Kirab Budaya menggunakan sound horeg di acara Sedekah Bumi Desa Menganti, Gresik molor hingga pagi. Molornya kegiatan itu disebabkan membludaknya penonton yang menjadi salah satu penyebab kemacetan saat truk sound melintas.
Ketua Panitia Sedekah Bumi Menganti, Imam Suudi, mengatakan jumlah penonton yang datang jauh di luar perkiraan penyelenggara. Mereka tidak hanya memadati lokasi panggung utama di area finis, tetapi juga sepanjang jalur kirab.
"Banyak penonton memenuhi badan jalan yang seharusnya digunakan untuk jalur iring-iringan truk sound horeg. Jalan raya itu yang mestinya sudah lebar untuk jalannya armada truk, ditempati duduk oleh warga," kata Imam kepada detikJatim, Senin (2/11/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imam menambahkan pihaknya sempat berbincang dengan beberapa penonton. Dari informasi yang diterimanya, ada masyarakat yang datang dari luar daerah, seperti Banyuwangi dan Blitar.
"Jadi kemarin itu penontonya penuh, Mas. Pas kita tanya itu ada banyak yang dari luar kota Gresik," tambahnya
Imam menduga sebagian besar penonton yang memadati jalur kirab bukan warga Desa Menganti. Sebab, warga setempat banyak yang terlibat dalam rombongan kirab maupun menyaksikan kegiatan di lapangan.
"Kalau warga sini itu banyak yang menunggu di lapangan. Itu yang dari luar kota banyak yang memadati jalan raya," tuturnya.
Menurut Imam, kondisi tersebut membuat armada sound horeg kesulitan melintas menuju lokasi finis. Perjalanan rombongan menjadi lambat hingga akhirnya kegiatan berlangsung lebih lama dari jadwal.
"Penontonnya sangat banyak, itu yang menjadi penyebab utama kemacetan truk. Jadi menghambat perjalanan armada yang membawa sound. Itu ada juga yang berada di dekat ban truk itu, Mas," jelasnya.
Akibatnya, kegiatan yang semula dijadwalkan selesai maksimal tengah malam baru berakhir sekitar pukul 04.00 WIB. Ia pun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, terutama pengguna jalan raya dan petugas keamanan yang terdampak kegiatan tersebut.
