Sebanyak 10.070 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) mulai beroperasi secara serentak pada Kamis (15/10/2026). Salah satunya KDMP Desa Tambakrejo, Kecamatan Waru, Sidoarjo.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) meninjau langsung operasional KDMP Tambakrejo. Dalam kunjungan tersebut, Zulhas berdialog dengan pengelola koperasi sekaligus menjelaskan sejumlah manfaat yang diharapkan dapat dirasakan masyarakat desa.
Zulhas mengatakan pengoperasian ribuan KDMP tersebut merupakan pekerjaan besar yang melibatkan berbagai kementerian, lembaga, hingga BUMN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini sesuatu yang baru kita mulai. Tidak akan langsung sempurna, tapi arahnya jelas," kata Zulhas saat meninjau KDMP Tambakrejo, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, KDMP dibangun untuk memangkas rantai distribusi sehingga kebutuhan masyarakat dapat diperoleh dengan harga lebih terjangkau. Selain itu, koperasi juga diharapkan mampu menjaga harga hasil pertanian agar petani tidak dirugikan ketika harga di pasaran turun.
"Tujuannya ekonomi tumbuh dari desa, pelayanan lebih cepat, rantai distribusi dipangkas," ujarnya.
Salah satu fungsi KDMP adalah menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk pupuk subsidi, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga kebutuhan pokok.
Untuk mendapatkan pupuk subsidi, masyarakat nantinya cukup datang ke koperasi dengan membawa KTP. Penyaluran tersebut diharapkan dapat memangkas rantai distribusi yang selama ini membuat harga di tingkat masyarakat menjadi lebih tinggi.
Selain menyediakan kebutuhan pokok, KDMP juga berfungsi sebagai penampung hasil panen petani. Zulhas mencontohkan ketika harga padi di pasaran turun menjadi sekitar Rp 5.000-Rp 6.000 per kilogram, koperasi dapat membeli sesuai harga yang telah ditetapkan pemerintah, yakni Rp 6.500 per kilogram.
Selanjutnya, hasil panen tersebut akan diambil alih Bulog. Dengan demikian, koperasi berperan sebagai pembeli atau off-taker hasil pertanian masyarakat.
"Kalau harga di luar jatuh, koperasi membeli dengan harga yang sudah dipatok pemerintah. Nanti Bulog mengambil alih," jelas Zulhas.
Zulhas juga menyebut KDMP tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyaluran barang subsidi dan penampung hasil pertanian. Koperasi desa juga akan menyediakan layanan keuangan bagi masyarakat.
Di dalam koperasi terdapat layanan perbankan melalui agen BNI dan BRI. Warga dapat melakukan transaksi seperti setor dan tarik uang, pembayaran listrik, hingga menerima kiriman uang tanpa harus pergi jauh ke kantor bank.
Selain itu, koperasi juga diharapkan menjadi akses pembiayaan bagi pelaku UMKM di desa. Zulhas menyebut bunga pinjaman yang sebelumnya dapat mencapai 22-24 persen diturunkan menjadi sekitar 8 persen melalui skema pembiayaan yang disiapkan pemerintah.
"Pinjaman untuk UMKM, usaha kue, usaha dagang, semuanya bisa melalui koperasi desa," katanya.
Keberadaan KDMP juga diharapkan dapat membuat sejumlah kebutuhan masyarakat lebih murah. Zulhas mencontohkan harga LPG 3 kilogram yang di luar koperasi dapat mencapai Rp 22 ribu sampai Rp 23 ribu, sedangkan melalui koperasi ditargetkan sekitar Rp 18 ribu.
Selain itu, produk hasil desa nantinya tidak hanya dipasarkan di wilayah setempat. Koperasi akan dihubungkan secara daring dengan koperasi lainnya sehingga produk dari satu desa dapat dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
"Produk desa bisa dijual ke mana saja. Koperasi satu dengan koperasi lainnya juga bisa saling memasarkan," ungkap Zulhas.
Zulhas menegaskan pembangunan KDMP dilakukan secara bertahap. Ia menyebut terdapat sekitar 10.078 unit koperasi yang siap beroperasi dan dalam delapan hari ke depan akan ditambah sekitar 10 ribu unit.
Targetnya, sekitar 35 ribu koperasi dapat beroperasi pada bulan ini, hingga nantinya mencapai sekitar 80 ribu koperasi secara bertahap pada tahun ini dan tahun depan.
"Ada yang sudah bagus, ada yang belum. Mohon dimaklumi, prosesnya bertahap," pungkasnya.
