Polemik dugaan aliran dana suap dan penyekapan dalam gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) kian memanas. Memasuki babak baru, perselisihan ini kini resmi berlanjut ke ranah hukum setelah langkah somasi yang dilayangkan pengurus PBNU tidak direspons oleh pihak terlapor.
Sekjen PBNU dikabarkan telah resmi melaporkan 3 pihak ke kepolisian berkaitan dengan tuduhan terhadap Muktamar ke-35 NU. Berikut deretan fakta terkait memanasnya polemik antarulama pascamuktamar NU yang dihimpun detikJatim.
Fakta-Fakta Polemik Usai Muktamar NU yang Memasuki Babak Baru
1. Gus Ipul Polisikan Tiga Tokoh Nahdliyin
Wakil Ketua Umum PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) resmi melaporkan tiga tokoh Nahdliyin ke kepolisian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga nama yang dilaporkan adalah Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim, Tokoh Muda NU asal Situbondo HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy (Gus Lilur), serta Pengasuh Ponpes Madrasatul Qur'an Tebuireng Jombang KH Musta'in Syafi'i.
2. Kiai Asep Sebut Laporan Polisi Akan Buka Tabir Kebenaran
Merespons laporan kepolisian tersebut, Kiai Asep menanggapinya secara santai. Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah ini menilai langkah hukum Gus Ipul justru akan memperjelas dan membongkar dugaan politik uang di arena muktamar kepada publik.
"Masalah kecil itu selesai. Pokoknya Gus Ipul itu, seribu kali dia mengelak, atmosfer Indonesia menjadi saksi akan hiruk-pikuknya risywah di muktamar dan terjadinya penyekapan-penyekapan," ujar Kiai Asep di Surabaya, Jumat (23/10/2026).
3. Kiai Asep Ibaratkan Dugaan Suap Seperti Bau Busuk
Kiai Asep menegaskan bahwa dugaan risywah (suap) serta penyekapan dalam Muktamar ke-35 NU sudah menjadi rahasia umum di tengah masyarakat yang tidak bisa ditutupi lagi.
"Siapa terus yang mau menjawab? Ya atmosfer. Atmosfer itu artinya rahasia umum. Harusnya dirahasiakan tapi umum semua sudah mengetahui. Bukan hanya baunya itu bukan hanya sekadar seperti bau kentut. Kalau kentut itu kan jelas bau dan tidak kelihatan. Tapi ini kan sudah bau busuk dan kelihatan. Mau seribu kali mengelak, seribu kali pula atmosfer berbicara menjawab ada risywah, ada penyekapan," tegas Kiai Asep.
4. Sempat Diwanti-wanti Minta Maaf Secara Terbuka
Sebelum pelaporan polisi resmi dibuat, Kiai Asep sejatinya telah memberikan peringatan agar Gus Ipul selaku Ketua Panitia Muktamar menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada warga Nahdliyin demi menjaga kondusivitas.
"Ya menurut saya untuk melakukan kekondusifan situasi, Gus Ipul harus minta maaf atas nama ketua panitia. Bahwa muktamar itu telah banyak hiruk-pikuk orang membicarakan banyak risywah (suap) dan penyekapan. Untuk itu minta maaf kepada seluruh keluarga, semoga hal ini tidak akan pernah terulang kembali, gitu kan sudah bagus. Itu ditunggu, diakui," ungkap Kiai Asep pada Jumat (9/10/2026).
5. PBNU Tegaskan Tidak Ada Dana Korupsi dan Penyekapan
Di sisi lain, PBNU membantah keras seluruh tuduhan tersebut. Gus Ipul mengklarifikasi bahwa tuduhan mengenai aliran uang haram maupun aksi kekerasan saat muktamar merupakan fitnah tanpa bukti yang memiliki konsekuensi hukum.
"Sekali lagi saya ingin memastikan, tidak ada uang hasil korupsi yang mengalir ke Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama. Ini perlu saya ulang-ulang terus agar masyarakat Nahdliyin dan juga pengurus Nahdlatul Ulama mengerti dengan benar bahwa isu-isu yang dikembangkan oleh pihak-pihak itu hanya isapan jempol," kata Gus Ipul.
"Itu tuduhan yang tidak disertai dengan bukti. Membual punya konsekuensi hukum. Perlu ditegaskan, proses muktamar berjalan dengan baik. Semua tahu, untuk itu tidak ada cara-cara komunis, tidak ada penyekapan-penyekapan," tegasnya.
