5 Tokoh Jawa Timur yang Berperan dalam Sumpah Pemuda

Myesha Fatina - detikJatim
Jumat, 16 Okt 2026 17:15 WIB
Ilustrasi Sumpah Pemuda. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Jawa Timur memiliki sejumlah tokoh yang turut mengambil bagian dalam pergerakan pemuda menjelang lahirnya Sumpah Pemuda. Mereka berasal dari berbagai daerah, mulai dari Tuban, Madiun, Pamekasan, hingga Malang.

Sumpah Pemuda merupakan hasil dari Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia. Peristiwa tersebut menjadi sejarah pergerakan nasional karena memperkuat gagasan tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yakni Indonesia.

Tokoh Sumpah Pemuda dari Jawa Timur

Sejumlah tokoh yang berperan dalam peristiwa Sumpah Pemuda memiliki hubungan dengan Jawa Timur, baik melalui tempat kelahiran maupun kiprah mereka dalam pergerakan nasional. Berikut lima tokoh yang menarik untuk diketahui.

1. Soegondo Djojopoespito

Soegondo Djojopoespito merupakan salah satu tokoh penting dalam Kongres Pemuda II. Ia lahir di Tuban, Jawa Timur, pada 22 Februari 1904. Ayahnya, Kromosardjono, berasal dari Tegal, dan bekerja sebagai penghulu serta mantri juru tulis desa di Tuban.

Ketika masih kecil, Seogondo bersama adiknya, Soenarjati, ikut tinggal bersama pamannya yang bekerja sebagai colleteur di Blora. Sang paman turut membiayai pendidikan keduanya.

Seogondo menempuh pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Tuban pada 1911-1918. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di MULO Surabaya pada 1918-1921.

Saat bersekolah di Surabaya, Soegondo dititipkan kepada HOS Tjokroaminoto. Di lingkungan tersebut, ia bertemu dengan Soekarno dan mulai banyak berdiskusi mengenai politik, filsafat, organisasi, serta pergerakan nasional.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Surabaya, Soegondo melanjutkan sekolah ke Yogyakarta. Ia belajar di AMS, dan kemudian melanjutkan pendidikan di Rechtshoogeschool (RHS) atau sekolah tinggi hukum di Batavia.

Semasa menjadi mahasiswa, Soegondo aktif dalam pergerakan pemuda. Bersama sejumlah anggota Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), ia turut mengupayakan penyatuan berbagai organisasi pemuda yang masih memiliki latar belakang kedaerahan.

Upaya tersebut kemudian berlanjut hingga penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada 1928. Dalam kongres tersebut, Soegondo dipercaya menjadi ketua.

Di bawah kepemimpinannya, kongres menghasilkan ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Sumber Museum Sumpah Pemuda juga mencatat Soegondo sebagai tokoh pemuda dari Jawa Timur yang memimpin Kongres Pemuda II.

2. Seonario Sastrowardoyo

Tokoh berikutnya adalah Soenario Sastrowardoyo, yang lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 28 Agustus 1902. Ia merupakan putra Sutejo Sastrowardoyo, seorang mantan wedana yang pernah bertugas di wilayah Kabupaten Madiun.

Soenario mengawali pendidikan di Madiun. Ia bersekolah di Frobelschool pada 1908, kemudian melanjutkan ke Europeesche Lagere School (ELS). Setelah tamat, ia melanjutkan pendidikan di MULO.

Pendidikan Soenario kemudian berlanjut di Jakarta melalui Rechtschool. Setelah lulus pada 1923, ia meneruskan studi hukum ke Universitas Leiden, Belanda, dengan biaya sendiri. Ia berhasil memperoleh gelar Meester in de Rechten pada 1925.

Sejak muda, Soenario telah aktif dalam berbagai organisasi pergerakan. Ia pernah menjadi pengurus Perhimpunan Indonesia serta terlibat dalam organisasi kepanduan dan pergerakan nasional.

Pada Kongres Pemuda II 1928, Soenario menjadi penasihat panitia kongres. Ia menjadi salah satu pembicara yang menyampaikan makalah berjudul "Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia". Dalam salah satu agenda kongres, ia menyampaikan pentingnya nasionalisme dan demokrasi dalam gerakan kepanduan.

Setelah Indonesia merdeka, Soenario melanjutkan pengabdiannya dalam pemerintahan dan dunia pendidikan. Ia pernah menjadi Menteri Luar Negeri pada Kabinet Ali Sastroamidjojo, duta besar Indonesia untuk Inggris, guru besar, hingga Rektor Universitas Diponegoro.

Soenario juga dikenal sebagai sosok yang menjalani kehidupan sederhana. Setelah pensiun, ia masih mengajar di sejumlah perguruan tinggi dan disebut kerap menggunakan kendaraan umum untuk bepergian.

3. R Katjasungkana

R Katjasungkana merupakan tokoh pergerakan pemuda yang lahir di Kabupaten Pamekasan pada 24 Oktober 1908. Ia merupakan putra R Sosrodanukusumo dan Siti Rusuli.

Katjasungkana memperoleh pendidikan di AMS Solo. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan hukum di Rechts Hogeschool Batavia sebagai mahasiswa pendengar. Sejak muda, Katjasungkana telah aktif dalam pergerakan. Ia menjadi salah satu pendiri Jong Indonesie, kemudian terlibat dalam berbagai aktivitas politik.

Namanya tercatat dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II sebagai Pembantu II. Museum Sumpah Pemuda mencatat Katjasungkana sebagai tokoh dari Pamekasan, yang mewakili Jong Indonesia dalam kepanitiaan tersebut.

Selain aktif dalam organisasi pemuda, Katjasungkana juga terlibat dalam dunia pers. Ia pernah menjadi pimpinan redaksi Bintang Timur, surat kabar yang memuat kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda.

Setelah itu, kiprahnya berlanjut dalam dunia politik. Ia pernah mendapatkan tugas dari Soekarno untuk mengampanyekan Partai Nasional Indonesia (PNI). Ia kemudian bergabung dengan Partai Indonesia Raya (Partindra) dan memberikan kursus politik.

Pada masa setelah kemerdekaan, Katjasungkana juga pernah dipercaya menjadi anggota Dewan Nasional dan MPRS sebagai perwakilan Jawa Timur. Atas perjuangannya, ia menerima Anugerah Bintang Jasa Mahaputra Utama pada 1987. Katjasungkana meninggal dunia pada 16 Agustus 1985.

4. R M Djoko Marsaid

Selain Soegondo, terdapat tokoh asal Jawa Timur lainnya yang memegang posisi penting dalam Kongres Pemuda II, yakni R M Djoko Marsaid. Djoko Marsaid memiliki nama lengkap Djokomarsaid Tirtodiningrat, dan lahir di Malang pada 29 Mei 1903.

Sebelum Kongres Pemuda II, ia pernah bekerja sebagai wartawan di Surabaya. Ia juga tercatat sebagai mahasiswa OSVIA, sekolah yang pada masa Hindia Belanda mendidik calon pegawai pemerintahan bumiputra.

Djoko Marsaid aktif dalam Jong Java, salah satu organisasi pemuda yang berkembang pada masa pergerakan nasional. Aktivitasnya dalam organisasi tersebut kemudian membawanya terlibat dalam Kongres Pemuda II.

Dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II, Djoko Marsaid dipercaya sebagai wakil ketua, mendampingi Soegondo Djojopoespito yang menjadi ketua. Dengan demikian, keduanya menjadi bagian penting dari pimpinan kongres yang mempertemukan berbagai organisasi pemuda.

Kongres Pemuda II berlangsung dalam tiga rapat pada 27-28 Oktober 1928. Dalam perjalanan kongres, Djoko Marsaid juga sempat memimpin jalannya rapat ketika Soegondo berhalangan hadir.

Setelah Kongres Pemuda II, Djoko Marsaid melanjutkan pendidikannya di bidang hukum di Leiden, Belanda. Sepulangnya ke Indonesia, ia berkarier di bidang pendidikan dan pemerintahan.

Ia pernah menjadi Rektor Universitas Hasanuddin pada 1957 dan kemudian mengajar sebagai guru besar di Universitas Airlangga Surabaya. Di Unair, ia pernah menjabat Dekan Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Djoko Marsaid wafat pada 29 Mei 1969 dan dimakamkan di Astana Imogiri, Yogyakarta.

5. W R Soepratman

Nama terakhir adalah Wage Rudolf Soepratman atau W R Soepratman. Ia memang tidak lahir di Jawa Timur, melainkan di Purworejo, Jawa Tengah. Namun, namanya memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Jawa Timur, khususnya Surabaya.

W R Soepratman merupakan pencipta lagu "Indonesia Raya". Ia mulai bekerja sebagai wartawan pada 1924, dan kemudian menjadi wartawan surat kabar Sin Po. Dari pekerjaannya tersebut, ia aktif mengikuti berbagai rapat organisasi pemuda dan pergerakan politik.

Pada Kongres Pemuda II yang berlangsung 27-28 Oktober 1928, W R Soepratman hadir sebagai wartawan sekaligus membawa karya yang kemudian menjadi simbol perjuangan bangsa.

Pada 28 Oktober 1928, ia memperdengarkan lagu "Indonesia Raya" untuk pertama kalinya di hadapan peserta kongres dengan iringan biola. Lagu tersebut dimainkan sebelum pembacaan putusan kongres yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu momen penting dalam Kongres Pemuda II. Musik yang dimainkan Soepratman ikut memperkuat suasana kebangsaan dalam kongres yang mempertemukan pemuda dari berbagai daerah.

Hubungan Soepratman dengan Jawa Timur semakin kuat pada tahun-tahun terakhir hidupnya. Ia tinggal di Surabaya dalam kondisi sakit dan kemudian wafat di kota tersebut pada 17 Agustus 1938.

Ia juga sempat ditangkap pemerintah kolonial di studio Radio NIROM di Jalan Embong Malang, Surabaya, pada 7 Agustus 1938. Atas jasanya, W R Soepratman kemudian dianugerahi berbagai penghargaan, termasuk gelar Pahlawan Nasional pada 1971.



Simak Video "Video Prabowo: Selamat Sumpah Pemuda, Lanjutkan Perjuangan"

(irb/dpe)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork