Skema makan bergizi gratis (MBG) secara prasmanan belum diterapkan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kandangan, Surabaya. Hingga saat ini, MBG masih didistribusikan menggunakan ompreng kepada penerima manfaat.
Kepala SPPG Kandangan Tengger, Hafid Syaifuddin mengatakan, pihaknya belum menerapkan mekanisme prasmanan karena masih menunggu surat edaran maupun petunjuk teknis terkait mekanisme tersebut dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan Koordinator Wilayah Surabaya.
"Di saat ini belum menerapkan skema prasmanan. Belum adanya surat edaran atau juknis mengenai pengiriman dalam bentuk prasmanan," kata Hafid saat ditemui detikJatim, Rabu (7/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, penerapan MBG prasmanan belum dapat dilakukan sebelum ada arahan resmi mengenai teknis pelaksanaannya. SPPG Kandangan masih menggunakan mekanisme distribusi makanan dengan ompreng seperti yang selama ini berjalan.
"Jadi masih pakai ompreng untuk distribusinya, kalaupun nanti sudah ada surat dari atasan kami langsung pakai skema prasmanan," ujar Kepala SPPG berusia 24 tahun tersebut.
Dalam skema prasmanan, MBG tidak lagi dibagikan dalam bentuk ompreng yang telah disiapkan untuk masing-masing penerima. Siswa nantinya mengambil makanan sendiri di sekolah sesuai mekanisme yang ditentukan.
Namun, perubahan mekanisme tersebut juga dinilai membutuhkan pengaturan lebih lanjut. Ia menyoroti persoalan pengawasan pengambilan porsi makanan apabila siswa mengambil nasi dan lauk secara mandiri.
"Khawatir nanti kurang pengawasan juga. Soalnya nanti kan kalau misalkan lauknya atau nasinya ada yang kurang, nanti kita harus masak lagi," katanya.
SPPG Kandangan saat ini masih menjalankan distribusi MBG menggunakan ompreng. Hafid menyebut, makanan mulai dimasak sekitar pukul 23.00 WIB dan distribusi kepada penerima manfaat dimulai sekitar pukul 07.00 WIB.
SPPG Kandangan melayani delapan lokasi sekolah serta kelompok penerima manfaat lain yang terdiri dari balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Untuk kelompok tersebut, makanan didistribusikan melalui kader yang kemudian mengumpulkan penerima manfaat.
Sementara itu, terkait penerapan skema prasmanan di SPPG lain di Surabaya, ia mengaku belum mengetahui apakah sudah terdapat dapur yang menerapkannya.
"Saya kurang tahu, sebab saya rasa semua SPPG di Surabaya saat ini masih menjalankan skema konvensional, pakai ompreng," pungkasnya.
