Siswa di Malang Lebih Suka MBG Prasmanan, BGN Siapkan Evaluasi

Siswa di Malang Lebih Suka MBG Prasmanan, BGN Siapkan Evaluasi

Muhammad Aminudin - detikJatim
Jumat, 16 Okt 2026 16:00 WIB
MBG model pramanan yang digelar di SMPN 1 Kepanjen, Malang bakal jadi pilot project BGN.
MBG model pramanan yang digelar di SMPN 1 Kepanjen, Malang bakal jadi pilot project BGN. (Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim)
Malang -

Model prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat respons positif dari siswa SMPN 1 Kepanjen, Kabupaten Malang. Selain makanan lebih hangat dan segar, siswa bisa memilih lauk sesuai selera dan mengambil makanan berdasarkan porsi yang diinginkan.

Uji coba MBG dengan model prasmanan di SMPN 1 Kepanjen menjadi bagian dari pilot project yang dievaluasi untuk perbaikan layanan program tersebut ke depan. Sejumlah siswa mengaku lebih menyukai model ini dibandingkan penyajian makanan dalam bentuk paket.

Salah satunya Hana, siswi kelas VIII SMPN 1 Kepanjen. Menurutnya, penyajian secara prasmanan membuat makanan terasa lebih nikmat karena lauk masih hangat dan segar saat disantap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lebih enak model prasmanan, karena lauknya lebih hangat. Lebih fresh dan segar. Kami juga bisa ambil secukupnya. Kalau ada lauk yang tidak kita suka, kita enggak ambil. Jadi lebih praktis," kata Hana kepada wartawan, Jumat (16/10/2026).

Sementara anggota DPR RI Fraksi Gerindra H Ma'ruf Mubarok atau yang akrab disapa Gus Mamak mengatakan respons siswa menjadi salah satu catatan penting dalam evaluasi pelaksanaan MBG.

ADVERTISEMENT

Gus Mamak menyebut banyak siswa menyampaikan keinginan agar menu yang dinilai enak tetap dipertahankan.

"Anak-anak di SMPN 1 Kepanjen lebih suka MBG model prasmanan. Katanya enak sekali. Makanan lebih hangat dan fresh," ujar Gus Mamak terpisah.

Gus Mamak menambahkan, masukan dari para penerima manfaat perlu diperhatikan agar kualitas layanan MBG terus meningkat. Program tersebut dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pemenuhan gizi anak sekolah.

"Anak-anak minta agar menunya enak-enak dan dipertahankan. Hal itu menjadi catatan kami. Karena program ini memang betul-betul luar biasa," tuturnya.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur Chusni Mubarok menjelaskan SMPN 1 Kepanjen menjadi salah satu dari 61 titik pilot project MBG model prasmanan di Indonesia. Uji coba tersebut berlangsung selama beberapa hari dan berakhir pada hari ini.

Chusni juga menyampaikan, bahaa hasil evaluasi sementara menunjukkan siswa cenderung menyukai model prasmanan karena makanan tetap hangat saat disajikan. Hal itu didukung sistem rantai panas atau hot chain yang diterapkan untuk menjaga suhu makanan sejak dari dapur hingga meja penyajian.

"Hasil evaluasi kami, banyak siswa lebih suka karena makanan lebih fresh dan enak. Dari dapur, rantai panas makanan dipertahankan hingga menuju meja prasmanan, sehingga suhunya tetap terjaga. Suhu makanan dipertahankan hingga 60 derajat," jelasnya.

Meski mendapat respons positif, Chusni menilai masih ada sejumlah aspek yang harus dievaluasi sebelum model prasmanan diterapkan secara permanen.

Sementara mengenai waktu makan, variasi menu, dan pelaksanaan di sekolah akan disampaikan langsung kepada Badan Gizi Nasional (BGN).

"Kalau kita ingin model prasmanan ini dipermanenkan, tentunya ada beberapa hal yang harus diperbaiki, misalnya waktu makannya. Kami dari Malang juga selalu mengusulkan agar program MBG ini masuk dalam kurikulum," katanya.

Menurut Chusni, MBG tidak semata-mata berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi. Program tersebut juga bisa menjadi sarana pendidikan mengenai pola hidup sehat, kebersamaan, dan pembiasaan perilaku positif, termasuk berdoa sebelum makan.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Nurul Sri Utami menilai model prasmanan berpotensi mengurangi makanan yang terbuang.

Siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan dan selera masing-masing sehingga makanan yang tidak disukai tidak harus diambil.

"Evaluasi dari kami, anak-anak ternyata suka dengan model MBG prasmanan. Hampir semuanya habis, tidak ada yang tersisa karena mereka bisa memilih sendiri sesuai porsi dan kesukaan mereka," ungkap Nurul.

Ia menambahkan, kualitas makanan yang disajikan juga menjadi perhatian. Menu berupa lauk, susu, dan buah-buahan perlu dipastikan tetap segar serta memiliki kandungan gizi yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

"Anak-anak suka, mereka ambil secukupnya. Kondisi makanan juga hangat dan fresh. Kalau biasanya tidak suka lalu dibuang, kalau prasmanan mereka tidak mengambilnya sehingga tidak sampai terbuang," pungkasnya.



(auh/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads