Mengenal Zona Subduksi Selatan Jawa dan Risiko Gempa Jatim

Mengenal Zona Subduksi Selatan Jawa dan Risiko Gempa Jatim

Fathir Rofi - detikJatim
Senin, 05 Okt 2026 16:00 WIB
Ilustrasi jalur sesar darat di Jawa Timur.
Ilustrasi jalur sesar darat di Jawa Timur. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Jawa Timur merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang berada di jalur tektonik aktif. Pesisir selatan Jawa berhadapan langsung dengan zona subduksi, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Sunda.

Aktivitas di zona tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya gempa di selatan Jawa Timur. Sepanjang 2026, BMKG mencatat sejumlah gempa, di antaranya M 6.2 di laut tenggara Pacitan pada 6 Februari, M 5.3 di lokasi yang hampir sama pada 27 Juni, dan M 5.0 di selatan Malang pada 14 September.

Apa Itu Zona Subduksi Selatan Jawa?

Zona subduksi selatan Jawa adalah bagian dari sistem subduksi Sunda. Di zona ini, Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia (Lempeng Sunda), yang menjadi tempat Pulau Jawa berada.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara sederhana, lempeng samudra yang lebih padat bergerak masuk ke bawah lempeng benua yang lebih ringan di sepanjang zona yang membentang di lepas pantai selatan Jawa.

Proses ini berlangsung terus-menerus selama jutaan tahun dan menjadikan sistem subduksi Sunda sebagai salah satu sumber utama gempa tektonik di selatan Pulau Jawa, termasuk Jawa Timur.

ADVERTISEMENT

Bagaimana Zona Subduksi Memicu Gempa Megathrust?

Saat dua lempeng saling bergesekan, permukaannya tidak selalu bergerak dengan mulus. Pada kondisi tertentu, kedua lempeng dapat saling mengunci (locking) untuk sementara waktu.

Selama masa penguncian itu, tekanan terus terakumulasi di bidang pertemuan kedua lempeng, yang disebut interface. Ketika kuncian itu akhirnya terlepas, energi yang telah lama terakumulasi dilepaskan sekaligus dan memicu gempa bumi dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Gempa yang terjadi pada zona penunjaman ini dikenal sebagai gempa megathrust. Jika pelepasan energi terjadi di laut dangkal dan menyebabkan dasar laut bergerak secara vertikal, gempa megathrust berpotensi memicu tsunami.

Merujuk Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, setidaknya terdapat empat segmen megathrust di selatan Pulau Jawa, yakni Megathrust Selat Sunda-Banten, Megathrust Jawa Barat, Megathrust Jateng-Jatim, dan Megathrust Bali.

Mengapa Jawa Timur Rawan Gempa?

Pesisir selatan Jawa Timur pada dasarnya berhadapan langsung dengan jalur pertemuan lempeng ini. Karena itu, wilayah tersebut kerap merasakan getaran akibat aktivitas subduksi.

Gempa di zona megathrust selatan Jawa dapat memiliki magnitudo yang beragam, mulai dari kecil hingga besar. BMKG menjelaskan sebagian besar gempa yang terjadi justru berkekuatan di bawah magnitudo 5 atau kategori kecil-sedang.

Sejumlah gempa yang pernah terjadi di Jawa Timur, mulai dari gempa Tulungagung 1902, Pacitan 1937 dengan M 7.2, Lamongan 1939, dua gempa Malang pada 1958 dan 1967, hingga rangkaian gempa M 5 dan M 6 sepanjang 2026.

Artinya, kerawanan Jawa Timur bukan disebabkan satu ancaman tunggal. Wilayah ini berada di kawasan tektonik aktif, tempat tekanan di dalam kerak bumi terus terakumulasi dan dilepaskan melalui pergerakan lempeng maupun aktivitas sesar.

Wilayah Jawa Timur Waspada Gempa Megathrust dan Tsunami?

Delapan kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur berada di sekitar zona megathrust. Aktivitas di zona ini berpotensi memicu gempa kuat dan tsunami. Wilayah tersebut membentang dari barat ke timur, meliputi berikut.

  • Pacitan
  • Trenggalek
  • Tulungagung
  • Blitar
  • Malang
  • Lumajang
  • Jember
  • Banyuwangi

BPBD Jawa Timur telah memetakan 156 desa dan kelurahan di delapan kabupaten tersebut yang berisiko tinggi terdampak tsunami. Sebaran terbanyak berada di Banyuwangi dengan 47 desa, disusul Pacitan sebanyak 26 desa, dan Malang 20 desa.

Seberapa Besar Potensi Tsunami di Jawa Timur?

Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) pada 2020 pernah membagi megathrust selatan Jawa ke dalam beberapa segmen. Dalam skenario terburuk, jika dua segmen pecah bersamaan, tsunami dapat mencapai 20 meter di pesisir Jawa Barat dan 12 meter di pesisir Jawa Timur.

Di tingkat kabupaten, pemodelan BMKG menunjukkan potensi tsunami tertinggi berada di Trenggalek, mencapai 26-29 meter. Sementara itu, gelombang tercepat diperkirakan tiba di Blitar hanya dalam 20-24 menit setelah gempa terjadi.

Belajar dari Gempa dan Tsunami Banyuwangi 1994

Ancaman gempa dan tsunami di Jawa Timur bukan hal baru. Pada 2 Juni 1994, gempa bermagnitudo 7.8 mengguncang Samudra Hindia sekitar 200 kilometer di selatan Jawa Timur. Guncangannya terasa relatif lemah oleh warga di wilayah pesisir karena memiliki frekuensi rendah.

Namun, sekitar tujuh jam kemudian, tsunami setinggi 13-14 meter menerjang Pancer, Rajegwesi, Lampon, dan Grajagan di Banyuwangi. Bencana tersebut menewaskan sekitar 229 orang, melukai ratusan lainnya, dan menghancurkan lebih dari 1.300 rumah.

Peristiwa Banyuwangi 1994 kemudian banyak dipelajari dalam kajian tsunami sebagai 'tsunami earthquake', yakni gempa yang guncangannya terasa relatif lemah tetapi dapat memicu deformasi dasar laut yang besar dan menghasilkan tsunami.

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan guncangan gempa yang dirasakan di daratan tidak selalu bisa menjadi patokan untuk menilai risiko tsunami.

Apakah Setiap Gempa di Selatan Jawa Menyebabkan Tsunami?

Tidak semua gempa di selatan Jawa menyebabkan tsunami. Seperti tiga gempa yang mengguncang Pacitan dan Malang sepanjang 2026, yang dipastikan tidak berpotensi tsunami.

Tsunami umumnya berpotensi terjadi jika gempa cukup besar, dangkal, dan menyebabkan deformasi vertikal yang signifikan pada dasar laut. Karena itu, terjadinya gempa tidak otomatis berarti tsunami akan menyusul.

Namun, masyarakat di pesisir tetap perlu memahami langkah mitigasi, terutama karena jenis "tsunami earthquake" seperti yang terjadi di Banyuwangi 1994 sulit dikenali hanya dari kekuatan guncangan yang dirasakan.

Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat Pesisir Selatan Jawa Timur?

BNPB dan BMKG merekomendasikan prinsip 20-20-20 sebagai pedoman evakuasi mandiri. Jika merasakan guncangan gempa selama 20 detik atau lebih di kawasan pesisir, segera lakukan evakuasi dalam waktu 20 menit menuju tempat dengan ketinggian minimal 20 meter, tanpa perlu menunggu peringatan resmi.

BMKG bersama BPBD Jatim juga telah memasang sirine dan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) di sejumlah titik rawan di pesisir delapan kabupaten yang berisiko tsunami.

Mengenali jalur evakuasi terdekat dan titik kumpul yang aman di lingkungan masing-masing menjadi langkah sederhana, tetapi sangat penting dilakukan sebelum bencana benar-benar terjadi.

Rangkaian gempa di Pacitan dan Malang sepanjang 2026 menjadi pengingat bahwa Jawa Timur memang berada di jalur aktif ini. Namun, bukan berarti setiap getaran menandakan bencana besar sudah di depan mata.

Yang bisa dilakukan masyarakat bukan menebak kapan gempa besar datang, melainkan memastikan diri selalu siap. Kenali jalur evakuasi, pahami prinsip 20-20-20, dan jangan menunggu peringatan resmi ketika guncangan sudah terasa jelas di kawasan pesisir.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads