Hari Hewan Sedunia, Yuk Mengenal Fauna Khas Jatim

Hari Hewan Sedunia, Yuk Mengenal Fauna Khas Jatim

Maratus Sholikah - detikJatim
Minggu, 04 Okt 2026 10:15 WIB
Sekelompok Rusa timor (Cervus timorensis) mencari makan di padang savana yang menjadi habitatnya di kawasan Taman Nasional Baluran
Sekelompok rusa timor mencari makan di padang savana yang menjadi habitatnya di kawasan Taman Nasional Baluran. Foto: Dedy Istanto
Surabaya -

Hari Hewan Sedunia diperingati setiap 4 Oktober sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap keberadaan dan kelestarian satwa. Momen ini juga dapat menjadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh kekayaan fauna yang dimiliki Indonesia, termasuk Jawa Timur.

Provinsi ini memiliki beragam satwa yang hidup di berbagai ekosistem, mulai dari kawasan hutan, pegunungan, pesisir, hingga pulau-pulau kecil. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi fauna khas dan ikon daerah, sementara habitatnya memiliki peran penting bagi kelangsungan ekosistem.

Fauna Khas Jawa Timur

Sejumlah satwa berikut dikenal sebagai fauna khas Jawa Timur. Beberapa di antaranya juga menjadi satwa yang dilindungi dan dapat dijumpai di kawasan konservasi. Ada apa saja? Simak selengkapnya di bawah ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Banteng Jawa

Banteng jawa (Bos javanicus)Banteng jawa (Bos javanicus) Foto: Dok. Laman Taman Nasional Meru Betiri

Banteng Jawa (Bos javanicus) merupakan satwa asli Pulau Jawa yang memiliki tubuh besar dan kuat dengan tanduk sebagai salah satu ciri khasnya. Banteng Jantan dewasa umumnya memiliki warna tubuh hitam atau cokelat tua, sedangkan betina berwarna cokelat muda hingga merah bata.

ADVERTISEMENT

Di Jawa Timur, banteng Jawa dapat ditemukan di kawasan yang memiliki habitat hutan, savana, dan padang rumput, seperti Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Alas Purwo.

Keberadaan banteng Jawa kini menghadapi ancaman, terutama karena habitat alaminya semakin berkurang dan perburuan liar. Kondisi tersebut membuat Kawasan konservasi menjadi penting untuk menjaga kelangsungan hidup satwa ini.

Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Alas Purwo menjadi habitat banteng Jawa sekaligus kawasan konservasi yang mendukung upaya perlindungan satwa tersebut di alam.

2. Rusa Timor

Rusa timor (cervus timorensis) bersama kera ekor panjang (macaca fascicularis) mencari makan di savana Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Jumat (5/6/2020). Ditutupnya pariwisata di TN Baluran pada masa Pandemi COVID-19, berdampak pada perilaku satwa yang biasanya beraktivitas di dalam hutan saat ini mudah dijumpai di padang savana karena tidak adanya wisatawan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/pras.Rusa timor (cervus timorensis) bersama kera ekor panjang (macaca fascicularis) mencari makan di savana Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Jumat (5/6/2020). Ditutupnya pariwisata di TN Baluran pada masa Pandemi COVID-19, berdampak pada perilaku satwa yang biasanya beraktivitas di dalam hutan saat ini mudah dijumpai di padang savana karena tidak adanya wisatawan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/pras. Foto: ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA

Rusa timor (rusa timorensis) merupakan salah satu spesies rusa asli Indonesia yang juga dapat ditemukan di Jawa Timur. Rusa ini memiliki tubuh berukuran sedang dengan bulu berwarna cokelat keabu-abuan hingga cokelat kemerahan.

Ciri khas rusa jantan adalah tanduk yang kokoh dan bercabang tiga. Sebagai hewan herbivora, rusa timor memakan rumput, dedaunan, serta buah-buahan yang jatuh. Di Jawa Timur, rusa timor dapat ditemukan di habitat seperti padang rumput dan kawasan sabana, salah satunya di Taman Nasional Baluran.

Keberadaan rusa timor memiliki peran penting dalam ekosistem, terutama sebagai pemakan tumbuhan yang membantu menjaga keseimbangan vegetasi di habitatnya. Namun, populasinya menghadapi ancaman perburuan liar dan berkurangnya habitat akibat perubahan penggunaan lahan.

Karena itu, perlindungan habitat dan pengawasan terhadap perburuan menjadi bagian penting dalam upaya menjaga populasi rusa timor. Kawasan konservasi seperti taman nasional juga berperan dalam menyediakan habitat yang aman bagi satwa ini.

3. Merak Hijau

Burung merak Hijau jantan (pavo muticus) berada di Savana Sadengan, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (2/6/2023). Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) populasi merak hijau di seluruh dunia sekitar 10ribu hingga 20 ribu ekor yang hidup di alam liar, sedangkan di Indonesia kurang dari 1.000 individu saja. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/nzBurung merak Hijau jantan (pavo muticus) berada di Savana Sadengan, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (2/6/2023). Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) populasi merak hijau di seluruh dunia sekitar 10ribu hingga 20 ribu ekor yang hidup di alam liar, sedangkan di Indonesia kurang dari 1.000 individu saja. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/nz Foto: ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA

Merak hijau (Pavo muticus) merupakan salah satu fauna khas Pulau Jawa yang dikenal dengan keindahan bulunya. Warna bulu merak hijau dapat tampak berbeda ketika dilihat dari sudut tertentu.

Meski berukuran besar, burung ini mampu terbang. Makanannya antara lain biji-bijian, dedaunan muda, serangga, cacing, hingga hewan kecil seperti kadal. Habitat merak hijau meliputi hutan dan padang rumput yang menyediakan sumber makanan serta tempat berlindung.

Di Jawa Timur, merak hijau dapat ditemukan di beberapa kawasan konservasi, seperti Taman Nasional Baluran di Situbondo, Taman Nasional Alas Purwo di Banyuwangi, serta Taman Nasional Meru Betiri di Jember dan Banyuwangi.

Keberadaan merak hijau menghadapi berbagai ancaman, termasuk penurunan populasi dan gangguan terhadap habitatnya. Karena itu, kawasan konservasi berperan penting dalam mendukung perlindungan satwa ini.

4. Lutung Jawa

Pelepasliaran 2 Lutung Jawa betina di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.Pelepasliaran 2 Lutung Jawa betina di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Foto: Nur Hadi Wicaksono/detikJatim)

Lutung Jawa (trachypithecus auratus) merupakan primata asli Indonesia yang dapat ditemukan di Pulau Jawa, termasuk Jawa Timur. Lutung ini memiliki berat sekitar 7-9 kg dengan panjang tubuh mencapai 65 cm.

Lutung Jawa muda memiliki rambut berwarna oranye kejinggaan yang akan berubah menjadi lebih gelap hingga hitam seiring bertambahnya usia. Satwa ini aktif pada siang hari dan menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pepohonan. Makanannya berupa buah-buahan, dedaunan, bunga, biji-bijian, hingga serangga.

Di Jawa Timur, lutung Jawa hidup di kawasan hutan yang menyediakan pepohonan sebagai tempat mencari makan, berlindung, dan beraktivitas. Keberadaannya turut mendukung keseimbangan ekosistem hutan melalui perannya dalam rantai makanan serta membantu penyebaran biji dari buah yang dimakannya.

Namun, kelangsungan hidup lutung Jawa bergantung pada kondisi habitatnya. Kerusakan dan berkurangnya kawasan hutan akibat perubahan penggunaan lahan dapat mengancam habitat serta populasi satwa ini.

5. Elang Jawa

Elang Jawa yang diidentikkan dengan lambang burung GarudaElang Jawa yang diidentikkan dengan lambang burung Garuda Foto: Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem

Elang Jawa (nisaetus bartelsi) merupakan elang endemik Pulau Jawa yang mudah dikenali dari jambul di kepalanya. Satwa ini hidup di hutan primer, perbukitan, hingga kawasan pegunungan. Di Jawa Timur, salah satu habitatnya berada di Tahura Raden Soerjo dengan ketinggian sekitar 500-3.339 mdpl.

Dilansir Tahura Raden Soerjo, elang Jawa bergantung pada keberadaan hutan sebagai habitatnya. Sebagai predator, satwa ini berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem dengan mengontrol populasi mangsanya. Elang Jawa termasuk satwa dilindungi dan menghadapi ancaman berupa kerusakan serta berkurangnya habitat.

Fauna memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, mulai dari mengontrol populasi satwa lain, membantu penyebaran biji, hingga mendukung kelestarian hutan. Namun, keberadaan satwa liar masih menghadapi berbagai ancaman, kehilangan habitat, perburuan, perdagangan satwa, dan aktivitas manusia.

Upaya konservasi diperlukan untuk melindungi habitat sekaligus menjaga populasi satwa di alam. Hari Hewan Sedunia dapat menjadi momentum untuk mengenal lebih jauh fauna di Jawa Timur dan meningkatkan kepedulian terhadap keberadaannya.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads