Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ponorogo terus meluas sepanjang musim kemarau 2026. Hingga 30 September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat total lahan yang terbakar mencapai 341,85 hektare. Kebakaran tersebut tersebar di 17 kecamatan dan 56 desa.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo, Masun mengatakan, luasan kebakaran tahun ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada 2024. Saat itu, kebakaran tercatat melanda 11 kecamatan dan 26 desa dengan total luas lahan terbakar 91,7 hektare.
"Kalau kita lihat, data karhutla tahun ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan kalau dibandingkan dengan 2024, ketika kemaraunya juga lumayan, data tahun ini masih jauh lebih besar," kata Masun, Jumat (9/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan catatan BPBD, Kecamatan Slahung menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 81,3 hektare. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Bungkal dengan 64,5 hektare, Sambit 42,5 hektare, Jenangan 35,5 hektare, dan Kauman 30 hektare.
Masun menjelaskan, peningkatan kasus karhutla diduga berkaitan erat dengan kondisi kemarau yang lebih ekstrem. Curah hujan yang berada di bawah normal serta durasi musim kemarau yang lebih panjang membuat vegetasi di sejumlah wilayah mengering dan mudah terbakar.
"Sekarang hampir tidak ada hujan selama lebih dari 60 hari. Sementara pada 2024, kondisi kekeringannya masih lebih ringan. Waktu itu, sampai 30 September, luas hutan dan lahan yang terbakar tercatat 91,7 hektare," jelasnya.
Sebagai perbandingan, lima kecamatan dengan luasan kebakaran terbesar pada periode yang sama tahun 2024 adalah Slahung seluas 18 hektare, Balong 17,7 hektare, Badegan 12 hektare, Sambit 11 hektare, dan Jambon 9,5 hektare.
Menurut Masun, kondisi vegetasi yang mengering, semak belukar, serta serasah atau tumpukan daun kering menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Risiko kebakaran semakin tinggi ketika kondisi tersebut disertai suhu udara panas dan tiupan angin.
"Vegetasi yang relatif kering, semak-semak, dan serasah menjadi area yang sering mengalami kebakaran. Apalagi kalau ditunjang temperatur yang tinggi dan angin," ungkapnya.
BPBD Ponorogo juga memperkirakan potensi karhutla masih akan terjadi selama Oktober. Sebab, berdasarkan prakiraan yang disampaikan Masun, wilayah Ponorogo belum memasuki musim hujan sehingga kondisi lahan kering masih berpotensi memicu kebakaran.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak menggunakan api secara sembarangan, terutama untuk membuka lahan. Warga juga diimbau memastikan sumber api tidak memicu kebakaran yang merembet ke kawasan hutan maupun lahan milik masyarakat.
"Kami mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dengan sumber api dan tidak sengaja membuka lahan dengan cara dibakar. Mari kita jaga bersama lingkungan agar kebakaran tidak merugikan masyarakat maupun lingkungan," pungkas Masun.
