Cuaca panas dan kualitas udara di Surabaya yang masuk dalam kategori tak sehat pada pagi hari dalam sepekan terakhir di Surabaya menjadi sorotan publik. Pakar Teknik Lingkungan ITS, Arie Dipareza Syafei menyoroti penyebab pencemaran udara itu serta pentingnya upaya pengendalian demi menjaga kualitas udara di Surabaya.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya menyampaikan, berdasarkan pemantauan SPKUA Tandes dengan tujuh parameter (SO2, NO2, O3, CO, HC, PM10 dan pm2,5), dalam satu minggu terakhir PM2.5 menjadi parameter kritis dengan kategori ISPU Tidak Sehat pada periode tertentu, terutama pukul 06.00 WIB-09.00 WIB.
"Ini menunjukkan adanya episode pencemaran yang perlu ditanggapi secara serius. Kualitas udara dinilai melalui pengukuran konsentrasi polutan, seperti PM2.5, PM10, ozon, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan karbon monoksida (CO)," ujarnya, Jumat (16/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasil pengukuran tersebut digunakan untuk menentukan kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagai informasi mengenai tingkat pencemaran dan risiko kesehatan," kata Arie.
Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021, baku mutu PM10 ditetapkan sebesar 75 µg/m³ untuk rata-rata 24 jam dan 40 µg/m³ untuk rata-rata tahunan. Sementara itu, baku mutu PM2.5 sebesar 55 µg/m³ untuk rata-rata 24 jam dan 15 µg/m³ untuk rata-rata tahunan.
Arie menekankan hasil pengukuran harus disesuaikan dengan periode rata-ratanya dan bahwa kualitas udara yang memenuhi baku mutu tidak sepenuhnya bebas dari risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Dia pun menjelaskan, selain cuaca panas, penurunan kualitas udara Surabaya juga dipengaruhi berbagai sumber emisi. Seperti polusi motor, pembakaran industri, pembakaran terbuka, dan debu fugitif dari area terbuka juga dapat berkontribusi terhadap pencemaran udara.
Ia menegaskan, cuaca panas bukan sumber langsung munculnya PM2.5, tetapo kondisi yang memengaruhi dinamika polutan di udara. Intensitas sinar matahari yang tinggi dapat meningkatkan pembentukan ozon, sedangkan pemanasan permukaan turut memengaruhi proses pencampuran udara.
"Wilayah dengan tingkat emisi kendaraan yang tinggi berpotensi mengalami peningkatan pencemaran udara. Terutama di pagi hari ketika volume kendaraan di jalan mulai meningkat. Peningkatan emisi pada pagi hari, ketika lapisan pencampuran udara masih relatif dangkal, dapat menyebabkan polutan lebih mudah terakumulasi di lapisan troposfer," jelasnya.
Penurunan kualitas udara sendiri juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat di Kota Surabaya. Dalam jangka pendek, paparan polusi udara dapat menyebabkan iritasi, batuk, sesak napas, hingga memperburuk asma. Sementara itu, paparan berulang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan paru-paru.
"Kondisi cuaca panas juga dapat menambah beban tubuh, termasuk meningkatkan risiko dehidrasi. Kombinasi keduanya perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru," urainya.
Arie menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mengendalikan pencemaran udara. Pemerintah diharapkan bisa memperkuat sistem peringatan kualitas udara, menindak praktik pembakaran terbuka, serta memeriksa sumber emisi tinggi.
Sementara masyarakat diimbau untuk tidak membakar sampah dan memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan. Upaya tersebut sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
"Kita perlu bersama-sama mereduksi emisi," pungkasnya.
