Upacara Hari Sumpah Pemuda 2026: Jadwal, Susunan Acara dan Ketentuan

Upacara Hari Sumpah Pemuda 2026: Jadwal, Susunan Acara dan Ketentuan

Fathir Rofi - detikJatim
Selasa, 27 Okt 2026 14:45 WIB
Ilustrasi upacara bendera Hari Sumpah Pemuda.
Ilustrasi upacara bendera Hari Sumpah Pemuda. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) telah menerbitkan pedoman upacara bendera peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026. Upacara dijadwalkan berlangsung pada Rabu 28 Oktober 2026 dengan pelaksanaan secara tatap muka.

Berdasarkan Surat Edaran Menteri Pemuda dan Olahraga Nomor 10.14.19 Tahun 2026, upacara digelar sesuai ketentuan masing-masing instansi. Berikut jadwal, ketentuan pelaksanaan, dan susunan acara upacara Hari Sumpah Pemuda 2026.

Ketentuan Upacara Hari Sumpah Pemuda 2026

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 dapat dilakukan melalui upacara yang diselenggarakan sesuai pedoman resmi. Ada sejumlah ketentuan yang perlu diperhatikan instansi maupun penyelenggara, mulai dari pelaksanaan upacara hingga tata cara penyelenggaraannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  • Hari/Tanggal: Rabu 28 Oktober 2026.
  • Waktu: 08.00 s/d selesai (mengikuti waktu setempat).
  • Tempat: Halaman kantor/lapangan/menyesuaikan.
  • Pakaian:
    • Peserta Upacara: Pakaian Dinas Harian
    • Petugas Upacara: Sesuai ketentuan

Susunan Upacara Hari Sumpah Pemuda 2026

Dalam pelaksanaannya, peserta upacara diwajibkan mengenakan pakaian dinas harian, sementara petugas upacara menyesuaikan dengan ketentuan instansi masing-masing.

Rangkaian acara pokok upacara bendera disusun secara sistematis agar dapat dipandu dengan lancar oleh petugas upacara. Berikut susunan acara resmi upacara Hari Sumpah Pemuda 2026.

ADVERTISEMENT
  1. Peserta dan petugas upacara siap di tempat upacara.
  2. Pemimpin upacara menyiapkan barisan.
  3. Pembina upacara memasuki tempat upacara.
  4. Penghormatan umum kepada pembina upacara.
  5. Laporan pemimpin upacara kepada pembina upacara.
  6. Pengibaran bendera Sang Merah Putih.
  7. Pembacaan Pancasila oleh pembina upacara, diikuti seluruh peserta.
  8. Pembacaan teks keputusan kongres pemuda Indonesia 1928.
  9. Pemberian tanda penghargaan di bidang kepemudaan (jika ada).
  10. Sambutan pembina upacara.
  11. Menyanyikan lagu-lagu Nasional (Bangun Pemudi Pemuda dan Satu Nusa Satu Bangsa).
  12. Pembacaan doa.
  13. Laporan pemimpin upacara kepada pembina upacara.
  14. Penghormatan umum kepada pembina upacara.
  15. Upacara selesai.

Tema Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026

Tema yang diangkat tahun ini adalah "Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia". Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat persatuan dan kesatuan pemuda.

Juga meningkatkan peran serta kepemimpinan pemuda dalam pembangunan, serta mendorong lahirnya generasi muda yang kreatif, inovatif, berdaya saing, dan berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa.

Logo Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026

Logo Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 mengusung filosofi "Besi yang Menjadi Cahaya". Filosofi ini menggambarkan perjalanan bangsa yang ditempa oleh waktu dan sejarah, tetapi tetap mampu menghasilkan cahaya.

Besi melambangkan tubuh, api menjadi simbol semangat, sedangkan cahaya menggambarkan tujuan bersama, yakni Indonesia yang tangguh, berjiwa besar, dan berempati.

Logo Hari Sumpah Pemuda tahun ini memuat tiga nilai utama, yaitu patriotik, gigih, dan berempati. Ketiganya menggambarkan semangat pemuda dalam menjaga persatuan, menghadapi tantangan, serta memberikan kontribusi positif bagi sesama dan bangsa.

1. Patriotik

Gerak melingkar yang menyerupai sayap Garuda menjadi simbol bahwa cinta tanah air adalah daya angkat, bukan beban. Patriotisme tidak sekadar diwujudkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui keteguhan dalam menjaga semangat agar terus hidup untuk generasi berikutnya.

"Patriot sejati bukan yang menguasai tanah, tapi yang menjaga cahayanya tetap hidup."

2. Gigih

Logam tidak langsung bersinar. Ia membutuhkan waktu, tekanan, dan panas. Begitu pula pemuda Indonesia, yang dapat menjadikan setiap tantangan sebagai proses untuk menempa diri.

"Gigih bukan sekadar bertahan, tapi terus menyala ketika yang lain padam."

3. Berempati

Cahaya yang lahir di tengah pusaran tidak menyilaukan, tetapi menghangatkan. Cahaya tersebut hadir bukan untuk mendominasi, melainkan untuk menerangi.

"Kekuatan tanpa empati hanyalah kekerasan; empati menjadikan kekuatan bermakna."



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads