- Apa Itu Cerebral Palsy?
- Penyebab Cerebral Palsy
- Faktor Risiko Cerebral Palsy
- Gejala Cerebral Palsy Gangguan Gerak dan Koordinasi Bicara dan Makan Perkembangan Gejala Lain
- Penanganan Cerebral Palsy 1. Obat-obatan 2. Terapi a. Terapi Fisik dan Okupasi b. Terapi Wicara dan Bahasa c. Terapi Rekreasi 3. Operasi a. Bedah Ortopedi b. Rizotomi Dorsal Selektif 4. Perawatan Lain 5. Peran Rehabilitasi
- Komplikasi Cerebral Palsy
- Pencegahan Cerebral Palsy 1. Sebelum dan Selama Kehamilan 2. Setelah Bayi Lahir
Hari Cerebral Palsy Sedunia diperingati setiap 6 Oktober. Peringatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai cerebral palsy serta tantangan yang dapat dihadapi penyandangnya dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Melansir laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), salah satu tujuan peringatan ini adalah menumbuhkan kepedulian terhadap anak dengan cerebral palsy dan keluarganya.
Momentum ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengenali cerebral palsy, termasuk penyebab, gejala, dan penanganannya. Lantas, apa yang dimaksud dengan cerebral palsy dan bagaimana penanganan kondisi ini?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Cerebral Palsy?
Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, cerebral palsy atau lumpuh otak adalah kondisi yang memengaruhi gerakan, keseimbangan, dan postur tubuh.
Kondisi ini dapat disebabkan oleh kerusakan pada otak bayi yang sedang berkembang. Pada sebagian penyandang, cerebral palsy juga dapat mempengaruhi penglihatan, pendengaran, serta kemampuan merasakan sentuhan.
Kondisi ini dapat disebabkan oleh kerusakan pada otak bayi yang sedang berkembang, dan paling sering terjadi sebelum kelahiran. Pada sebagian penyandang, cerebral palsy juga dapat mempengaruhi penglihatan, pendengaran, serta kemampuan merasakan sentuhan.
Cerebral palsy merupakan gangguan motorik yang paling umum pada masa kanak-kanak. Sekitar 85-90 persen kasus termasuk cerebral palsy kongenital, yang berkaitan dengan gangguan pada perkembangan otak sebelum atau saat kelahiran.
Sementara itu, sebagian kecil kasus lainnya terjadi setelah lahir, yang umumnya berkaitan dengan infeksi seperti meningitis atau cedera kepala.
Penyebab Cerebral Palsy
Penyebab cerebral palsy sering kali tidak diketahui secara pasti. Namun, sejumlah kondisi dapat mengganggu perkembangan otak dan meningkatkan risiko terjadinya cerebral palsy, antara lain sebagai berikut.
- Perubahan gen yang dapat memicu kondisi genetik atau gangguan perkembangan otak.
- Infeksi pada ibu selama kehamilan yang dapat berdampak pada janin.
- Stroke pada janin yang mengganggu aliran darah ke otak yang sedang berkembang.
- Perdarahan di otak, baik saat bayi masih dalam kandungan maupun setelah lahir.
- Infeksi pada bayi yang menyebabkan peradangan di dalam atau di sekitar otak.
- Cedera kepala berat pada bayi, misalnya akibat kecelakaan lalu lintas, terjatuh, atau kekerasan fisik.
- Kekurangan oksigen ke otak, termasuk yang dapat terjadi akibat komplikasi selama persalinan.
Terkait kekurangan oksigen ke otak saat persalinan, para ilmuwan kini menilai kondisi tersebut hanya menjadi penyebab sebagian kecil kasus cerebral palsy.
Faktor Risiko Cerebral Palsy
Ada sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko bayi mengalami cerebral palsy. Namun, memiliki satu atau beberapa faktor risiko tidak berarti seorang anak pasti mengalami cerebral palsy.
Pada banyak kasus, penyebab spesifik cerebral palsy juga masih belum diketahui. Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko cerebral palsy yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut.
- Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu, terutama jika lahir sebelum 32 minggu.
- Bayi dengan berat lahir kurang dari 2,5 kilogram, dan semakin tinggi pada bayi dengan berat kurang dari 1,5 kilogram.
- Kehamilan kembar, baik dua, tiga, maupun lebih, terutama jika salah satu bayi meninggal sebelum atau tidak lama setelah lahir.
- Perbedaan golongan darah antara ibu dan bayi, termasuk faktor Rh, dapat menyebabkan penyakit kuning berat pada bayi. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi kernikterus yang menyebabkan kerusakan otak dan berpotensi memicu cerebral palsy.
- Posisi bayi sungsang saat persalinan, di mana pantat atau kaki bayi berada di posisi bawah sehingga keluar lebih dulu saat persalinan.
- Paparan alkohol, rokok, dan narkoba selama kehamilan.
Gejala Cerebral Palsy
Gejala cerebral palsy umumnya mulai terlihat pada masa bayi atau usia prasekolah dan dapat berbeda pada setiap orang. Pada sebagian penyandang, cerebral palsy mempengaruhi seluruh tubuh, sementara pada yang lain dampaknya hanya terjadi pada satu atau dua anggota gerak maupun satu sisi tubuh.
Salah satu tanda utama yang perlu dicermati adalah keterlambatan dalam mencapai tahapan perkembangan motorik, seperti berguling, duduk, berdiri, atau berjalan. Selain itu, gejala cerebral palsy dapat terlihat dari beberapa aspek berikut.
Gangguan Gerak dan Koordinasi
- Otot kaku disertai refleks berlebihan (spastisitas). Mayo Clinic menyebutnya gangguan gerak yang paling umum pada cerebral palsy, tipe spastik dialami sekitar 80 persen penyandang cerebral palsy.
- Tonus otot yang tidak normal, bisa terlalu kaku atau terlalu lemas.
- Otot kaku tanpa refleks berlebihan (rigiditas).
- Gangguan keseimbangan dan koordinasi (ataksia).
- Gerakan menyentak di luar kendali (tremor) serta gerakan lambat yang menggeliat.
- Kecenderungan memakai satu sisi tubuh, misalnya meraih dengan satu tangan atau menyeret satu kaki saat merangkak.
- Cara berjalan yang tidak biasa, seperti berjinjit, berjongkok, lutut menyilang seperti gunting, kaki terbuka lebar, atau langkah yang tidak mantap.
- Kesulitan pada keterampilan motorik halus, seperti mengancingkan baju atau memungut peralatan.
Bicara dan Makan
- Keterlambatan perkembangan bicara dan kesulitan berbicara.
- Kesulitan mengisap, mengunyah, atau makan.
- Air liur berlebihan atau gangguan menelan.
Perkembangan
- Keterlambatan mencapai tonggak gerak, seperti duduk atau merangkak.
- Kesulitan belajar.
- Disabilitas intelektual.
- Pertumbuhan yang lebih lambat sehingga tubuh lebih kecil dibanding anak seusianya.
Gejala Lain
- Kejang (epilepsi).
- Gangguan pendengaran.
- Gangguan penglihatan dan gerakan mata yang tidak normal.
- Gangguan merasakan sentuhan atau nyeri.
- Masalah kandung kemih dan usus, termasuk sembelit dan inkontinensia urine. Kajian klinis juga menunjukkan anak dengan cerebral palsy lebih rentan mengalami batu saluran kemih.
- Gangguan emosi dan masalah perilaku.
Melansir laman Kemenkes, cerebral palsy bukan merupakan kondisi yang progresif. Artinya, kerusakan otak yang menyebabkan cerebral palsy tidak bertambah seiring waktu sehingga kondisi dasarnya tidak semakin memburuk.
Meski demikian, gejala dan tingkat gangguan yang dialami setiap penyandang dapat berbeda-beda. Penanganan tetap diperlukan untuk membantu mengelola gejala, mencegah komplikasi, serta mendukung kemampuan dan kualitas hidup penyandang cerebral palsy.
Penanganan Cerebral Palsy
Belum ada obat yang dapat menyembuhkan cerebral palsy. Namun, berbagai penanganan dapat membantu meningkatkan kemampuan dan fungsi sehari-hari. Jenis penanganan disesuaikan dengan gejala, kebutuhan, dan kondisi masing-masing penyandang, serta dapat berubah seiring pertumbuhan.
Penyandang cerebral palsy mungkin membutuhkan perawatan jangka panjang yang melibatkan sejumlah tenaga kesehatan, seperti dokter anak, dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, dokter spesialis saraf anak, terapis, hingga tenaga kesehatan mental. Berikut beberapa pilihan penanganan yang dapat diberikan.
1. Obat-obatan
Obat dapat digunakan untuk mengurangi kekakuan atau ketegangan otot, meredakan nyeri, serta menangani komplikasi yang berkaitan dengan spastisitas. Berikut obat-obatan yang biasa digunakan untuk penanganan penyandang cerebral palsy.
- Suntikan ke otot atau saraf.
- Obat pelemas otot.
- Obat untuk mengurangi air liur.
2. Terapi
Terapi disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penyandang cerebral palsy, dan dapat membantu meningkatkan kemampuan bergerak, berkomunikasi, hingga melakukan aktivitas sehari-hari. Di antaranya sebagai berikut.
a. Terapi Fisik dan Okupasi
Latihan dapat membantu meningkatkan kekuatan, kelenturan, keseimbangan, dan mobilitas. Terapis juga dapat memberikan panduan kepada orang tua mengenai perawatan anak di rumah, misalnya memandikan dan menyuapi.
Pada 1-2 tahun pertama, terapi fisik dan okupasi melatih kontrol kepala dan badan, berguling, serta menggenggam. Keduanya juga terlibat dalam penilaian kebutuhan kursi roda. Penyangga (brace), bidai, atau alat bantu lain dapat disarankan untuk memperbaiki cara berjalan dan meregangkan otot yang kaku.
b. Terapi Wicara dan Bahasa
Terapis membantu anak berbicara lebih jelas atau berkomunikasi dengan bahasa isyarat, mengajarkan alat bantu komunikasi seperti komputer dan alat pembangkit suara, serta mengatasi kesulitan makan dan menelan.
c. Terapi Rekreasi
Aktivitas fisik atau olahraga yang disesuaikan dengan kemampuan dapat membantu keterampilan motorik dan kesejahteraan emosional penyandang. Contohnya, antara lain terapi berkuda dan olahraga adaptif.
3. Operasi
Pembedahan dapat menjadi pilihan pada kondisi tertentu, terutama untuk mengurangi kekakuan otot atau memperbaiki kelainan tulang dan sendi akibat spastisitas. Berikut beberapa operasi yang bisa dilakukan.
a. Bedah Ortopedi
Anak dengan kontraktur atau pemendekan jaringan dan kekakuan otot dapat menjalani operasi pada tulang atau sendi untuk memperbaiki lengan, tulang belakang, pinggul, atau kaki ke posisi yang benar.
b. Rizotomi Dorsal Selektif
Prosedur ini dilakukan dengan memotong sebagian serabut saraf yang mempersarafi otot tertentu untuk mengurangi spastisitas. Tindakan ini biasanya dipertimbangkan jika penanganan lain belum memberikan hasil yang cukup.
4. Perawatan Lain
Selain penanganan utama, penyandang cerebral palsy mungkin memerlukan perawatan untuk kondisi lain yang menyertai, seperti kejang, nyeri, osteoporosis, gangguan tidur, masalah kesehatan mental, kesehatan gigi dan mulut, masalah nutrisi, inkontinensia, serta gangguan penglihatan dan pendengaran.
5. Peran Rehabilitasi
Rehabilitasi medik bertujuan membantu anak dengan cerebral palsy mencapai kemampuan dan kualitas hidup yang optimal melalui kerja sama tim. Penanganannya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap anak.
Tim rehabilitasi dapat melibatkan dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, fisioterapis, terapis okupasi, terapis wicara, psikolog, dan pekerja sosial. Programnya dapat mencakup latihan fisik, terapi okupasi, terapi wicara, konseling psikologis, serta edukasi bagi anak dan keluarga.
Komplikasi Cerebral Palsy
Kelemahan dan kekakuan otot serta gangguan koordinasi dapat menyebabkan berbagai komplikasi, baik pada masa kanak-kanak maupun dewasa. Beberapa di antaranya sebagai berikut.
- Kontraktur
- Kelainan tulang belakang
- Osteoartritis
- Osteoporosis atau osteopenia
- Kesulitan komunikasi
- Masalah gigi dan mulut
- Inkontinensia
- Kejang
- Keterlambatan perkembangan
- Masalah perilaku atau emosional
Pencegahan Cerebral Palsy
Cerebral palsy sering kali tidak dapat dicegah, terutama jika berkaitan dengan faktor genetik. Namun, beberapa langkah dapat dilakukan untuk membantu mengurangi risiko kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan otak pada bayi dan anak.
1. Sebelum dan Selama Kehamilan
Upaya mengurangi risiko cerebral palsy dapat dimulai sebelum dan selama kehamilan. Ibu dapat melengkapi vaksinasi, termasuk vaksin untuk mencegah rubella yang dapat menyebabkan infeksi dan mengganggu perkembangan otak janin.
Pemeriksaan kehamilan secara rutin juga penting untuk memantau kondisi ibu dan janin, serta membantu mengurangi risiko kelahiran prematur, berat lahir rendah, dan infeksi. Selain itu, hindari alkohol, rokok, dan narkoba karena paparan zat-zat tersebut selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko cerebral palsy.
2. Setelah Bayi Lahir
Setelah bayi lahir, orang tua perlu memperhatikan kondisi kesehatan dan keselamatan anak. Salah satunya dengan memantau penyakit kuning karena kondisi yang berat dan tidak ditangani dapat menyebabkan kernikterus, yaitu kerusakan otak yang berpotensi menyebabkan cerebral palsy.
Pastikan pula setelah lahir, anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal untuk membantu melindunginya dari infeksi yang dapat menyebabkan peradangan pada otak dan selaput otak.
Selain itu, cegah cedera kepala dengan menggunakan kursi keselamatan bayi saat bepergian dengan mobil, mengenakan helm saat bersepeda, memasang pengaman di tempat yang diperlukan, serta memberikan pengawasan yang memadai.
