Inflasi Jatim September 2026 Capai 3,33 Persen, Ini Pemicunya

Inflasi Jatim September 2026 Capai 3,33 Persen, Ini Pemicunya

Myesha Fatina - detikJatim
Sabtu, 03 Okt 2026 22:00 WIB
Ilustrasi inflasi.
Ilustrasi inflasi. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,24 persen pada September 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Sejumlah komoditas pangan menjadi pendorong kenaikan harga, terutama cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

Secara tahunan, inflasi Jawa Timur pada September 2026 mencapai 3,33 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender atau sejak awal tahun tercatat sebesar 2,07 persen.

Di Pulau Jawa, inflasi Jatim pada September 2026 diikuti oleh Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 3,18 persen, Jawa Barat 3,16 persen, serta Jawa Tengah, dan Banten yang masing-masing sebesar 3,14 persen. Adapun DKI Jakarta mencatat inflasi terendah di Pulau Jawa sebesar 2,71 persen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cabai Rawit hingga Telur Ayam Dorong Inflasi Jatim

Kenaikan harga sejumlah bahan pangan menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi Jawa Timur pada September 2026. BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil sebesar 0,21 persen.

Beberapa komoditas yang mendorong inflasi dalam kelompok tersebut, yakni cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Ketiga komoditas tersebut merupakan bahan pangan yang umum dikonsumsi masyarakat.

ADVERTISEMENT

Perubahan harganya kemudian turut mempengaruhi pergerakan indeks harga konsumen. Cabai rawit, misalnya, menjadi salah satu komoditas yang perlu diperhatikan karena harga komoditas hortikultura dapat mengalami perubahan mengikuti kondisi pasokan dan permintaan.

Sementara itu, daging ayam ras dan telur ayam ras juga merupakan bahan pangan yang banyak digunakan masyarakat sehingga perubahan harganya dapat tercermin dalam perkembangan inflasi.

Komoditas yang Menahan Inflasi

Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas, terdapat pula barang yang mengalami penurunan harga dan memberikan tekanan ke bawah terhadap inflasi. BPS mencatat emas perhiasan, cabai merah, dan ketimun sebagai komoditas yang menahan laju inflasi Jawa Timur pada September 2026.

Penurunan harga pada komoditas tersebut membuat tekanan inflasi menjadi lebih rendah dibandingkan apabila seluruh komoditas mengalami kenaikan harga.

Kondisi ini juga menunjukkan bahwa inflasi tidak berarti semua barang dan jasa mengalami kenaikan harga secara bersamaan. Dalam satu periode, terdapat komoditas yang mengalami kenaikan, sementara komoditas lainnya justru mengalami penurunan.

Inflasi Jatim September 2026 Capai 3,33 Persen Secara Tahunan

Jika dibandingkan September 2025, Indeks Harga Konsumen (IHK) Jawa Timur mengalami kenaikan yang tercermin dari inflasi tahunan 3,33 persen. Sementara itu, dari awal tahun hingga September 2026, inflasi Jawa Timur tercatat sebesar 2,07 persen. Adapun secara bulanan, inflasi September 2026 sebesar 0,24 persen.

Perkembangan inflasi di Jawa Timur tidak sama di setiap daerah. Pada September 2026, Kota Kediri mencatat inflasi bulanan tertinggi di Jawa Timur sebesar 0,41 persen. Sementara itu, inflasi bulanan terendah tercatat di Kabupaten Tulungagung, yakni sebesar 0,16 persen.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan harga di setiap wilayah tidak selalu bergerak dengan besaran yang sama. Kondisi harga komoditas dan konsumsi masyarakat di masing-masing daerah dapat mempengaruhi perubahan IHK.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads