Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa hujan saat musim kemarau merupakan fenomena yang wajar di Indonesia. Bahkan, dinamika atmosfer tertentu dapat memicu pertumbuhan awan hujan dan meningkatkan curah hujan di sejumlah wilayah.
Selain faktor cuaca, kondisi lingkungan seperti saluran drainase yang tersumbat dan berkurangnya daerah resapan air juga dapat memperparah genangan hingga banjir. Lantas, apa saja penyebab hujan deras saat musim kemarau dan faktor yang membuatnya berpotensi menimbulkan banjir.
Mengapa Musim Kemarau Masih Bisa Hujan Deras
Musim kemarau ditandai dengan curah hujan yang rendah, tetapi hujan tetap dapat terjadi ketika kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan. Faktor pemicunya antara lain kelembapan udara, ketersediaan uap air, serta aktivitas MJO, Gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial.
BMKG memprakirakan pada 9-15 Oktober 2026, hujan sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi meski kondisi kering mendominasi. Sejumlah wilayah di Jawa Timur juga berpotensi mengalami peningkatan hujan pada periode tertentu.
Apa Penyebab Hujan hingga Banjir Saat Musim Kemarau?
Selain faktor cuaca, banjir juga dapat dipengaruhi kondisi lingkungan. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum menjelaskan bahwa berkurangnya daerah resapan air dapat meningkatkan limpasan air di permukaan tanah.
Sedangkan saluran yang tersumbat sampah atau mengalami sedimentasi bisa menghambat aliran air. Banjir juga dapat terjadi ketika debit air dari wilayah hulu melampaui kapasitas sungai sehingga air meluap ke kawasan hilir, meskipun hujan di kawasan tersebut tidak deras.
Apakah Fenomena Ini Berkaitan dengan El Nino atau Perubahan Iklim?
Hujan deras yang terjadi saat musim kemarau tidak serta-merta menunjukkan bahwa El Nino atau perubahan iklim menjadi penyebabnya. BMKG menjelaskan El Nino cenderung mengurangi curah hujan di Indonesia, tetapi hujan lokal masih dapat terjadi akibat dinamika atmosfer dan faktor lingkungan setempat.
Sementara itu, perubahan iklim dapat mempengaruhi pola kejadian hujan ekstrem. Meski demikian, penyebab suatu kejadian hujan deras atau banjir perlu ditentukan berdasarkan kondisi cuaca dan analisis ilmiah, bukan hanya berdasarkan musim yang sedang berlangsung.
Penjelasan BMKG tentang Hujan Saat Musim Hujan Kemarau
Hujan masih bisa terjadi saat musim kemarau meski kondisi kering lebih mendominasi. Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
BMKG menjelaskan fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah meski sedang berlangsung musim kemarau.
Jawa Timur menjadi salah satu daerah yang berpotensi mengalami peningkatan hujan dengan intensitas sedang pada 9-11 Oktober 2026, meski wilayah ini masih berada dalam periode musim kemarau.
Apa yang Perlu Dilakukan untuk Mengantisipasi Banjir?
Antisipasi banjir perlu dilakukan sejak dini, terutama saat hujan deras berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko banjir sebagai berikut.
- Memperbaiki dan merawat drainase. Saluran drainase yang terawat membantu mengalirkan air hujan dan mengurangi genangan. Karena itu, pembersihan serta perbaikan saluran perlu dilakukan secara rutin.
- Membangun infrastruktur pengendali banjir. Pembangunan tanggul, waduk, embung, dan kolam retensi dapat membantu menampung atau mengendalikan kelebihan air saat hujan deras.
- Melakukan reboisasi dan menjaga hutan. Penanaman kembali pohon di kawasan yang mengalami kerusakan hutan dapat membantu menjaga daya serap tanah dan mengurangi risiko banjir serta longsor.
- Memantau peringatan dini banjir. Informasi cuaca dan peringatan dini membantu masyarakat mengantisipasi potensi banjir lebih awal. Masyarakat dapat memantau informasi resmi dari BMKG dan pemerintah setempat.
- Menyiapkan jalur evakuasi. Warga di daerah rawan banjir perlu mengetahui jalur evakuasi dan lokasi pengungsian yang aman agar dapat menyelamatkan diri ketika banjir terjadi.
Simak Video "Video: Siap-siap! Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus dan Lebih Kering"
(irb/hil)