungkin sekitar 60% sampai 70%," kata Tan dalam Perhelatan GIIAS 2022 di Grand City Convex Surabaya, Rabu (14/9/2022).

Tan menyebut, pihaknya menargetkan penjualan dan pendaftaran asuransi hingga leasing mencapai 1.000 unit. Menurutnya, target itu 2 kali lipat dari tahun sebelumnya.

"Di Surabaya (targetnya) 1.000 unit, 2 kali lipat dari tahun lalu. Kami berikan penawaran free administrasi, hingga ada tambahan asuransi juga," ujarnya.

Meski pasar mobil masih didominasi LCGC, saat ini pasar segmen lain juga sedang bergeliat. Salah satunya adalah pasar LMPV yang kini sedang dipenuhi hampir semua brand yang bersaing ketat.

GIIAS Surabaya 2022GIIAS Surabaya 2022. (Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim)

Merek yang saat ini sedang mencuat ke permukaan untuk segmen ini adalah Hyundai. Dalam pameran otomotif tahunan itu Hyundai optimistis mampu 'menggaet hati' masyarakat Indonesia dengan sejumlah produk seperti Creta dan Stargazer.

"Ini mobil yang kami buktikan adanya inovasi produk. Ini memiliki ciri khas, bahwa ada DNA khatulistiwa Indonesia di desain eksteriornya," ujar Erwin Jayadi Putra, Sales Director Hyundai Motors Indonesia dalam konferensi pers.

Selain menawarkan produk untuk mengambil hati para konsumen, Hyundai menyediakan fasilitas berupa payment protection, replacement guarantee, hingga resale value guarantee.

Menurutnya, bukan hal mudah untuk masuk dalam pangsa pasar Indonesia. Rangkaian survey cukup panjang telah dilakukan hingga Hyundai memberanikan meluncurkan Stargazer untuk pertama kalinya di Indonesia.

"Kami menetapkan investasi tertinggi di Indonesia pada 2019, saat itu kami putuskan membangun pabrik di Indonesia dengan total 1.5 M US$ atau sekitar Rp 113 triliun. Di sini saat berinvestasi, yang ditawarkan adalah mobil listrik dan apa yang menjadi kebutuhan rata-rata rakyat Indonesia. Maka muncul lah Stargazer ini," tuturnya.

Serupa dengan pabrikan otomotif lainnya, pihaknya berharap penjualan hingga daya beli masyarakat berkembang. Dengan begitu, kesempatan untuk menciptakan lapangan kerja untuk Indonesia juga terbuka lebar.

GIIAS Surabaya 2022GIIAS Surabaya 2022. (Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim)

"Target kami sebanyak-banyaknya, kami juga merefleksi dari GIIAS Jakarta, terbilang sangat sukses, pengumpul SPK terbanyak nomor 2, harapannya juga terjadi di Surabaya. Kalau di Jakarta Stargazer laku 1.500 unit, di Surabaya harapan kami 12% atau sekitar 900 hingga 1.000 SPK. Kami yakin segmen MPV di Jatim itu dominan, potensi di Surabaya besar," kata dia.

Head of Regional Sales Hyundai Motors Indonesia Budi Darmawan Jantania menegaskan produk yang dijajakan para produsen serupa tentu melakukan development dan riset sebelumnya. Bahkan, beragam hal di dalamnya telah diperhitungkan serta disesuaikan untuk kebutuhan setiap generasi.

"Kami pastikan aman dan bukan asal-asalan. Market Indonesia populer dengan SUV. Kami kenalkan pertama kali Creta dan responnya luar biasa. Nah, karena itu kami kenalkan EVT, itu di atas CVT. Bisa bereaksi lebih cepat dari CVT tapi tidak menghilangkan CVT. Karakternya sigap tapi lembut, seperti tidak ada perpindahan gigi sama sekali," ujar dia.

Pemain lama di pasar MPV dan SUV adalah Mitsubishi. President Director PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Naoya Nakamura mengatakan segmentasi dan pasar otomotif di Indonesia lambat laun akan bergeser ke mobil listrik. Namun, perubahan itu tidak instan.

"Kami tentu fokus ke elektrifikasi dan pemasarannya di Indonesia. Saat ini, solusi yang ada tentang kendaraan listrik adalah baterai dan hybrid," tutur dia.

Oleh karena itu, pihaknya juga masih melakukan diskusi mendalam dengan kementerian terkait baterai dan produk mobil listrik yang akan dipasarkan di Indonesia. Seperti halnya Mitsubishi Outlander Electric Vehicle.

"Kami lakukan kerja sama bisnis yang menggunakan mobil full listrik untuk logistik mau pun niaga ringan. Masih harus dilakukan visibilitas (dalam beberapa hal), baik dari pemerintahan mau pun partner bisnis," kata dia.

Tim MitsubishiTim Mitsubishi saat konferensi pers (Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim)

Selain produk, ia juga berkisah perihal infrastruktur penunjang untuk kendaraan listrik di Indonesia. Bahkan, ia mengaku pihaknya juga telah berdiskusi mendalam dengan berbagai pihak untuk bisa memberikan sumbangsih perihal kendaraan listrik di tanah air.

Project Director Astra Financial GIIAS 2022 Tan Chian Hok membenarkan itu. Menurutnya pangsa pasar, penjualan, hingga komponen mobil listrik bakal berkembang di kemudian hari.

"Memang, trennya akan ke sana, saya pikir cukup baik, tapi belum banyak. Sekarang yang terpenting adalah double engine yaitu hybrid, prospek masih sangat cerah ke depannya, dari Gaikindo memang begitu, arahnya ke sana (memasifkan mobil listrik)," tutupnya.



Simak Video "Veloz-Xpander Sudah Elektrik, Kok Stargazer Masih Rem Tangan Manual?"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/iwd)