Dua peristiwa ledakan dahsyat yang diduga dipicu kebocoran gas elpiji mengguncang Surabaya sepanjang Oktober 2026. Ledakan pertama terjadi di kawasan ruko San Antonio, Pakuwon City, saat karyawan rumah makan tengah memasak, sedangkan ledakan kedua terjadi di permukiman Kupang Segunting hingga merusak sejumlah rumah warga.
Dua peristiwa tersebut sama-sama menimbulkan kerusakan bangunan dan korban luka. Di Pakuwon City, lima karyawan rumah makan mengalami luka, sementara ledakan di Kupang Segunting menyebabkan dua orang lanjut usia (lansia) harus mendapatkan perawatan medis, salah satunya mengalami luka bakar sekitar 60% di tubuhnya.
1. Ledakan Pakuwon City Terjadi Saat Koki Memasak
Ledakan pertama terjadi di Rumah Makan (RM) Nasi Tempong Sri Dewi, Klaster Komersial San Antonio, Pakuwon City, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, Selasa (6/10/2026) pagi. Dentuman keras sekitar pukul 07.00 WIB itu mengejutkan warga dan pekerja yang beraktivitas di sekitar lokasi.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan mengatakan ledakan terjadi ketika koki sedang memasak. Sebelum ledakan, koki tersebut sempat mencium bau gas.
"Tadi sekitar pukul 07.00 (WIB) ketika koki sedang memasak, memang sempat mencium bau gas. Kemudian dalam sekejap terjadi semacam ledakan," kata Luthfie di lokasi, Selasa (6/10/2026).
Informasi yang dihimpun detikJatim juga menyebut alarm LPG sempat berbunyi sebelum ledakan. Namun, para karyawan tidak sempat menyelamatkan diri karena peristiwa berlangsung sangat cepat.
Ledakan di Pakuwon City mengakibatkan lima karyawan RM Nasi Tempong Sri Dewi mengalami luka. Pada awal penanganan, empat korban dibawa ke RSUD Haji Surabaya, sedangkan satu korban lainnya dibawa ke RSUD Dr Soetomo.
Empat korban yang dibawa ke RSUD Haji terdiri atas tiga laki-laki dan satu perempuan. Mereka mengalami luka bakar dengan persentase sekitar 13-18%. Dua korban kemudian dirujuk ke RSUD Dr Soetomo karena mengalami trauma inhalasi disertai luka bakar.
Dampak ledakan juga meluas ke bangunan dan kendaraan di sekitar rumah makan. Pendataan BPBD Surabaya hingga Selasa siang mencatat 58 bangunan terdampak dan delapan kendaraan rusak.
Kaca-kaca ruko pecah, sedangkan sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan. Polisi bersama petugas terkait melakukan penanganan dan penyelidikan di lokasi.
Kombes Luthfie Sulistiawan menyebut terdapat tiga tabung LPG berkapasitas masing-masing 50 kilogram di rumah makan tersebut. Meski demikian, polisi menduga ledakan tidak berasal dari tabung yang meledak, melainkan berkaitan dengan kebocoran saluran gas.
"Saat ini kondisinya kalau untuk tabungnya tidak meledak, tapi kan itu diduga karena kebocoran. Kebocoran itu diduga karena dari pipanya ya, sementara dugaannya," tambahnya.
Tim penjinak bom dari Gegana Polda Jatim turut memeriksa lokasi. Dari pemeriksaan awal, petugas tidak menemukan bahan peledak yang mengarah pada ledakan bom.
Danden Gegana Satbrimob Polda Jatim Kompol Dyan Vicky Sandi menjelaskan ledakan tersebut mengarah pada fenomena Boiling Liquid Expanding Vapor Explosion (BLEVE), yakni ledakan yang berkaitan dengan tekanan uap atau gas dalam kondisi tertentu.
Meski begitu, dugaan mengenai sumber kebocoran dan rangkaian kejadian masih perlu dipastikan melalui penyelidikan lebih lanjut.
2. Ledakan Terjadi di Kupang Segunting
Belum genap sebulan setelah kejadian di Pakuwon City, ledakan kembali terjadi di Surabaya. Kali ini, ledakan mengguncang permukiman di Jalan Kupang Segunting, Senin (26/10/2026) pagi.
Ledakan terjadi sekitar pukul 07.15 WIB dan diduga berkaitan dengan kebocoran tabung LPG berkapasitas 12 kilogram. Seorang warga bernama Agus Pramono menceritakan kuatnya dentuman yang dirasakannya hingga seperti gempa.
"Tadi itu jam 07.15 WIB ledakannya. Rasanya kayak gempa gitu," kata Agus kepada detikJatim, Senin (26/10/2026).
Ledakan tersebut merusak enam rumah. Bangunan yang berada di sekitar titik ledakan turut terdampak, sementara petugas BPBD bersama warga mengevakuasi korban dan melakukan penanganan di lokasi.
Dua orang menjadi korban dalam ledakan di Kupang Segunting. Keduanya merupakan Jeni, penghuni rumah yang menjadi pusat ledakan, dan Ruth, tetangga yang mengalami luka akibat serpihan kaca.
Komandan Regu Posko Surabaya Pusat BPBD Kota Surabaya Muhammad Musa mengatakan Jeni mengalami luka bakar sekitar 60% dari luas tubuhnya. Sementara itu, Ruth mengalami luka akibat terkena pecahan kaca dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
"Kondisinya sudah dikeluarkan oleh warga setelah itu ditangani oleh rekan-rekan BPBD. Korban mengalami luka bakar kurang lebih 60%," ujar Musa saat ditemui detikJatim di lokasi, Senin (26/10/2026).
Kedua korban dievakuasi ke rumah sakit berbeda. Jeni dibawa ke RSUD Dr Soewandhie, sedangkan Ruth dibawa ke RS William Booth.
BPBD Surabaya menduga ledakan di Kupang Segunting berkaitan dengan kebocoran LPG 12 kilogram. Salah satu dugaan awal ialah gas yang bocor tersulut ketika pemilik rumah menyalakan saklar listrik setelah memasak.
"Sepertinya sehabis masak menyalakan listrik, mungkin itu langsung meledak," ujar Musa.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan. Musa mengatakan kedua korban belum bisa diajak berkomunikasi sehingga keterangan langsung dari mereka belum diperoleh.
"Pastinya belum tahu ya, soalnya pemilik yang bersangkutan, korbannya masih belum bisa diajak bicara," katanya.
Polisi telah membawa sejumlah barang bukti dari lokasi, yakni tabung LPG 12 kilogram dan kipas angin. Barang-barang tersebut akan menjadi bagian dari proses penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti ledakan.
Simak Video "Video: Momen Polisi Gerebek Lokasi Penyutikan Gas Subsidi ke Nonsubsidi di Jambi"
(auh/hil)