Kurikulum Kemenag Berbasis Cinta di Madrasah, Apa Itu?

Kurikulum Kemenag Berbasis Cinta di Madrasah, Apa Itu?

Maratus Sholikah - detikJatim
Sabtu, 17 Okt 2026 23:00 WIB
Ilustrasi madrasah.
Ilustrasi madrasah. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Kementerian Agama (Kemenag) mengembangkan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai pendekatan pendidikan yang bertujuan menanamkan nilai kasih sayang, toleransi, dan kepedulian kepada peserta didik sejak dini.

Pendekatan ini menekankan pentingnya membangun hubungan yang baik dengan Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa melalui proses pembelajaran. Lantas, apa yang dimaksud dengan Kurikulum Berbasis Cinta, apa tujuan dan nilai utamanya, serta bagaimana penerapannya di madrasah?

Apa Itu Kurikulum Berbasis Cinta Kemenag?

KBC merupakan pendekatan pendidikan yang digagas Kemenag untuk menanamkan nilai-nilai cinta, toleransi, dan kepedulian kepada peserta didik. Pendekatan ini dilatarbelakangi masih adanya sikap intoleran, kebiasaan saling menyalahkan, serta kebencian terhadap orang lain karena perbedaan keyakinan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melalui KBC, pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan perubahan sikap peserta didik. Nilai-nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran.

Dengan demikian, KBC bukan mata pelajaran baru, melainkan pendekatan pembelajaran yang diharapkan mampu membentuk peserta didik yang toleran, humanis, cinta tanah air, dan peduli terhadap lingkungan.

ADVERTISEMENT

Apa Tujuan Kurikulum Berbasis Cinta?

KBC bertujuan membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keimanan, akhlak mulia, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.

Pendekatan ini berupaya menyeimbangkan aspek intelektual, spiritual, dan emosional agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang humanis, toleran, dan bertanggung jawab.

Dalam artikel ilmiah berjudul "Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam Perspektif QS. Āli 'Imrān [3]: 31: Membangun Ruh Cinta kepada Allah, Rasul, dan Alam dalam Pendidikan", yang ditulis Lintang Dewi Fi'liya Putri dan Dika Purnama Aulia Rohma, KBC menekankan penanaman cinta kepada Allah, keteladanan Rasulullah, serta kepedulian terhadap sesama dan alam.

Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat membentuk karakter peserta didik yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial maupun ekologis.

Lima Nilai Utama dalam Kurikulum Berbasis Cinta

KBC menekankan pembentukan karakter peserta didik melalui nilai-nilai yang mengajarkan kasih sayang, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama serta lingkungan. Terdapat lima nilai utama yang menjadi landasan penerapan kurikulum ini dalam proses pembelajaran.

  • Cinta kepada Tuhan, sebagai dasar untuk menumbuhkan kasih sayang terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya.
  • Cinta kepada sesama manusia, diwujudkan dengan saling menghormati, menjaga, dan menyayangi tanpa bermusuhan.
  • Cinta kepada hewan, melalui kepedulian dan perlakuan yang baik terhadap hewan sebagai bagian dari ciptaan Tuhan.
  • Cinta kepada tumbuhan, dengan menghargai dan menjaga keberadaan tumbuhan.
  • Cinta kepada alam semesta, melalui upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan menyadari bahwa seluruh unsur alam saling bergantung.

Kelima nilai tersebut diharapkan dapat ditanamkan melalui pembelajaran yang menarik dan aplikatif sehingga peserta didik tidak hanya memahami nilai cinta, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah?

KBC diterapkan di madrasah dengan mengintegrasikan nilai-nilai cinta ke dalam proses pembelajaran dan budaya sekolah. Berdasarkan pemberitaan Kanwil Kemenag Sulawesi Tengah, pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, penguatan moral, dan pengembangan kecakapan hidup peserta didik.

Penerapan KBC didukung oleh pendampingan pengawas madrasah. Pendampingan ini mencakup pemahaman konsep KBC bagi guru dan kepala madrasah, serta penyusunan dan pelaksanaan pembelajaran yang humanis dan bermakna.

Nilai-nilai KBC juga diintegrasikan ke dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler agar dapat diterapkan dalam keseharian peserta didik. Ada enam nilai utama yang dikembangkan dalam KBC, yaitu spiritual, personal, sosial, ekologis, kebangsaan, dan intelektual.

Nilai spiritual diwujudkan melalui ketaatan beragama, nilai personal melalui penghargaan terhadap diri sendiri, dan nilai sosial melalui sikap menghormati serta peduli terhadap orang lain.

Sementara itu, nilai ekologis mendorong kepedulian terhadap lingkungan, nilai kebangsaan menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air, dan nilai intelektual mengembangkan kejujuran, kreativitas, serta semangat belajar.

Melalui penerapan nilai-nilai tersebut, KBC diharapkan dapat membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia, toleran, dan peduli terhadap sesama serta lingkungan.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads