Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mematangkan strategi penanganan banjir secara menyeluruh di lima rayon wilayah jelang masuknya musim hujan. Langkah antisipasi ini menggabungkan pengerukan sedimentasi saluran, pelebaran drainase pemukiman, hingga optimalisasi kesiapsiagaan seluruh rumah pompa.
Berdasarkan data Pemkot Surabaya, langkah pencegahan telah dilakukan melalui normalisasi saluran air di 964 titik hingga Agustus 2026. Selain itu, sebanyak 83 rumah pompa eksisting disiagakan penuh untuk mendorong aliran air dari saluran sekunder menuju saluran primer seperti sungai besar dan laut.
Untuk memperluas daya tampung dan percepatan aliran air, Pemkot Surabaya juga merealisasikan pembangunan sejumlah rumah pompa baru. Beberapa di antaranya tersebar di titik rawan seperti Tambak Segaran, Ketintang, Wonorejo 2 Baru, Nginden Bethany, hingga Panjang Jiwo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesiapsiagaan di tingkat lapangan turut disesuaikan dengan masing-masing fasilitas. Di Rumah Pompa Bozem Bratang, antisipasi dilakukan dengan skema quick-start atau pemompaan awal untuk menurunkan elevasi air bozem.
"Antisipasi utamanya dari jam 05.00 WIB air sudah mulai dipompa untuk penurunan elevasi. Jadi begitu hujan turun, kapasitas bozem sudah kosong dan siap menampung debit air tinggi," ujar Operator Rumah Pompa Bozem Bratang, Ozi, Jumat (9/10/2026).
Sementara itu, pada titik penyudat seperti Rumah Pompa Bratang Lapangan, kesiapsiagaan mesin dijaga ketat melalui perawatan harian.
"Setiap hari kita rutin memanaskan pompa, genset, dan mengecek kontrol. Laporan kondisi peralatan dilakukan berkala agar saat hujan deras turun, seluruh unit dipastikan siap operasi," kata petugas Rumah Pompa Bratang Lapangan, Adi.
Meski seluruh infrastruktur drainase skala kota telah disiagakan, Pemkot Surabaya mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan. Penumpukan sampah rumah tangga di saluran air masih menjadi kendala utama yang memicu luapan banjir.
