Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih terus mengalami erupsi. Hingga saat ini, aktivitas gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut bertahan pada status Level III (Siaga).
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru periode pengamatan Selasa (6/10/2026) pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB, tercatat ada 22 kali letusan. Beberapa letusan di antaranya disertai suara gemuruh berintensitas lemah hingga kuat.
Selain puluhan kali letusan, seismograf PGA Semeru merekam 9 kali gempa guguran, 4 kali hembusan, dan 2 kali tremor harmonik selama enam jam pengamatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gunung Semeru mengalami 22 kali letusan dalam 6 jam dengan beberapa letusan disertai suara gemuruh," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, Sigit Rian Alfian, dalam laporan tertulisnya, Selasa (6/10/2026).
Menyikapi peningkatan aktivitas ini, petugas mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, hingga jarak 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, warga juga dilarang beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar.
Petugas turut mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Wilayah berisiko meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil anak sungai Besuk Kobokan.
