Wanti-wanti Pakar Unair Bahaya Konsumsi Ikan Mabuk

Wanti-wanti Pakar Unair Bahaya Konsumsi Ikan Mabuk

Andina Kurnia Winanda - detikJatim
Jumat, 09 Okt 2026 10:15 WIB
Warga berburu ikan mabuk di Rolak Gunungsari Surabaya
Hasil tangkapan warga berburu ikan mabuk di Rolak Gunungsari Surabaya/Foto: Muhammad Syihab Wafi/detikJatim
Surabaya -

Fenomena ikan mabuk yang mengapung di Kali Rolak Gunungsari Surabaya, membuat warga berbondong-bondong memburunya. Akses yang mudah dan gratis, kerap membuat warga tergiur hingga mengabaikan potensi risiko keracunan.

Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Ir. Annis Catur Adi, M.Si., mengingatkan, secara ideal, ikan yang mabuk atau mati mendadak akibat ceceran limbah maupun bahan kimia, sebaiknya tidak dikonsumsi.

"Pilihan terbaik sebenarnya adalah menghindari konsumsi. Namun jika masyarakat karena ketidaktahuan atau keterpaksaan tetap nekat mengonsumsinya, penyiapan dan pengolahannya harus dilakukan jauh lebih masif dibanding mengolah ikan mati biasa demi mereduksi risiko racun," ujar Prof. Annis saat dikonfirmasi detikJatim, Jumat (9/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prof. Annis membeberkan, langkah awal yang paling krusial untuk menekan potensi racun adalah dengan membuang total seluruh bagian insang dan jerohan. Menurutnya, cemaran kimia dari limbah pabrik seperti logam berat jenis timbal (Pb) hingga merkuri (Hg) umumnya bakal masuk dan berputar di saluran pencernaan serta pernapasan ikan.

ADVERTISEMENT

Setelah dibersihkan hingga tuntas, ikan disarankan tidak langsung dimasak, melainkan direndam terlebih dahulu menggunakan garam, perasan jeruk nipis, atau belimbing wuluh.

Selain itu, perendaman atau perebusan awal juga dapat menggunakan arang bakar. Sifat arang yang bertindak sebagai absorber dinilai sangat efektif menyerap kandungan racun serta logam berat yang terikat di tubuh ikan.

Usai melewati proses perendaman, ikan wajib dicuci bersih secara berulang-ulang menggunakan air mengalir sebelum akhirnya diolah melalui pemanasan tinggi seperti digoreng atau direbus.

Meski metabolisme tubuh ikan secara biologis relatif lebih cepat mengeluarkan toksin dibanding kelompok kerang-kerangan atau moluska, Prof. Annis menyarankan tetap berhati-hati dan langkah pembersihan ketat, tetap mutlak dilakukan demi keselamatan warga.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads