Kasus 44 siswa SMPN 1 Mojoanyar, Mojokerto mengalami sakit perut, pusing, mual, muntah dan diare diduga keracunan MBG, meresahkan para orang tua. Menurut mereka, lebih para siswa membawa bekal daripada menerima MBG.
Thoyibah (49) mengaku panik sampai gemetar begitu tahu putrinya dilarikan ke Puskesmas Gayaman sekitar pukul 10.00 WIB. Terlebih lagi ia tidak tahu kalau putrinya, Azahra Safira (14) mengalami sakit perut, pusing dan diare sejak kemarin malam.
"Tahunya ditelepon ibu kantin kalau anak saya dibawa ke puskesmas karena keracunan MBG. Keluhan anak di rumah kalau diare saya tidak tahu karena anak tidak cerita. Tadi anak juga tak mau sarapan karena perutnya tidak enak," terangnya kepada detikJatim di Puskesmas Gayaman, Kamis (8/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Azahra harus menjalani rawat inap di Puskesmas Gayaman karena kondisinya masih lemas. Selain sakit perut dan pusing, pelajar asal Kecamatan Puri, Mojokerto ini juga mengalami 6 kali diare dan 4 kali muntah sejak kemarin malam sampai pagi tadi.
"Kalau saya, anak tidak diberi MBG tidak masalah, yang penting anak saya sehat. Anak juga sudah sarapan, lebih baik bawa bekal daripada MBG efeknya seperti ini. Kami orang tua was-was dengan kondisi anak di sekolah. Terlebih makannya jam segitu, tidak tahu datangnya jam berapa, dibagikan jam 2 siang," tegas Thoyibah.
Berdasarkan penjelasan Kepala SPPG Jabon Mojoanyar, Yanse Young Pribadi, MBG untuk SMPN 1 dan 2 Mojoanyar dimasak sekitar pukul 05.00 WIB. Kemudian dikirim ke sekolah sekitar pukul 11.00 WIB. Sedangkan pihak sekolah membagikan ke para siswa pukul 14.00 WIB.
Apabila MBG untuk SMPN 1 Mojoanyar dilanjutkan, Thoyibah berharap pihak sekolah maupun SPPG harus lebih berhati-hati. Kepala sekolah harus berani menegur SPPG apabila terjadi kesalahan.
"Pihak sekolah harusnya mengecek dulu, mencicipi dulu (MBG). Kalau layak baru kasihkan ke siswa. Karena kasus ini kan anak-anak sudah mencium ada yang janggal," ujarnya.
Budiyono juga berharap kasus keracunan ini tidak terulang. Sebab putrinya, Nurul Hidayah mengalami mual, muntah dan diare sehingga harus dirawat di Puskesmas Gayaman. Nurul merupakan siswi kelas 8A SMPN 1 Mojoanyar.
"Anak cerita ke ibunya kalau MBG sudah basi, tapi nasinya tidak dimakan, hanya sate ayamnya yang dimakan. Harapannya lebih baik lagi jangan sampai terulang. Kalau menurut saya sepakat juga (MBG tetap berjalan), yang penting lebih hati-hati lagi," tandasnya.
Sebelumnya, dugaan keracunan MBG di SMPN 1 Mojoanyar baru terungkap pagi tadi sekitar pukul 09.30 WIB. Sebab banyak siswa yang mengantre di toilet karena diare. Keluhan lainnya berupa sakit perut, pusing, mual dan muntah. Pihak sekolah pun menghubungi Puskesmas Gayaman.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto merilis total 44 siswa SMPN 1 Mojoanyar yang mengalami gejala keracunan. Dari jumlah itu, 16 siswa dievakuasi ke Puskesmas Gayaman dan 1 siswa ke RS Gatoel.
Sedangkan 27 siswa ditangani di sekolah karena gejalanya ringan. Update terbaru, tinggal 2 siswi yang menjalani rawat inap di Puskesmas Gayaman.
Berdasarkan pengakuan para korban, mereka keracunan MBG yang dibagikan pada Selasa (6/10) sekitar pukul 14.00 WIB. Sate ayam pada MBG tersebut diduga menjadi biang keladinya. Sebab sate ayam itu beraroma tak sedap dan terdapat rasa asam layaknya makanan basi.
Saat ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto masih menyelidiki apakah karena MBG atau penyebab yang lain. MBG yang disantap para siswa dipasok SPPG Jabon Mojoanyar, Yayasan Kajian Fiqih Aswaja, Perumahan Graha Kahuripan, Desa Jabon, Mojoanyar, Mojokerto.
Setiap harinya, SPPG ini menyediakan 2.919 porsi MBG untuk 15 sekolah. Salah satunya SMPN 1 Mojoanyar sejumlah 702 porsi untuk siswa, guru dan karyawan sekolah.
