Soekarno Muda dan Gairah Persatuan dari Gang Peneleh

Soekarno Muda dan Gairah Persatuan dari Gang Peneleh

Fadya Majida Az-Zahra - detikJatim
Jumat, 31 Jul 2026 19:00 WIB
Pengunjung memotret arsip foto Presiden pertama RI Soekarno dalam pameran Arsip Gagasan yang Tercetak : Bung Karno Dalam Visual di Rumah Pohan Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (18/6/2025). Pameran yang menampilkan ratusan koleksi sejarah prangko Indonesia yang dicetak antara tahun 1949-1953 cetakan Wina dan Philadelphia, repro lukisan karya Soekarno dan seniman, buku perjuangan Soekarno, serta arsip fotografi perjalanan Bung Karno selama menjadi presiden pertama RI itu bertujuan untuk menggugah kembali kesadaran sejarah kepada masyarakat terutama generasi muda. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/rwa.
Potret Soekarno (Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar)
Surabaya -

Di sebuah gang sempit di Surabaya, tepatnya di Gang Peneleh VII No. 29-31, sejarah bangsa Indonesia pernah berdenyut kuat. Dari rumah kontrakan sederhana milik H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin besar Sarekat Islam, lahir generasi muda yang kelak menyalakan bara perjuangan kemerdekaan.

Salah satunya adalah Soekarno muda. Lantas, bagaimana kisah perjuangan Soekarno di Surabaya bermula?

Jejak Awal Sang Pemimpin

Dilansir dari artikel berjudul Masa Muda Soekarno dan Transformasi Pemikiran Politiknya dari H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya Pada Tahun 1916-1921 karya Nurani Putri (2016), Soekarno lahir sebagai anak yang cerdas dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS), ayahnya telah menyiapkan rencana besar bagi masa depan putranya. Berkat jaringan pertemanan dan pengaruh yang dimiliki, Raden Soekemi berhasil memasukkan Soekarno ke Hogere Burger School (HBS) Surabaya, sekolah menengah bergengsi yang pada masa itu merupakan jenjang pendidikan tertinggi di Jawa Timur dan setara dengan SMA saat ini.

Pada 1916, Soekarno muda tiba di Surabaya, kota yang berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan modernitas. Ia bahkan menggambarkannya sebagai "New York di Timur". Di usia 16 tahun, Soekarno hidup di tengah kota yang dinamis, tempat masyarakat pribumi dan warga Eropa hidup berdampingan, tetapi tetap terpisah oleh sekat sosial.

ADVERTISEMENT

Selama bersekolah, Soekarno tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Gang Peneleh, sementara gedung HBS berada di Jalan Regentenstraat, yang kini berada di sekitar kawasan Kantor Pos Besar Surabaya. Jarak keduanya hanya sekitar satu kilometer sehingga memudahkan aktivitasnya sehari-hari.

HBS menerapkan sistem pendidikan yang ketat dengan standar Belanda dan Jerman. Dalam sepekan, siswa mengikuti 36 jam pelajaran yang mencakup ilmu pasti, sejarah, geografi, kimia, hingga empat bahasa asing, yakni Belanda, Prancis, Jerman, dan Inggris.

Menariknya, bahasa Melayu maupun bahasa Jawa tidak masuk dalam kurikulum. Hal ini mencerminkan pandangan pemerintah kolonial terhadap budaya lokal. Salah satu mata pelajaran yang paling membekas bagi Soekarno adalah Sejarah Hindia Belanda.

Alih-alih menerima narasi kolonial, pelajaran tersebut justru membangkitkan semangat nasionalismenya karena menggambarkan tokoh-tokoh pribumi secara merendahkan, termasuk Pangeran Diponegoro yang disebut sebagai "pangeran tak berbudi."

Sebagai pelajar bumiputera di sekolah kolonial, Soekarno juga kerap merasakan diskriminasi. Dari sekitar 300 siswa HBS, hanya sekitar 30 orang yang berasal dari kalangan pribumi. Perbedaan perlakuan antara siswa Belanda dan Indonesia sangat terasa, terutama dalam penilaian maupun pemberian sanksi.

Namun, situasi tersebut tidak membuat Soekarno menyerah. Ia justru semakin giat belajar, aktif mengikuti diskusi, dan membangun jejaring intelektual bersama rekan-rekannya, seperti Hermen Kartosuwiryo, Goesti Mohammad Noor, dan Djokomarsaid.

Mereka kerap berkumpul di Panti Harsojo untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan bangsa, termasuk gagasan tentang kemerdekaan yang saat itu masih dianggap sebagai topik terlarang.

Lima tahun menempuh pendidikan di HBS, Soekarno berhasil lulus pada 10 Juni 1921. Dari 67 peserta ujian, hanya 52 orang yang dinyatakan lulus, termasuk lima pelajar pribumi, salah satunya Soekarno. Di tengah sistem pendidikan kolonial yang menekan dan berorientasi Barat, ia berhasil membuktikan diri sebagai salah satu pelajar terbaik.

Pendidikan di HBS tidak hanya membekalinya dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga kemampuan berbahasa asing yang mumpuni. Bekal intelektual tersebut kemudian menjadi modal penting bagi Soekarno dalam membangun pemikiran politik dan menyampaikan gagasannya kepada masyarakat luas.

Setelah lulus pada 1921, Soekarno melanjutkan pendidikan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS), yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan mengambil jurusan Teknik Sipil.

Meski sempat mengambil cuti kuliah karena persoalan politik dan kehidupan pribadi, Soekarno berhasil menyelesaikan studinya dan memperoleh gelar Insinyur (Ir.) pada 25 Mei 1926. Selama berada di Bandung, ia tidak hanya memperdalam ilmu teknik, tetapi juga semakin mematangkan gagasan politiknya hingga aktivitas akademik dan pergerakan berjalan beriringan.

Pengaruh Tjokroaminoto dan Lahirnya Kesadaran Nasional

Sejak mengirim Soekarno ke Surabaya, Raden Soekemi telah menyiapkan tempat tinggal bagi putranya. Ia mempercayakan Soekarno muda kepada sahabat lamanya, H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin besar Sarekat Islam yang sangat disegani.

Hubungan Soekemi dan Tjokroaminoto telah terjalin jauh sebelum Soekarno lahir. Keduanya sama-sama berasal dari kalangan priyayi terpelajar, meski memiliki pengaruh di lingkungan yang berbeda. Tjokroaminoto dihormati sebagai tokoh Sarekat Islam, sementara Soekemi dikenal di kalangan intelektual Jawa.

Karena itu, keputusan Soekemi menitipkan Soekarno kepada Tjokroaminoto bukanlah sebuah kebetulan. Langkah tersebut merupakan strategi pendidikan sekaligus pembentukan karakter agar putranya dapat belajar langsung dari seorang pemimpin rakyat.

Fase paling menentukan dalam pembentukan ideologi Soekarno terjadi saat ia tinggal di rumah Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII. Rumah sederhana itu menjadi tempat berkumpulnya sejumlah tokoh muda, seperti Alimin, Musso, Semaun, dan Darsono, yang kemudian menjadi figur penting dalam sejarah pergerakan Indonesia.

Rumah tersebut bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang diskusi yang mempertemukan berbagai gagasan tentang politik, agama, dan keadilan sosial.

Soekarno muda bahkan menyebut rumah itu sebagai "Dapur Nasionalisme", tempat berbagai ide kebangsaan "dimasak" setiap hari. Dari meja makan sederhana, ia menyaksikan langsung bagaimana Tjokroaminoto berdiskusi, berpidato, serta memimpin rakyat dengan kharisma yang kuat.

Di sanalah Soekarno belajar filsafat politik, teknik berpidato, serta pentingnya persatuan bangsa. Ia juga secara sadar meniru gaya orasi Tjokroaminoto yang lantang, logis, dan mampu membangkitkan semangat massa.

Di bawah bimbingan Tjokroaminoto, Soekarno tumbuh menjadi pemuda yang kritis, haus akan ilmu pengetahuan, dan berani menyampaikan pendapat. Ia mulai aktif di organisasi Tri Koro Dharmo yang kemudian berkembang menjadi Jong Java. Organisasi tersebut menjadi wadah bagi kaum muda untuk memperjuangkan kemajuan politik, ekonomi, dan sosial bangsa Indonesia.

Selain aktif berorganisasi, Soekarno juga mulai menulis di surat kabar Oetoesan Hindia. Melalui tulisan-tulisannya, ia mulai memperkenalkan gagasan-gagasan pergerakan yang kelak menjadi fondasi perjuangan nasional.

Hubungan antara guru dan murid itu semakin erat ketika pada 1921 Soekarno menikahi Siti Oetari, putri sulung H.O.S. Tjokroaminoto. Meski pernikahan tersebut tidak berlangsung lama, hubungan keduanya tetap dilandasi rasa hormat yang mendalam.

Sepanjang hidupnya, Soekarno selalu menyebut Tjokroaminoto sebagai guru spiritual sekaligus guru politik yang membentuk cara pandangnya terhadap rakyat dan bangsa.

Meski demikian, pengaruh Tjokroaminoto hanyalah awal dari perjalanan panjang pembentukan ideologi Soekarno. Setelah melanjutkan pendidikan ke Bandung, ia mulai memperluas cakrawala pemikirannya melalui interaksi dengan tokoh-tokoh Indische Partij, seperti Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, dan E.F.E. Douwes Dekker.

Pada 1926, Soekarno mendirikan Algemeene Studieclub (ASC), sebuah klub studi bagi mahasiswa pribumi yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI) setahun kemudian.

Di Bandung, pemikiran Soekarno berkembang dari yang semula moderat menjadi semakin revolusioner dan ideologis. Ia kemudian memadukan tiga arus besar pemikiran yang telah dikenalnya sejak tinggal di Peneleh, yakni nasionalisme, Islam, dan Marxisme, yang kemudian dikenal sebagai konsep Nasakom. Gagasan tersebut menjadi salah satu fondasi perjuangan anti-kolonialisme sekaligus simbol persatuan bangsa.

Dari Gang Peneleh yang sederhana hingga ruang kuliah di Bandung, Soekarno menapaki perjalanan panjang menuju kesadaran nasional. Pengaruh Tjokroaminoto bukan hanya melahirkan seorang murid, tetapi juga menyalakan api perjuangan yang kelak membakar semangat seluruh bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Warisan dari Gang Peneleh

Rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII, Surabaya, kini masih berdiri kokoh sebagai salah satu simbol penting sejarah bangsa yang telah dilindungi negara. Warisan dari Gang Peneleh bukan hanya berupa bangunan fisik, tetapi juga jejak pemikiran yang ikut membentuk ideologi dan kepemimpinan Indonesia.

Upaya pelestarian rumah bersejarah ini dimulai ketika Pemerintah Kota Surabaya menetapkannya sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui Surat Keputusan Wali Kotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya Nomor 188.45/251/402.1.04/1996 tertanggal 26 September 1996. Penetapan tersebut memberikan perlindungan hukum sekaligus menjamin upaya konservasi bangunan bersejarah itu.

Sebagai bentuk penghargaan sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat, rumah tersebut kemudian direnovasi dan diresmikan menjadi Museum H.O.S. Tjokroaminoto pada 27 November 2017 oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Kini, museum tersebut menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Surabaya yang memungkinkan masyarakat, khususnya generasi muda, menelusuri jejak awal lahirnya gagasan-gagasan kebangsaan yang kelak mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.

Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.



(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads