Misteri suara dentuman keras yang menggelegar di sekitar kawasan Gunung Pandan pada Minggu (18/10/2026) petang makin bikin penasaran. Peristiwa yang menggemparkan warga perbatasan Kabupaten Madiun dan Bojonegoro itu kini menyisakan lubang misterius beserta serpihan logam di tengah kebun jagung milik warga.
Kejadian bermula ketika warga di lereng Gunung Pandan dikagetkan oleh satu dentuman keras tepat saat azan Magrib berkumandang. Suara tersebut terdengar amat nyaring hingga memicu beragam spekulasi di media sosial. Sejumlah warga dari wilayah Nganjuk, Tuban, hingga perbatasan Bojonegoro mengaku turut mendengarkan getaran suara tersebut.
"Infonya begitu (ada suara dentuman) tapi saya sedang di Karangjati Ngawi. Tapi info saking (dari) masyarakat sami mireng (mendengarkan)," ujar Kepala Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Suprapto, Rabu (21/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rasa penasaran warga mulai terjawab 2 hari berselang. Selasa (20/10) sekitar pukul 11.00 WIB, warga Desa Pajaran, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun dikagetkan dengan temuan lubang menganga di tengah kebun jagung milik Satimin (58).
Lubang yang ditemukan warga bernama Sutarno itu memiliki diameter sekitar 100 centimeter dengan kedalaman mencapai 160 centimeter. Bercak tanah bekas hantaman bahkan berceceran hingga radius lima meter.
"Betul ada temuan lubang masih belum diketahui lubang apa. Lokasi di kebun jagung petani. Ditemukan lubang sedalam 160 cm dengan diameter 100 cm. Juga ditemukan percikan tanah," jelas Kapolres Madiun, AKBP Ridwan Maliki.
Teka-teki keberadaan lubang itu semakin pekat usai polisi menemukan benda asing tak jauh dari titik lubang. Serpihan logam seukuran telapak tangan orang dewasa ditemukan tergeletak sekitar 5 meter dari bibir lubang. Polisi bergerak cepat mengamankan benda misterius tersebut ke Mapolres Madiun untuk dilakukan pengujian laboratorium.
"Ada benda serpihan ditemukan di dekat lubang. Seukuran telapak tangan orang dewasa serpihan yang ditemukan. Masih kita amankan di Polres Madiun dan kita masih lakukan upaya penyelidikan," tegas Ridwan.
Di sisi lain, fenomena dentuman ini sempat dikaitkan dengan aktivitas kegempaan di perut bumi. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada rekaman aktivitas gempa tektonik maupun vulkanik di sekitar Gunung Pandan saat peristiwa itu terjadi.
"Kalau berdasarkan tupoksi kami di BMKG, tidak ada aktivitas kegempaan yang terjadi di sekitar Gunung Pandan," terang Petugas Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya BMKG Nganjuk, Setiyaris.
Setiyaris menambahkan, suara dentuman di udara bisa dipicu oleh berbagai faktor atmosferik maupun gelombang tekanan udara dari pelepasan energi tertentu.
"Perlu diverifikasi lagi karena dentuman banyak penyebabnya, secara teori memang salah satu kemungkinan dentuman misterius yang terdengar di suatu wilayah adalah gelombang akustik akibat aktivitas tektonik atau vulkanik. Secara sederhana, pelepasan energi di dalam bumi dapat menghasilkan getaran yang merambat melalui batuan dan, dalam kondisi tertentu, memicu gelombang tekanan di udara," bebernya.
"Gelombang suara atau infrasonik ini dapat merambat jauh, mengalami pembiasan dan pemantulan oleh lapisan atmosfer, sehingga suara terdengar di lokasi yang jauh dari sumbernya. Namun, tidak semua dentuman berasal dari aktivitas tektonik atau vulkanik. Fenomena atmosfer, petir, aktivitas manusia, maupun gelombang kejut juga dapat menimbulkan suara serupa. Untuk memastikan sumbernya, diperlukan korelasi data seismik, infrasonik, kondisi atmosfer, serta laporan pengamatan di lapangan," lanjut Setiyaris.
Guna menghindari kesimpangsiuran informasi dan menjaga lokasi kejadian dari kerumunan warga, tempat penemuan lubang misterius di Desa Pajaran kini telah dipasangi garis polisi.
Aparat kepolisian bersama pihak terkait masih terus melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap asal-usul serpihan logam dan memastikan keterkaitannya dengan suara dentuman misterius tersebut.
"Kita masih selidiki temuan lubang itu dan sudah kita beri police line," pungkas AKBP Ridwan Maliki.
