- Sejarah Hari Pangan Sedunia
- Tema Hari Pangan Sedunia 2026
- Daftar Pangan Lokal Jawa Timur 1. Padi dan beras 2. Jagung sebagai alternatif sumber pangan 3. Singkong dan umbi-umbian 4. Kedelai untuk bahan baku tahu dan tempe 5. Sorgum sebagai pangan alternatif pendamping beras
- Pentingnya Pangan Lokal untuk Ketahanan Pangan
Hari Pangan Sedunia diperingati setiap 16 Oktober untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau. Pada 2026, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengangkat tema "Innovate today.
Nourish tomorrow" atau berinovasi hari ini untuk memenuhi kebutuhan pangan masa depan. Peringatan ini tidak hanya berkaitan dengan upaya mengatasi kelaparan, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat potensi pangan lokal.
Di Jawa Timur, beras, jagung, singkong, kedelai, hingga sorgum, memiliki peran dalam pembahasan diversifikasi pangan dan ketahanan pangan daerah. Lantas, bagaimana sejarah Hari Pangan Sedunia dan apa kaitannya dengan pengembangan pangan lokal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Hari Pangan Sedunia
Hari Pangan Sedunia atau World Food Day ditetapkan untuk memperingati berdirinya FAO sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap persoalan kelaparan, kekurangan gizi, dan kemiskinan. Peringatan ini juga mendorong kerja sama untuk memperkuat produksi pertanian dan membangun sistem pangan yang berkelanjutan.
Mengutip laman resmi FAO, gagasan penetapan Hari Pangan Sedunia berkaitan dengan upaya meningkatkan perhatian terhadap masalah pangan global. Salah satu tonggak pentingnya adalah Konferensi Pangan Dunia pada 1974 yang menyoroti persoalan ketahanan pangan dan pentingnya upaya bersama untuk mengatasi kelaparan.
Selanjutnya, dalam Konferensi FAO ke-20 di Roma pada 10-28 November 1979, negara-negara anggota menyepakati Resolusi 1/79 tentang Hari Pangan Sedunia. Resolusi tersebut menetapkan 16 Oktober sebagai tanggal peringatan tahunan, bertepatan dengan hari berdirinya FAO pada 16 Oktober 1945 di Kota Quebec, Kanada.
Hari Pangan Sedunia pertama kali diperingati pada 16 Oktober 1981. Sejak saat itu, peringatan tersebut menjadi agenda tahunan untuk mengajak pemerintah, organisasi, pelaku pertanian, dan masyarakat berpartisipasi dalam mengatasi persoalan pangan.
Tujuannya bukan sekadar meningkatkan produksi makanan. Upaya tersebut juga mencakup perbaikan gizi, pengurangan kehilangan pangan, penguatan kesejahteraan petani, serta peningkatan akses masyarakat terhadap makanan yang layak.
Tema Hari Pangan Sedunia 2026
FAO menetapkan tema Hari Pangan Sedunia 2026, yakni "Innovate today. Nourish tomorrow". Tema ini dapat diterjemahkan secara bebas sebagai berinovasi hari ini untuk memenuhi kebutuhan pangan masa depan.
Mengutip laman resmi World Food Day 2026 milik FAO, tema tersebut menekankan pentingnya solusi yang berorientasi ke masa depan, pengetahuan tradisional, dan pendekatan inklusif untuk memastikan setiap orang memperoleh pangan yang cukup, beragam, aman, dan bergizi. Upaya itu juga perlu memperhatikan kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang.
Inovasi yang dimaksud tidak terbatas pada penggunaan mesin pertanian atau teknologi digital. Pengembangan benih, peningkatan produktivitas lahan, pengelolaan air, perbaikan penyimpanan hasil panen, dan distribusi pangan yang lebih efisien juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem pangan.
Di sisi lain, pengalaman petani, nelayan, dan masyarakat yang telah mengembangkan sumber pangan lokal selama bertahun-tahun juga dapat menjadi modal penting. Pengetahuan tersebut dapat dipadukan dengan penelitian dan teknologi agar produksi pangan lebih adaptif terhadap perubahan iklim serta kebutuhan masyarakat.
Tema 2026 juga relevan dengan upaya diversifikasi pangan, yaitu memperluas pemanfaatan berbagai sumber pangan selain beras. Dengan mengembangkan komoditas yang sesuai dengan kondisi wilayah, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan pangan, sedangkan petani dapat memperoleh peluang pasar yang lebih beragam.
Daftar Pangan Lokal Jawa Timur
Jawa Timur memiliki beragam komoditas pertanian yang dapat dibahas dalam konteks ketahanan pangan. Potensinya tidak hanya dilihat dari jumlah produksi, tetapi juga dari pemanfaatan bahan pangan, kebiasaan konsumsi masyarakat, dan peluang pengembangan produk olahan.
1. Padi dan beras
Beras masih menjadi salah satu sumber pangan utama masyarakat Indonesia. Karena itu, produksi padi memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan, termasuk di Jawa Timur.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur yang dirilis pada 2 Februari 2026, produksi padi Jawa Timur sepanjang 2025 mencapai sekitar 10,44 juta ton gabah kering giling (GKG). Sementara itu, produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk mencapai sekitar 6,03 juta ton.
Angka tersebut menunjukkan besarnya kontribusi sektor pertanian Jawa Timur dalam penyediaan pangan. Namun, ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada tingginya produksi. Distribusi, daya beli masyarakat, kualitas hasil panen, serta keberlanjutan lahan pertanian juga perlu diperhatikan.
Data produksi menurut kabupaten/kota dapat digunakan untuk memperlihatkan wilayah yang berkontribusi terhadap produksi padi Jawa Timur. Sebagai contoh, BPS mencatat produksi padi Kabupaten Lamongan pada 2025 mencapai sekitar 879.994 ton, sedangkan Kabupaten Bojonegoro mencapai sekitar 879.685 ton.
2. Jagung sebagai alternatif sumber pangan
Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi maupun bahan baku industri. Dalam konteks diversifikasi pangan, jagung dapat menjadi salah satu pilihan sumber karbohidrat selain beras.
Di sejumlah daerah, jagung juga diolah menjadi makanan yang dekat dengan kebiasaan konsumsi masyarakat. Nasi jagung, misalnya, dikenal sebagai salah satu bentuk olahan jagung yang dapat dijumpai dalam tradisi kuliner di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Pengembangan pangan berbahan jagung dapat membuka peluang bagi petani dan pelaku usaha pengolahan pangan. Meski demikian, upaya diversifikasi perlu memperhatikan ketersediaan bahan baku, kualitas produk, kemudahan pengolahan, serta penerimaan konsumen.
3. Singkong dan umbi-umbian
Singkong atau ketela pohon menjadi sumber pangan lain yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas pilihan konsumsi masyarakat. Tanaman ini dapat diolah menjadi berbagai produk, mulai dari makanan tradisional hingga bahan baku produk pangan modern.
Salah satu olahan singkong yang dikenal di Jawa Timur adalah tiwul. Bahan pangan tersebut dapat menjadi bagian dari pembahasan mengenai tradisi konsumsi pangan lokal dan pemanfaatan hasil pertanian daerah.
Selain singkong, ubi jalar dan talas juga dapat diperhitungkan sebagai sumber pangan alternatif. Pengembangan produk berbasis umbi-umbian berpotensi memperluas pasar hasil pertanian, terutama jika didukung pengolahan yang baik, penyimpanan yang tepat, dan pemasaran yang menjangkau lebih banyak konsumen.
Meski demikian, keberadaan suatu komoditas tidak otomatis menjadikannya pengganti beras secara langsung. Kebiasaan makan, nilai gizi, ketersediaan bahan baku, dan kemudahan penyajian tetap menjadi faktor yang memengaruhi pilihan masyarakat.
4. Kedelai untuk bahan baku tahu dan tempe
Kedelai juga memiliki peran dalam sistem pangan Jawa Timur, terutama sebagai bahan baku berbagai produk olahan, seperti tahu dan tempe. Kedua makanan tersebut telah menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia.
Dalam konteks ketahanan pangan, kedelai tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan makanan, tetapi juga dengan keberlangsungan usaha pengolahan pangan dan kebutuhan bahan baku industri rumahan.
Ketersediaan kedelai perlu dilihat bersama perkembangan produksi, kebutuhan konsumsi, dan pasokan dari berbagai sumber. Karena itu, data produksi kedelai Jawa Timur harus merujuk pada periode statistik yang jelas agar tidak tercampur dengan data tahun sebelumnya.
Penguatan produksi dan rantai pasok kedelai dapat menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga keberlanjutan industri tahu dan tempe. Namun, besarnya kontribusi produksi lokal perlu dijelaskan berdasarkan data resmi yang sesuai dengan tahun pembahasan.
5. Sorgum sebagai pangan alternatif pendamping beras
Sorgum menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian dalam pembahasan diversifikasi pangan, terutama karena potensinya untuk dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif di lahan yang sesuai.
Pada 22 April 2026, DPRD Jawa Timur mendorong pengembangan sorgum sebagai tanaman pangan pendamping beras untuk mengantisipasi potensi kekeringan panjang dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Ony Setiawan, menyebut sorgum sebagai salah satu alternatif yang layak dikembangkan. Dalam pemberitaan resmi DPRD Jawa Timur, ia menegaskan, "Tanaman ini bukan pengganti, tetapi pendamping beras, seperti jagung, ketela pohon, umbi-umbian, sukun, hingga sorgum."
Pernyataan tersebut menempatkan sorgum sebagai bagian dari strategi memperluas sumber pangan, bukan sebagai pengganti beras secara mutlak. Pengembangannya tetap memerlukan kajian mengenai kesesuaian lahan, ketersediaan benih, teknik budidaya, pengolahan hasil panen, dan permintaan pasar.
Pentingnya Pangan Lokal untuk Ketahanan Pangan
Pangan lokal memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus melestarikan kekayaan pangan daerah. Pemanfaatan berbagai bahan pangan, seperti singkong, ubi jalar, jagung, dan talas, dapat memperkenalkan alternatif sumber pangan selain beras.
Selain itu, konsumsi pangan lokal dapat mendukung petani dan pelaku usaha di daerah melalui peningkatan permintaan terhadap hasil pertanian setempat. Pengembangan pangan lokal juga menjadi salah satu upaya untuk memanfaatkan potensi sumber daya pangan yang tersedia di setiap wilayah.
