MUI Jatim Imbau Masyarakat Gelar Salat Istisqa'

MUI Jatim Imbau Masyarakat Gelar Salat Istisqa'

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Senin, 26 Okt 2026 21:45 WIB
Umat Islam melaksanakan Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan di halaman Griya Agung Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (8/10/2026). Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan kembali menggelar Shalat Istisqa untuk memohon hujan kepada Allah SWT agar bencana kabut asap dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda Kota Palembang dan Sejumlah Kabupaten di Sumatera Selatan segera berakhir. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU
Ilustrasi salat istisqa (Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Surabaya -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengajak masyarakat menggelar salat istisqa' di tengah kekeringan yang meluas di sejumlah wilayah. MUI juga mengingatkan agar salat meminta hujan tersebut menjadi momentum muhasabah atau introspeksi diri, bukan sekadar ritual tahunan.

Saat ini sebanyak 24 kabupaten/kota di Jawa Timur telah menetapkan status darurat kekeringan. Pendistribusian air bersih pun terus dilakukan untuk membantu masyarakat di wilayah terdampak.

Pengurus MUI Jawa Timur, M Yunus Basyaiban, mengatakan salat istisqa perlu dimaknai sebagai kesempatan untuk mengevaluasi hubungan manusia dengan alam, sesama manusia, dan Allah SWT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menjadikan salat istisqa sebagai media, sebagai momentum untuk melakukan muhasabah atau evaluasi secara kolektif bukan sekedar ritual tahunan melainkan itu adalah bagian dari panggilan untuk melakukan evaluasi hubungan manusia dengan alam bagaimana hubungan manusia berinteraksi dengan sesama dan bagaimana hubungan manusia dengan Allah Tuhan yang Maha Kuasa," kata Yunus kepada detikJatim, Senin (26/10/2026).

ADVERTISEMENT

Selain menggelar salat istisqa pihaknya mengingatkan untuk tetap menggunakan alternatif lain yang dapat mendatangkan sumber air. Yakni pengeboran tanah, distribusi air bersih, hingga modifikasi cuaca yang biasa dilakukan. Sehingga, salat istisqa tersebut tidak mengesampingkan ikhtiar lahiriah (usaha nyata).

"Karena salat istisqa adalah sebuah ikhtiar yang sifatnya batiniah untuk kemudian kita lakukan bukan satu-satunya ikhtiar tetapi melengkapi ikhtiar yang sifatnya lahiriah yang bisa dilakukan oleh pemerintah, oleh negara yang masyarakat pun juga harus melakukan ikhtiar-ikhtiar dalam rangka melakukan ikhtiar yang sama dengan pemerintah," terangnya.

Di samping itu, Yunus berharap pelaksanaan salat istisqa dapat mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih peduli pada lingkungan. Mengingat, kondisi kekeringan tidak tiba-tiba terjadi begitu saja. Tetapi merupakan dampak dari kerusakan alam yang diperbuat tangan-tangan manusia. Bahkan, hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur'an.

"Kekeringan yang terjadi seringkali merupakan akibat dari perilaku-perilaku manusia yang melakukan eksploitasi secara ugal-ugalan, secara serakah melakukan langkah-langkah eksploitatif tanpa kemudian memperhatikan kondisi alam itu sebagaimana peringatan di dalam Al-Qur'an," bebernya.

Pihaknya meminta masyarakat untuk mulai menggunakan air secara bijak dan bertanggung jawab. Selain itu juga melakukan muhasabah ekologis pada masing-masing individu.

Menurutnya, kondisi semacam ini harus melahirkan perencanaan dan solusi jangka panjang yang disusun secara sistematis dan integratif.

"Jadi kalau misalnya nanti ada hujan maka jangan dibuang secara sia-sia dibuat kayak semacam untuk mengumpulkan air hujan itu dimasukkan ke dalam sebuah wadah yang cukup besar dan itu bisa diolah menjadi air yang bersih dan mensucikan dan yang terakhir menjaga kebersihan saluran air," pungkasnya.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads