Sumpah Pemuda merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Ikrar ini lahir dari semangat para pemuda berbagai daerah untuk membangun persatuan di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan organisasi.
Sumpah Pemuda dirumuskan melalui Kongres Pemuda Kedua yang berlangsung pada 27-28 Oktober 1928. Kongres tersebut mempertemukan berbagai organisasi pemuda yang memiliki latar belakang berbeda, tetapi memiliki cita-cita yang sama, yaitu memperkuat persatuan dan kebangsaan Indonesia.
Sebelum sampai pada Kongres Pemuda Kedua, kesadaran untuk membangun persatuan telah berkembang melalui munculnya kelompok terpelajar dan berbagai organisasi pemuda di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Latar Belakang Sumpah Pemuda
Dilansir dari dokumen "Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional", salah satu faktor yang mendorong lahirnya semangat persatuan adalah semakin berkembangnya pendidikan bagi masyarakat pribumi pada awal abad ke-20.
Kebijakan politik etis memberikan kesempatan kepada sebagian masyarakat pribumi untuk memperoleh pendidikan formal. Dari perkembangan pendidikan tersebut kemudian muncul kalangan terpelajar yang memiliki wawasan lebih luas mengenai kondisi masyarakat dan pemerintahan kolonial.
Lingkungan pendidikan juga menjadi tempat bertemunya para pemuda dari berbagai daerah. Sekolah dan tempat pemondokan pelajar tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar pikiran dan membangun hubungan antarpelajar. Dari lingkungan tersebut, gagasan mengenai kebangsaan dan persatuan mulai berkembang.
Pada awal abad ke-20, berbagai organisasi pemuda kemudian bermunculan. Salah satunya adalah Tri Koro Dharmo yang didirikan pada 7 Maret 1915. Organisasi ini kemudian berubah nama menjadi Jong Java pada 1918.
Selain Jong Java, muncul pula organisasi pemuda berdasarkan daerah asal, seperti Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, dan organisasi lainnya. Keberadaan berbagai perkumpulan tersebut menjadi bagian dari perkembangan kesadaran pemuda untuk membangun persatuan.
Kongres Pemuda Pertama
Sebelum Kongres Pemuda Kedua pada 1928, para pemuda telah mengadakan Kongres Pemuda Pertama pada 30 April-2 Mei 1926. Kongres tersebut menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan berbagai organisasi pemuda. Meski belum menghasilkan persatuan seperti yang dicapai pada 1928, gagasan mengenai pentingnya kerja sama antarorganisasi pemuda terus berkembang.
Dalam perkembangannya, para pemuda semakin menyadari bahwa perjuangan tidak dapat hanya dilakukan berdasarkan kelompok atau daerah asal. Diperlukan suatu gagasan yang mampu menyatukan berbagai organisasi pemuda dalam identitas kebangsaan yang lebih luas.
Persiapan Kongres Pemuda Kedua
Dilansir dari laman Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, gagasan untuk menyatukan organisasi pemuda kemudian kembali dibicarakan oleh para pemuda yang dimotori Perhimpunan Pelajar Indonesia atau PPPI.
Pertemuan persiapan dilakukan pada 3 Mei dan 12 Agustus 1928. Dalam pertemuan tersebut dibahas berbagai hal, mulai dari waktu, tempat, susunan acara, hingga biaya penyelenggaraan kongres.
Kongres Pemuda Kedua kemudian disepakati berlangsung pada 27-28 Oktober 1928. Kongres dilaksanakan di tiga tempat berbeda, yakni Gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Oost Java Bioscoop, dan Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat 106.
Kepanitiaan kongres dipimpin oleh Sugondo Djojopuspito sebagai ketua. Muhammad Yamin bertugas sebagai sekretaris, sedangkan sejumlah pemuda dari berbagai organisasi turut menjadi bagian dari kepanitiaan.
Susunan tersebut menunjukkan keterlibatan berbagai organisasi pemuda dalam penyelenggaraan kongres. Di antaranya, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Pemoeda Kaoem Betawi.
Rapat Pertama Kongres Pemuda Kedua
Rapat pertama Kongres Pemuda Kedua berlangsung pada malam 27 Oktober 1928 di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond. Ketua Kongres Sugondo Djojopuspito membuka rapat dengan menyampaikan harapan agar kongres dapat memperkuat semangat persatuan di kalangan pemuda.
Setelah itu, Muhammad Yamin menyampaikan uraian mengenai persatuan dan hubungannya dengan pemuda. Ia menyebut sejumlah faktor yang dapat memperkuat persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa persatuan yang dibangun para pemuda tidak hanya didasarkan pada kesamaan wilayah, tetapi juga pada berbagai unsur yang dapat menjadi dasar kehidupan bersama.
Rapat Kedua Membahas Pendidikan
Rapat kedua berlangsung pada 28 Oktober 1928 di Gedung Oost Java Bioscoop. Salah satu pokok pembahasan dalam rapat ini adalah pendidikan. Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro menjadi pembicara yang membahas pentingnya pendidikan bagi anak-anak.
Pendidikan dipandang perlu menanamkan semangat kebangsaan sekaligus membangun keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan lingkungan keluarga. Pendidikan juga diharapkan dilakukan secara demokratis sehingga anak dapat berkembang dan memiliki kesadaran sebagai bagian dari masyarakat.
Baca juga: 13 Tokoh dalam Sumpah Pemuda 1928 |
Rapat Ketiga dan Pembahasan Kebangsaan
Rapat ketiga berlangsung pada sore hingga malam 28 Oktober 1928 di Gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat 106. Salah satu pembahasan dalam rapat ini berkaitan dengan gerakan kepanduan.
Ramelan menjelaskan bahwa kepanduan bukan hanya berkaitan dengan kegiatan fisik, tetapi juga dapat membentuk kedisiplinan, keberanian, kemandirian, sikap saling membantu, dan persaudaraan.
Theo Pangemanan kemudian menekankan pentingnya semangat kebangsaan dalam gerakan kepanduan. Menurutnya, kepanduan juga perlu didasarkan pada rasa cinta terhadap tanah air.
Dalam rapat tersebut, Muhammad Yamin juga kembali menyampaikan gagasan mengenai persatuan bangsa Indonesia. Pembahasan kemudian mengarah pada keputusan yang menjadi hasil utama Kongres Pemuda Kedua.
Teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 asli. Foto: Sri Sudarmiyatun/Buku Makna Sumpah Pemuda |
Lahirnya Sumpah Pemuda
Sebelum keputusan kongres dibacakan, Wage Rudolf Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya menggunakan biola. Lagu tersebut kemudian dikenal sebagai Indonesia Raya.
Para peserta kongres menyambut penampilan tersebut dengan antusias. Setelah itu, keputusan Kongres Pemuda Kedua dibacakan. Keputusan tersebut kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda dan para pemuda mengucapkan ikrar yang dipimpin oleh Raden Soerjadi.
Isi Sumpah Pemuda menegaskan tiga hal utama, yaitu satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, yakni Indonesia. Keputusan kongres juga menegaskan pengakuan terhadap Indonesia sebagai satu kebangsaan dan tanah air serta penghormatan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

