9 Bencana Alam Terbesar yang Pernah Terjadi di Jawa Timur

9 Bencana Alam Terbesar yang Pernah Terjadi di Jawa Timur

Myesha Fatina - detikJatim
Minggu, 18 Okt 2026 19:20 WIB
9 Bencana Alam Terbesar yang Pernah Terjadi di Jawa Timur.
9 bencana alam terbesar yang pernah terjadi di Jawa Timur. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Jawa Timur pernah mengalami bencana alam yang menimbulkan korban jiwa, merusak pemukiman, hingga memengaruhi kehidupan masyarakat selama berabad-abad. Sejumlah bencana besar yang tercatat di wilayah ini meliputi letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, dan banjir bandang.

Salah satu bencana alam paling dahsyat adalah letusan Gunung Kelud pada 1919 yang menewaskan sekitar 5.160 orang. Selain itu, gempa dan tsunami di Banyuwangi pada 1994 serta gempa bumi di wilayah Malang dan sekitarnya juga menjadi sejarah kebencanaan Jawa Timur.

Bencana Alam Terbesar di Jawa Timur

Catatan sejarah berikut menunjukkan dampak dari berbagai bencana tersebut, mulai dari jumlah korban jiwa hingga kerusakan yang ditimbulkan. Beberapa di antaranya bahkan menjadi peristiwa penting dalam sejarah kebencanaan di Jawa Timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Letusan Gunung Kelud (1919)

Letusan Gunung Kelud pada 19-20 Mei 1919 tercatat sebagai salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah Jawa Timur. Peristiwa ini menewaskan sekitar 5.160 orang.

ADVERTISEMENT

Letusan terjadi pada tengah malam. Sekitar pukul 01.15 WIB, terdengar dentuman keras yang bahkan dilaporkan sampai ke Kalimantan. Setelah itu, hujan abu menyebar ke sejumlah wilayah, sementara hujan batu dan kerikil terjadi di lereng gunung.

Bencana semakin parah ketika air danau kawah keluar dan membentuk aliran lahar. Sekitar pukul 01.30 WIB, aliran tersebut memasuki Kota Blitar. Campuran air panas, lumpur, pasir, dan batuan mengakibatkan kerusakan besar. Kecepatan aliran lahar diperkirakan mencapai 18 meter per detik atau sekitar 65 kilometer per jam.

Berdasarkan dokumen yang dihimpun oleh Program Studi Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember, letusan tersebut menyebabkan 104 desa rusak berat. Kerusakan juga meliputi sekitar 5.050 hektare sawah, tegalan, pekarangan, dan perkebunan. Sebanyak 1.571 hewan dilaporkan mati.

2. Letusan Gunung Kelud (1586)

Jauh sebelum letusan 1919, Gunung Kelud juga pernah mengalami letusan dahsyat pada 1586. Peristiwa ini diperkirakan menewaskan sekitar 10.000 orang. Raffles dalam History of Java yang terbit pada 1817 menggambarkan letusan Kelud sebagai peristiwa dahsyat yang membuat wilayah sekitarnya tertutup kegelapan pekat.

Gunung Kelud memang memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang panjang. Sejumlah letusannya tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga meninggalkan endapan vulkanik yang menutupi situs-situs bersejarah.

Salah satu contohnya adalah Situs Candi Kepung di Kabupaten Kediri. Situs yang ditemukan pada 1980 itu tertimbun material hingga kedalaman sekitar tujuh meter. Penelitian geoarkeologi memperkirakan endapan yang menutup situs berkaitan dengan sejumlah letusan Gunung Kelud pada masa lampau.

3. Gempa dan Tsunami Banyuwangi (1994)

Pada 3 Juni 1994, gempa bumi kuat mengguncang wilayah selatan Jawa Timur dan memicu tsunami. Peristiwa ini menjadi salah satu bencana paling mematikan di pesisir selatan provinsi tersebut.

Gempa ini disebut memiliki magnitudo sekitar 7 hingga 7,8. Tsunami yang menyusul dilaporkan mencapai ketinggian 13,9 meter dan menyebabkan sekitar 250 orang meninggal dunia.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di Banyuwangi. Sejumlah wilayah pesisir lain, termasuk Jember, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, dan Pacitan, juga tercatat terdampak. Beberapa lokasi yang terdampak antara lain Rajegwesi, Gerangan, Lampon, Pancer, Grajagan, Pulau Merah, dan Sukamade.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa ancaman bencana di Jawa Timur tidak terbatas pada aktivitas gunung berapi dan gempa yang merusak bangunan. Gempa di laut juga dapat memicu tsunami yang mengancam masyarakat di sepanjang pesisir.

4. Gempa Malang (2021)

Gempa bermagnitudo 6,1 mengguncang wilayah selatan Jawa Timur pada Sabtu 10 April 2021, sekitar pukul 14.00 WIB. Pusat gempa berada di laut selatan Jawa Timur, sekitar 90 kilometer barat daya Kabupaten Malang.

Guncangan membuat warga panik dan berlarian keluar rumah maupun gedung. Kerusakan dilaporkan terjadi di Kabupaten Malang, Blitar, dan Lumajang. Meski demikian, gempa tersebut dinyatakan tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Malang hingga 19 April 2021, gempa berdampak pada 32 kecamatan. Sebanyak empat orang meninggal dunia dan 110 orang mengalami luka-luka.

Kerusakan juga terjadi pada 10.482 rumah, yang terdiri atas 4.490 rumah rusak ringan, 4.104 rusak sedang, dan 1.888 rusak berat. Selain permukiman, terdapat 226 sekolah, 23 fasilitas kesehatan, 233 tempat ibadah, dan 159 fasilitas umum lainnya yang dilaporkan mengalami kerusakan.

5. Gempa Dampit (1967)

Gempa bumi mengguncang wilayah Dampit, Malang, pada 19 Februari 1967. Gempa tersebut memiliki magnitudo 6,2 skala richter dengan intensitas guncangan mencapai VIII-IX MMI di Dampit.

Dampaknya cukup parah. Sebanyak 14 orang meninggal dunia dan 72 orang mengalami luka-luka. Terdapat 1.539 bangunan di Dampit hancur akibat gempa. Kerusakan juga terjadi di wilayah lain.

Di Gondang, sembilan orang meninggal dunia dan 49 orang terluka. Sebanyak 119 bangunan dilaporkan hancur, 402 bangunan mengalami retak, dan lima masjid rusak hingga hancur.

Sementara itu, di Trenggalek, sebanyak 33 rumah kayu dilaporkan retak. Beberapa rumah bahkan disebut berpindah akibat guncangan. Gempa Dampit menjadi salah satu risiko gempa tektonik di Jawa Timur, khususnya wilayah selatan yang berulang kali mengalami guncangan kuat.

6. Gempa Malang pada 1958

Pada 20 Oktober 1958, gempa bermagnitudo 6,7 mengguncang Malang dan sekitarnya. Intensitas guncangan di wilayah tersebut tercatat mencapai VII-VIII MMI. Bencana ini menewaskan delapan orang.

Sejumlah rumah mengalami kerusakan serius, sementara tanah dilaporkan retak di beberapa tempat. Longsor juga terjadi di kawasan pegunungan.

Gempa tersebut memperlihatkan bahwa dampak bencana tidak hanya berupa bangunan roboh. Kondisi tanah dan lingkungan di sekitar wilayah terdampak juga dapat berubah setelah guncangan kuat.

Malang termasuk wilayah yang beberapa kali mengalami gempa merusak. Peristiwa pada 1958 dan 2021 menjadi dua contoh gempa yang berdampak terhadap masyarakat di kawasan tersebut.

7. Gempa dan Tsunami Gandusari pada 1972

Gempa di wilayah Blitar-Trenggalek pada 4 November 1972. Gempa tersebut disebut memiliki magnitudo 6 skala richter dengan intensitas V-VI MMI. Dampak dari gempa tersebut, antara lain 250 orang meninggal dunia, 127 orang hilang, dan 423 orang mengalami luka-luka.

Sekitar 1.500 rumah dilaporkan rusak, sedangkan 278 perahu mengalami kerusakan atau hilang. Peristiwa tersebut disertai tsunami dengan ketinggian gelombang belasan meter dan jangkauan hingga sekitar 500 meter dari pantai.

8. Banjir Bandang Sitiarjo pada 2022

Bencana besar di Jawa Timur tidak hanya berupa letusan gunung dan gempa. Desa Sitiarjo di Kabupaten Malang juga memiliki sejarah banjir yang berulang sejak masa kolonial.

Banjir besar pernah terjadi pada 1939, ketika wilayah tersebut mengalami sebelas kali banjir dalam satu tahun. Peristiwa serupa kemudian tercatat pada 1957, 1965, 1973, 1985, dan 1995. Banjir bandang juga terjadi pada 2003, 2013, 2014, dan 2016.

Pada 2022, banjir bandang berdampak terhadap sekitar 1.600 warga. Lebih dari 250 warga Dusun Rowotrate terpaksa mengungsi karena ketinggian air mencapai sekitar tiga meter.

Banjir berulang membuat masyarakat menghadapi risiko yang sama dari tahun ke tahun. Selain kerusakan rumah dan barang milik warga, kondisi ini juga mengganggu kegiatan sehari-hari serta memaksa sebagian penduduk meninggalkan rumah untuk sementara waktu.

9. Banjir Bandang Sitiarjo pada Juni 2023

Banjir bandang kembali melanda Desa Sitiarjo pada 7-8 Juni 2023. Peristiwa ini menjadi bagian dari rangkaian banjir berulang yang tercatat di wilayah tersebut.

Salah satu hal yang disoroti adalah munculnya banjir ketika wilayah sedang memasuki musim kemarau. Hujan yang datang secara tidak terduga disebut sebagai salah satu faktor yang memicu kejadian tersebut.

Banjir di Sitiarjo menunjukkan bahwa bencana dapat terjadi meskipun masyarakat merasa sudah terbiasa menghadapinya. Pengalaman dari kejadian sebelumnya juga tidak selalu membuat risiko menjadi lebih kecil, terutama jika wilayah permukiman masih rentan terhadap genangan dan aliran banjir bandang.

Karena itu, penanganan banjir tidak cukup hanya dilakukan ketika air sudah naik. Pemetaan daerah rawan, edukasi masyarakat, sistem peringatan dini, dan rencana evakuasi juga menjadi bagian penting dari upaya mengurangi dampak bencana.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads